Ulasan

Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain

Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain
Buku Melihat Diri Sendiri karya KH. A. Mustofa Bisri (Divapress Online)

Mengoreksi kesalahan orang lain menjadi kebiasaan manusia yang ternyata sangat mudah dilakukan. Kita bisa dengan cepat menemukan kekurangan seseorang, mengomentari perilakunya, bahkan merasa diri kita lebih baik. Namun, ketika diminta melihat kekurangan sendiri, tiba-tiba semuanya menjadi jauh lebih sulit. Semut di seberang lautan jelas terlihat, namun gajah di pelupuk mata tak terlihat.

Persoalan inilah yang saya jumpai setelah selesai membaca Melihat Diri Sendiri karya KH. A. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Buku yang diterbitkan DIVA Press pada 2019 dan terdiri atas 294 halaman ini merupakan kumpulan esai reflektif yang membicarakan banyak hal, terutama mengenai keberagamaan, kehidupan sosial, politik, kebangsaan, kepemimpinan, hingga persoalan paling dekat dengan manusia, yaitu dirinya sendiri.

Buku ini bukan tipe bacaan yang selesai dibaca lalu langsung saya letakkan begitu saja. Terdapat banyak bagian yang membuat saya berhenti, membaca ulang, kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Jangan-jangan yang sedang dibicarakan Gus Mus sebenarnya saya?”

Menurut catatan dalam buku, seperti yang Gus Mus tulis di Kata Pengantar bahwa esai-esai tersebut merupakan tulisan yang pernah dikirim oleh beliau ke berbagai media dalam rentang waktu sejak menjelang runtuhnya Orde Baru. Kumpulan tulisan itu kemudian dihimpun menjadi sekitar 50-an esai yang dibagi ke dalam enam bagian.

Gus Mus menyampaikan kritik lewat buku ini dengan cara yang lembut, kadang jenaka, tetapi tetap menohok. Sebagai kiai sekaligus penyair dan budayawan, ia memiliki kemampuan memilih perumpamaan sederhana untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya rumit.

Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah esai “Melihat Diri Sendiri” yang berada di bagian akhir buku, sekitar halaman 268-273. Di dalamnya, Gus Mus menghadirkan kisah seorang tokoh alim yang sedang mendekati ajal. Banyak orang ingin menjenguk, tetapi justru seorang yang dikenal bakhil dan terlalu mencintai dunia yang dipersilakan datang.

Awalnya, si bakhil merasa bangga. Ia mengira perlakuan khusus itu menjadi tanda bahwa dirinya sebenarnya tidak seburuk anggapan orang lain. Namun, ketika bertemu sang tokoh, ia justru mendapatkan pelajaran yang sangat dalam.

Ia diminta melihat kaca jendela. Dari sana ia dapat melihat langit, awan, gunung, pepohonan, burung, dan manusia yang berlalu-lalang. Setelah itu ia diminta melihat cermin. Yang terlihat hanya wajahnya sendiri.

Dari perbedaan kaca jendela dan cermin itulah Gus Mus menyampaikan metafora yang menurut saya sangat kuat, bahwa manusia yang terlalu dipenuhi materi dan ego akhirnya hanya mampu melihat dirinya sendiri.

Dalam bagian ini terdapat kalimat yang sangat mengena, “Kau bisa melihat dunia” (hlm. 271).

Kalimat yang sederhana, tetapi maknanya luas. Kita baru bisa melihat dunia dengan lebih jernih ketika lapisan ego, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap materi mulai kita kikis dari dalam diri.

Gus Mus kemudian menegaskan bahwa kegilaan terhadap materi dapat melahirkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, bahkan sikap yang merendahkan orang lain (hlm. 271).

Saya merasa bagian ini masih sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Di tengah budaya pamer, perlombaan pencapaian, gaya hidup konsumtif, dan keinginan untuk terlihat sukses di media sosial, manusia memang mudah terjebak dalam cermin dirinya sendiri. Padahal, hidup bukan hanya soal bagaimana kita terlihat.

Pesan serupa juga muncul dalam esai “Niat” di halaman 58. Gus Mus mengingatkan bahwa nilai sebuah perbuatan sangat bergantung pada niat. Bahkan tidur pun bisa bernilai ibadah apabila diniatkan untuk memulihkan tenaga agar dapat menjalankan aktivitas dengan baik. Sebaliknya, sesuatu yang tampak baik belum tentu bernilai baik jika niat di baliknya keliru.

Saya juga tertarik dengan pembahasan Gus Mus tentang keberagamaan. Dalam esai “Sikap Keberagamaan” (hlm. 62), beliau menyoroti orang yang berusaha mencium Hajar Aswad tetapi sampai menyakiti atau mengganggu jamaah lain. Pesannya jelas, bahwa jangan sampai mengejar kesunahan justru membuat kita melakukan sesuatu yang menyakiti sesama.

Di sini saya melihat salah satu kekuatan buku ini. Gus Mus tidak sekadar berbicara tentang agama sebagai teori, tetapi menghubungkannya dengan perilaku sehari-hari. Ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa banyak simbol agama yang kita tampilkan, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia lain.

Esai “Permainan Sepak Bola” (hlm. 106) juga menarik. Gus Mus menggunakan permainan sepak bola sebagai gambaran kehidupan. Manusia berlari, berebut sesuatu, mendapatkannya, lalu suatu saat harus melepaskannya. Begitu pula harta, jabatan, dan kekuasaan.

Bagi saya, cara seperti ini membuat pemikiran Gus Mus terasa ringan. Ia tidak membawa pembaca ke ruang teori yang kaku. Ia mengambil sesuatu yang kita kenal, lalu mengajak kita menemukan pelajaran di dalamnya.

Pada bagian lain, terutama esai “Norma Pergaulan Hidup” (hlm. 123), Gus Mus juga mengkritik perilaku orang-orang yang memiliki kedudukan tetapi tidak memiliki rasa malu dan tanggung jawab. Kritik semacam ini menunjukkan bahwa buku tersebut tidak hanya berbicara mengenai kesalehan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup bersama orang lain.

Setelah membaca keseluruhan buku, saya menangkap satu benang merah yang kuat, yakni jangan terlalu sibuk membenahi dunia sebelum selesai membenahi diri sendiri.

Buku ini terasa semakin relevan bagi generasi muda masa kini. Kita hidup dalam zaman ketika seseorang bisa mengetahui kehidupan banyak orang hanya melalui layar ponsel. Kita mudah membandingkan pencapaian, mudah memberikan komentar, mudah menghakimi, dan mudah membentuk kesimpulan hanya dari potongan informasi.

Dalam situasi seperti itu, ajakan untuk “melihat diri sendiri” menjadi semakin penting. Anak muda tidak hanya membutuhkan motivasi untuk sukses, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengevaluasi diri, mengelola ego, menerima kritik, dan memahami bahwa keberhasilan tidak selalu harus dipertontonkan.

Gus Mus bahkan mengajak pembaca untuk “menggembala ego” dan mengendapkan keakuan agar manusia dapat menjadi manusia sejati. Gagasan tersebut juga menjadi salah satu inti pengenalan penerbit terhadap buku ini.

Bagi saya, kelebihan terbesar Melihat Diri Sendiri adalah kedekatan bahasanya. Gus Mus bisa membicarakan agama, politik, moral, kebangsaan, hingga kehidupan sehari-hari tanpa membuat pembaca merasa sedang membaca buku yang berat. Kritiknya terasa halus, tetapi justru karena itulah ia sering lebih lama tinggal di kepala.

Intinya, Melihat Diri Sendiri bukan hanya buku tentang introspeksi, tapi juga merupakan ajakan untuk menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih jernih dalam berpikir, lebih bijak dalam beragama, dan lebih peduli kepada sesama.

Semoga bermanfaat!

Identitas Buku

  • Judul: Melihat Diri Sendiri
  • Penulis: KH. A. Mustofa Bisri
  • Penerbit: Diva Press
  • Cetakan: I, Maret 2019
  • Tebal: 294 Halaman
  • ISBN: 978-602-391-686-3
  • Genre: Religion & Spirituality

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda