Ulasan

Review Film 27 Steps of May: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Trauma

Review Film 27 Steps of May: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Trauma
27 Steps of May (IMDb)

27 Steps of May merupakan film drama Indonesia yang disutradarai Ravi L. Bharwani dan dirilis pada 2019. Film ini berpusat pada May, diperankan Raihaanun, seorang perempuan yang hidupnya berubah drastis setelah mengalami kekerasan seksual ketika masih berusia 14 tahun. Peristiwa tersebut terjadi di tengah kekacauan Kerusuhan Mei 1998 dan meninggalkan trauma yang begitu dalam hingga membuat May menarik diri dari kehidupan sosial selama bertahun-tahun. Bagi yang ingin menonton film ini dapat mengaksesnya di platform Netflix.

Kisah Luka yang Membungkam May

27 Steps of May (IMDb)
27 Steps of May (IMDb)

Selama delapan tahun, kamar menjadi satu-satunya tempat yang membuat May merasa aman. Ia menjalani hari-hari dengan pola yang nyaris selalu sama, tanpa percakapan dan interaksi dengan dunia luar. Trauma membuatnya kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupan seperti sebelumnya, termasuk mengalami kebisuan selektif. Film ini tidak menggambarkan trauma sebagai kesedihan sesaat, melainkan sebagai luka psikologis yang dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan seseorang.

Di balik kondisi May, ada sosok ayah yang juga tidak pernah benar-benar terbebas dari tragedi tersebut. Tokoh yang dimainkan Lukman Sardi hidup dengan rasa bersalah karena merasa gagal menjaga putrinya. Ia tidak mampu menghapus kejadian yang telah terjadi, sehingga kemarahan dan frustrasinya disalurkan melalui aktivitas sebagai petinju di arena bawah tanah.

Hubungan ayah dan anak ini menjadi salah satu bagian paling kuat dalam film. Mereka sebenarnya sangat dekat, tetapi kedekatan itu tidak banyak diterjemahkan melalui kata-kata. Ada kesunyian dan kecanggungan yang menggambarkan betapa beratnya trauma yang mereka tanggung bersama. Sang ayah tidak memaksa May untuk berubah. Ia memilih tetap berada di dekat putrinya dan memberikan ruang hingga May menemukan keberaniannya sendiri.

Perubahan mulai terjadi ketika muncul sebuah lubang kecil pada dinding kamar May. Lubang tersebut menghubungkan kamarnya dengan ruangan seorang pesulap yang diperankan Ario Bayu. Pertemuan mereka menjadi pengalaman baru bagi May karena untuk pertama kalinya dalam waktu lama ia kembali berhubungan dengan seseorang dari luar ruang amannya.

Menariknya, keberadaan pesulap tersebut sengaja dibuat ambigu. Penonton dapat mempertanyakannya sebagai sosok nyata ataupun representasi dari alam bawah sadar May. Namun, terlepas dari tafsir tersebut, kehadirannya berfungsi sebagai pemantik perubahan. Rasa ingin tahu, kegembiraan, dan keberanian yang selama ini terkubur perlahan muncul kembali.

Salah satu kekuatan 27 Steps of May adalah caranya menunjukkan bahwa pemulihan dari trauma tidak memiliki batas waktu yang seragam. May membutuhkan delapan tahun sebelum akhirnya mampu mengambil langkah pertama untuk kembali berhadapan dengan dunia.

Film ini juga memperlihatkan bahwa dampak kekerasan seksual tidak berhenti pada tubuh korban. Trauma dapat memengaruhi suara, rasa aman, hubungan dengan orang lain, kebebasan, bahkan cara seseorang memandang masa depannya. Karena itu, korban membutuhkan dukungan dan lingkungan yang tidak menghakimi, bukan tuntutan untuk segera melupakan apa yang telah terjadi.

Perasaan Menonton yang Tidak Nyaman

27 Steps of May (IMDb)
27 Steps of May (IMDb)

Bagi saya, menonton 27 Steps of May terasa cukup tidak nyaman. Film ini memiliki pemantik yang berkaitan dengan perkosaan sehingga pengalaman menontonnya dapat terasa berat, terutama bagi penonton yang memiliki trauma serupa. Ketidaknyamanan tersebut justru memperlihatkan bahwa film ini tidak berusaha membuat persoalan kekerasan seksual terasa ringan atau mudah dicerna.

Saya menyukai penggunaan tone warna yang terus mengalami perubahan. Visual yang semula didominasi warna gelap kemudian bergerak menuju nuansa serba putih, sebelum perlahan menghadirkan lebih banyak warna. Perubahan tersebut terasa seperti gambaran visual dari perjalanan batin May, dari kehidupan yang tertutup dan penuh luka menuju kemungkinan adanya harapan.

Chemistry antarpemain juga menjadi nilai tambah. Saya menyukai bagaimana sang ayah tetap berusaha hadir, sabar, dan tidak memaksakan kehendaknya kepada May. Akting Raihaanun, Lukman Sardi, dan Ario Bayu membuat hubungan antarkarakter terasa kuat meskipun banyak emosi justru disampaikan melalui ekspresi dan keheningan.

Menjelang akhir cerita, May berhadapan dengan dirinya sendiri dan masa lalu yang selama ini menghantuinya. Ia kemudian mengubah penampilannya, mengurai rambut, mengenakan pakaian berbeda, dan memeluk ayahnya. Kalimat bahwa kejadian tersebut bukan kesalahan sang ayah menjadi pelepasan emosional yang penting bagi keduanya.

Puncaknya adalah ketika May berani keluar melewati pintu rumah dan pagar. Langkah tersebut tampak sederhana, tetapi setelah delapan tahun hidup dalam isolasi, ia menjadi simbol kemenangan yang luar biasa. Dukungan ayah dan kehadiran pesulap memang menjadi bagian dari perjalanan tersebut, tetapi keputusan untuk kembali mengambil kendali atas hidupnya tetap berasal dari May sendiri.

Pada akhirnya, 27 Steps of May adalah film yang berbicara tentang kekerasan seksual, trauma, keluarga, dan keberanian untuk memulai kembali. Film ini mengingatkan bahwa penyembuhan bukan perlombaan. Setiap korban memiliki waktunya sendiri untuk berdamai dengan luka dan menentukan kapan mereka siap melangkah. Penilaian saya untuk film ini adalah 7,5/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda