Ulasan

Dibalik Aksi Copet Massal, Ada "Arsip Zaman" Skena Musik Indonesia di Film Operasi Pesta Copet

Dibalik Aksi Copet Massal, Ada "Arsip Zaman" Skena Musik Indonesia di Film Operasi Pesta Copet
Poster Operasi Pesta Copet (Instagram/ Imajinari.id)

Festival musik biasanya hidup dari ingatan yang sifatnya sementara. Kita datang, bernyanyi, bertemu teman, membeli merchandise, merekam beberapa lagu lewat ponsel, lalu pulang membawa cerita yang perlahan berubah jadi kenangan. Beberapa tahun kemudian, detailnya mulai kabur. Kita mungkin masih ingat siapa yang tampil, band apa yang paling sering manggung, atau seperti apa wajah sebuah festival musik pada masa tertentu. Nah, Film Operasi Pesta Copet punya potensi untuk menyimpan semua detail itu. 

Film ini memang rilis sebagai film kriminal-komedi dengan elemen heist. Namun, semakin diperhatikan, film debut penyutradaraan Edy Khemod ini pun merekam wajah skena musik Indonesia pada era 2020-an.

Operasi Pesta Copet diproduksi Imajinari, Angin Segar, dan Boss Creator. Edy Khemod, drummer Seringai, menyutradarai sekaligus menulis film ini bersama Rino Sarjono. Di jajaran produser terdapat Ernest Prakasa, Dipa Andika, Iqbaal Ramadhan, dan James Erlangga. Film berdurasi ±113 menit ini dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, Kawai Labiba sebagai Melodi, serta Fauzan Lubis sebagai Silet.

Film yang rilis 27 Agustus 2026 ini ceritanya mengikuti Ijal. Kehidupannya berantakan setelah terkena PHK. Kondisi ekonominya makin sulit karena ibunya terlilit utang Rp15 juta. Berbagai pekerjaan serabutan dicoba bersama Adut, sahabatnya, tapi penghasilan yang didapat belum mampu menyelesaikan persoalan mereka.

Dalam keadaan terdesak, Ijal menerima ajakan Silet untuk mencopet ponsel di pasar. Pengalaman tersebut kemudian membuka pikirannya pada peluang yang lebih besar. Ketika melihat kerumunan festival musik, Ijal melihat sesuatu yang berbeda dari kebanyakan penonton. Baginya, ribuan orang yang berkumpul bisa jadi sasaran dalam operasi pencopetan massal.

Ijal kemudian mengajak Adut, Tia, dan Melodi untuk menjalankan rencana tersebut di Pestapora. Mereka membagi tugas, mempelajari situasi, dan mencoba memahami bagaimana kerumunan bekerja. Dari sinilah persoalan berkembang karena rencana yang terlihat mudah ternyata membawa mereka pada ambisi, konflik, persahabatan, dan konsekuensi dari pilihan yang sudah diambil.

Film Operasi Pesta Copet Seperti Sedang Merekam Sebuah Zaman

Edy Khemod punya latar belakang yang membuat pendekatan tersebut masuk akal. Sebagai drummer Seringai, dia memang datang dari dalam skena musik. Jadi ketika film ini memperlihatkan festival, merchandise, band, penonton, sampai cara orang berpakaian, detail-detail tersebut seperti berasal dari seseorang yang memahami lingkungan yang sedang dia rekam.

Hal ini bahkan dikerjakan dengan cukup serius. Tim wardrobe bukan hanya memikirkan pakaian karakter utama. Para figuran juga mendapat perhatian supaya dunia festival dalam film terasa hidup dan sesuai dengan semesta musik yang ingin dibangun.

Merchandise band menjadi salah satu contohnya. Kristo Immanuel terlihat memakai kaus kolaborasi Seringai x Raisa dan The Panturas. Iqbaal mengenakan merchandise The Adams dan Teenage Death Star. Kawai Labiba juga tampil dengan merchandise The Adams dan The Jansen. Pilihan seperti ini mungkin terlihat sepele ketika pertama kali ditonton, tapi bisa jadi detail yang menarik ketika film ini dilihat belasan atau puluhan tahun mendatang.

Aku suka gagasan tersebut karena film akhirnya punya fungsi yang lebih panjang daripada sekadar hiburan.

Hari ini kita melihat kaus band sebagai wardrobe. Beberapa belas tahun lagi, benda yang sama bisa jadi penanda zaman. Hari ini kita melihat Pestapora sebagai lokasi cerita. Beberapa puluh tahun lagi, film ini bisa membantu orang memahami seperti apa festival musik Indonesia pada pertengahan 2020-an.

Inilah daya tarik terbesar Operasi Pesta Copet yang mungkin luput kalau kita hanya membahas aksi pencopetannya.

Film ini memperlihatkan, skena musik bukan cuma soal musisi yang naik panggung. Ada cara orang berpakaian, merchandise yang mereka pakai, kebiasaan nongkrong, cara menikmati festival, sampai hubungan antara musik dan kepribadian anak muda. Semua itu hadir sebagai bagian dari dunia cerita.

Pestapora pun lebih dari sekadar latar. Keramaian festival menjadi ruang hidup tempat para karakter menjalankan rencana, sekaligus menjadi gambaran tentang bagaimana masyarakat menikmati musik pada masa sekarang. Menariknya lagi, film ini seperti menyatukan dua kelompok yang biasanya punya kepentingan berbeda.

Di satu sisi, ada orang-orang yang datang ke festival untuk menikmati musik. Di sisi lain, ada Ijal dan kawan-kawan yang melihat kerumunan tersebut sebagai kesempatan. Musik bagi penonton adalah hiburan. Bagi karakter film, keramaian menjadi ruang untuk mencari jalan keluar dari persoalan hidup. Di tengah dua perspektif itu, kamera Edy Khemod ikut menangkap sesuatu yang lebih luas: wajah generasi.

Makanya aku merasa Film Operasi Pesta Copet akan punya nilai yang berbeda ketika ditonton ulang pada masa depan.

Film ini memang fiksi, konfliknya dibangun untuk kebutuhan drama, dan karakter-karakternya bergerak mengikuti struktur film kriminal-komedi. Namun, latar dan detail yang digunakan membuatnya punya kualitas seperti arsip visual.

Aku bahkan membayangkan, suatu hari nanti orang bisa menonton film ini bukan cuma untuk mengikuti kisah Ijal dan teman-temannya, melainkan juga untuk melihat kembali seperti apa budaya festival musik Indonesia pada 2020-an.

Buatku, itulah alasan film ini lebih menarik ketika dibaca sebagai film tentang skena musik daripada sekadar film tentang pencopetan.

Film Operasi Pesta Copet mungkin rilis dengan judul yang terdengar seperti komedi kriminal. Namun di balik kerumunan, panggung, merchandise, dan kekacauan para pencopetnya, film ini sedang meninggalkan rekaman tentang siapa kita sebagai penonton musik hari ini.

Sobat Yoursay tertarik nonton Film Operasi Pesta Copet? 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda