Ulasan

Majalah Trubus dan Cara Uniknya Membawa Agrikultur ke Meja Pembaca

Majalah Trubus dan Cara Uniknya Membawa Agrikultur ke Meja Pembaca
Majalah Trubus (Dok. pribadi/Chairun Nisa)

Ada masa ketika majalah bukan sekadar bacaan yang selesai setelah halaman terakhir dibuka. Bagi saya, Majalah Trubus adalah salah satunya.

Waktu kecil, di rumah ada cukup banyak majalah pertanian seperti ini. Beberapa bahkan tidak selamat dalam bentuk aslinya karena saya gunting-gunting gambarnya.

Foto bunga, buah, tanaman, atau hewan yang menurut saya menarik bisa berpindah dari halaman majalah menjadi koleksi kecil di tangan saya. Saat itu saya tentu belum memahami agribisnis, tetapi gambar-gambar tersebut sudah berhasil membuat dunia pertanian terasa dekat dan menyenangkan.

Trubus sendiri bukan majalah yang baru kemarin mengenalkan pertanian kepada pembacanya. Majalah ini pertama kali terbit pada 1 Desember 1969 dan selama puluhan tahun hadir sebagai media yang membicarakan pertanian dari berbagai sisi. Bahkan hingga peringatan ulang tahunnya yang ke-55 pada 1 Desember 2024, Trubus telah menerbitkan ratusan edisi dan dikenal sebagai salah satu media yang ikut membaca sekaligus membentuk tren di dunia pertanian.

Beberapa komoditas yang pernah menjadi sorotan Trubus bahkan kemudian ramai diminati masyarakat, seperti buah merah, virgin coconut oil (VCO), aglaonema, euphorbia, louhan, cupang, sengon, hingga jabon.

Hal yang membuat saya menyukai Trubus adalah luasnya dunia yang ditawarkan. Pertanian di dalamnya tidak berhenti pada sawah dan tanaman pangan. Pembaca dapat menemukan pembahasan mengenai berbagai jenis buah, sayuran, tanaman hias, bunga, anggrek, tanaman herbal, hingga teknik memperbanyak tanaman.

Ada pula pembahasan tentang peternakan, ayam, ikan, perikanan, perkebunan, kehutanan, pengolahan hasil pertanian, sampai peluang bisnis dan agribisnis.

Bagi orang yang senang berkebun, majalah ini bisa menjadi sumber ide. Bagi pelaku usaha, isinya dapat menjadi jendela untuk melihat komoditas yang sedang berkembang. Sementara bagi pembaca awam seperti saya dahulu, foto dan ceritanya saja sudah cukup untuk menumbuhkan rasa penasaran.

Menariknya, Trubus tidak hanya menyajikan hasil akhir. Banyak materinya memperlihatkan bagaimana sesuatu dapat dilakukan. Dari cara merawat tanaman, memperbanyak bibit, mengolah hasil pertanian, mengenali komoditas, sampai melihat peluang ekonominya. Karena itu, pertanian yang biasanya terlihat sebagai pekerjaan yang jauh dari kehidupan sehari-hari justru terasa lebih konkret. Kita tidak hanya melihat bunga yang indah, tetapi juga memahami bahwa di baliknya ada pembibitan, perawatan, teknik budidaya, pasar, dan peluang usaha.

Salah satu kekuatan Trubus menurut saya adalah kemampuannya mengubah informasi pertanian menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca. Pertanian tidak selalu dibicarakan dengan bahasa yang kaku. Tanaman dapat menjadi cerita, komoditas dapat menjadi peluang, dan sebuah inovasi kecil dapat membuka kemungkinan bisnis. Tidak mengherankan jika Trubus pernah menjadi rujukan ketika berbagai komoditas pertanian dan tanaman hias mulai menjadi tren.

Sayangnya, ada satu hal yang membuat pengalaman membaca Trubus terasa berbeda sekarang. Edisi cetaknya berhenti terbit pada akhir 2024 dan kemudian beralih ke format digital. Bagi pembaca yang tumbuh bersama majalah fisik, perubahan ini tentu membawa sedikit rasa kehilangan. Ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan layar: suara halaman ketika dibalik, aroma kertas, dan kebiasaan menemukan gambar menarik lalu mengguntingnya untuk disimpan.

Dari Tumpukan Majalah ke Layar Digital

Tangkapan layar Majalah Trubus E-Magz,
Tangkapan layar Majalah Trubus E-Magz,

Namun, perubahan bentuk ini juga membuka kemungkinan baru. Majalah Trubus kini beralih ke format digital melalui Trubus E-Magz.

Pembaca tetap dapat menikmati beragam artikel agribisnis, video, infografis, dan tips pertanian melalui perangkat digital. Langganan tahunannya ditawarkan seharga Rp350.000 dari harga normal Rp1.440.000.

Peralihan ke layar terasa seperti kehilangan bagi pembaca lama, tetapi bagi generasi yang sejak kecil akrab dengan gawai, justru bisa menjadi pintu masuk yang baru.

Informasi tentang tanaman, sayuran, bunga, hingga peluang agribisnis dapat ditemukan tanpa harus menunggu majalah fisik datang ke rumah.

Barangkali, dari satu artikel tentang cara menanam cabai, merawat bunga, atau memulai kebun kecil di rumah, muncul ketertarikan baru untuk benar-benar mencoba menanam. Di titik inilah digitalisasi Trubus bukan sekadar perubahan media, tetapi juga peluang untuk membuat pertanian terasa lebih dekat dengan Gen Z.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda