Ulasan

Little Forest: Pulang Tak Berarti Gagal, Hanya Perlu Menemukan Diri Sendiri

Little Forest: Pulang Tak Berarti Gagal, Hanya Perlu Menemukan Diri Sendiri
Little Forest 2014 (Instagram/aznmovies)

Ada kalanya kita ingin pergi sejauh mungkin dari tempat yang membuat kita merasa gagal.

Meninggalkan kota. Menjauh dari pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Menghindari orang-orang yang terus bertanya tentang apa yang akan kita lakukan ke depannya. Kita mengira pergi adalah satu-satunya cara untuk memulai kembali.

Tapi bagaimana kalau ternyata, untuk menemukan diri sendiri, kita justru perlu pulang?

Pertanyaan itu terasa begitu kuat ketika menonton Little Forest, film Jepang yang dibintangi Ai Hashimoto sebagai Ichiko. Diadaptasi dari manga karya Daisuke Igarashi dan disutradarai Junichi Mori, film ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Little Forest: Summer & Autumn yang dirilis pada 2014 dan Little Forest: Winter & Spring yang dirilis pada 2015.

Ceritanya mengikuti Ichiko yang kembali ke kampung halamannya, Komori, setelah sebelumnya tinggal di kota. Namun, jangan berharap menemukan film dengan konflik besar, plot twist mengejutkan, atau percintaan yang membuat kita terus menebak-nebak.

Little Forest berjalan dengan sangat tenang. Terlalu tenang, bahkan mungkin membosankan bagi sebagian orang. Ichiko tinggal sendirian di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tidak ada supermarket atau minimarket yang bisa didatangi kapan saja.

Ia menanam bahan makanan sendiri, mengolah hasil panen, memasak, dan menjalani kehidupan yang sangat dekat dengan alam. Film ini bahkan menggunakan pergantian empat musim sebagai bagian penting dari perjalanan Ichiko.

Hari-harinya terlihat sederhana. Bangun, bekerja di ladang, memasak, makan, tidur, ulangi. Anehnya, justru dari kesederhanaan itulah Little Forest terasa begitu menenangkan. Film ini seperti mengajak kita berhenti sebentar dari kehidupan yang selama ini terlalu cepat.

Kita hidup di zaman ketika semuanya terasa seperti perlombaan. Setelah lulus, kita dituntut segera bekerja. Setelah bekerja, kita dituntut punya karier. Setelah itu, kita melihat orang lain membeli rumah, menikah, membuka bisnis, atau mendapatkan pencapaian yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.

Akhirnya kita mulai bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa hidupku masih begini-begini saja?” 

Ichiko juga pernah mengalami perasaan serupa. Ia pergi ke kota, tetapi tidak menemukan tempat yang benar-benar terasa seperti rumah. Pada akhirnya, ia kembali ke Komori. Bukan karena ia sudah berhasil, tetapi justru karena ia sedang mencoba memahami dirinya sendiri.

Dan menurut saya, ini adalah salah satu pesan paling menarik dari Little Forest. Pulang tidak selalu berarti mundur. Kadang-kadang, pulang adalah cara untuk mengambil napas setelah terlalu lama memaksakan diri.

Kita sering menganggap bahwa kembali ke rumah setelah gagal di kota adalah sesuatu yang memalukan. Seolah-olah keberhasilan hanya bisa dibuktikan dengan kemampuan bertahan jauh dari rumah. Padahal, siapa yang menentukan bahwa pulang berarti kalah?

Ichiko justru menemukan kembali kekuatannya melalui hal-hal yang sangat sederhana.

Ia memasak menggunakan bahan yang tersedia di sekitarnya. Ia belajar memahami kapan tanaman harus dipanen. Ia mengolah makanan agar bisa disimpan untuk musim berikutnya. Semua proses tersebut membuat kita melihat bahwa makanan yang selama ini ada begitu saja di meja ternyata membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran.

Ada sesuatu yang indah dari cara film ini memperlakukan makanan. Makanan bukan sekadar properti untuk membuat penonton lapar. Setiap masakan seperti membawa kenangan. Ada resep yang mengingatkan Ichiko pada ibunya. Ada makanan yang menghubungkannya dengan masa lalu. Ada pula proses memasak yang membuatnya memahami bagaimana kehidupan sebenarnya berjalan.

Little Forest mengajarkan sesuatu yang sederhana, bahwa hidup tidak harus selalu bergerak dengan kecepatan yang sama. Ichiko tidak sedang mengejar siapa-siapa. Ia hanya menjalani harinya. Menanam apa yang bisa ditanam. Memasak apa yang bisa dimasak. Menikmati apa yang tersedia. Dan perlahan, ia mulai memahami dirinya sendiri.

Yang menarik, film ini juga tidak menjadikan kehidupan desa sebagai sesuatu yang sepenuhnya ideal. Hidup di Komori tetap membutuhkan kerja keras. Ichiko harus menghadapi pekerjaan fisik, perubahan cuaca, hasil panen, dan kesendirian. Film ini tidak mengatakan bahwa meninggalkan kota otomatis membuat hidup menjadi lebih bahagia.

Justru di situlah letak kejujurannya. Tempat tidak selalu menjadi masalah. Cara kita menjalani kehidupanlah yang mungkin perlu diubah. Pulang juga tak selalu tanda bahwa kita gagal pergi jauh. Kadang, pulang adalah perjalanan yang membawa kita kembali kepada diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda