Ulasan
Menyebalkan tapi Bikin Jatuh Cinta: Pesona Sangga dalam Pink Project
Ada novel yang membuat pembaca penasaran karena ending-nya sama sekali tidak bisa ditebak. Namun, ada pula novel yang menarik justru karena pembaca merasa sudah mengetahui ke mana cerita akan berakhir, tetapi terus dibuat keliru dalam membayangkan bagaimana perjalanan menuju akhir tersebut. Pink Project karya Retni S.B. termasuk jenis yang kedua.
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, novel setebal 264 halaman ini membawa genre roman dengan bumbu misteri, konflik emosional, humor, dan kejutan yang membuat pembacanya sulit berhenti membalik halaman. Buku ini pertama kali menarik perhatian lewat konflik antara Puti Ranin dan Sangga Lazuardi, tetapi perlahan berkembang menjadi kisah yang jauh lebih rumit daripada sekadar pertengkaran dua orang dengan kepribadian bertolak belakang.
Sinopsis Novel
Puti Ranin adalah pemilik toko buku yang tidak memiliki latar belakang khusus dalam dunia seni rupa. Ketika mengunjungi sebuah pameran lukisan, ia memberikan apresiasi berdasarkan kesan personalnya terhadap karya seorang pelukis bernama Pring. Baginya, sebuah lukisan tidak harus selalu dijelaskan dengan istilah-istilah rumit untuk dapat menyentuh perasaan seseorang.
Sayangnya, pendapat tersebut justru mengundang kritik dari Sangga Lazuardi, seorang kritikus seni yang menilai Puti seperti “katak dalam tempurung” yang sok berbicara tentang dunia seni. Bagi Puti, komentar tersebut bukan kritik biasa. Ia merasa direndahkan karena dianggap tidak memiliki kapasitas untuk mengapresiasi karya seni.
Dari sinilah hubungan Puti dan Sangga dimulai. Pertemuan keduanya nyaris selalu menghasilkan percikan emosi. Sangga pintar, sinis, menyebalkan, tetapi sekaligus memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Ia digambarkan sebagai sosok yang serba bisa: mempelajari arsitektur dan seni rupa, melukis, memiliki galeri, menjadi kritikus seni, bahkan menjalani kehidupan sebagai petani tembakau. Secara realistis, karakter tersebut memang terasa terlalu sempurna. Namun justru sisi “too good to be true”-nya menjadi salah satu daya tarik Sangga.
Puti bahkan memiliki stok umpatan khusus untuk lelaki tersebut. Sebutan “kampret” menjadi salah satu bumbu komedi yang membuat interaksi keduanya terasa ringan. Retni mampu membuat kemarahan Puti tidak berubah menjadi drama berlebihan. Dialog dan narasinya cenderung langsung menuju inti persoalan sehingga cerita terasa bergerak cepat. Namun, pusat misteri Pink Project sebenarnya bukan hanya Sangga.
Ada Pring. Sosok Pring menjadi salah satu alasan pembaca terus membuat dugaan. Pada awalnya, pembaca bisa saja mencurigai bahwa Pring hanyalah tokoh fiktif. Kemungkinan lain pun bermunculan: Pring adalah Sangga, saudara Sangga, sahabat Sangga, atau seseorang yang memiliki hubungan masa lalu dengannya.
Menariknya, berbagai tebakan tersebut justru terus dipatahkan. Pring lebih sering hadir melalui dunia maya dan percakapan telepon, tetapi keberadaannya memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan Puti. Hubungannya dengan Sangga perlahan menjadi kepingan teka-teki yang membuat cerita semakin menarik.
Kelebihan dan Kekurangan
Di sinilah novel ini terasa seperti roller coaster. Pembaca bisa tertawa mengikuti kekesalan Puti, gemas melihat interaksinya dengan Sangga, kesal terhadap Ina, kemudian kembali dibuat penasaran oleh Pring. Ketika merasa sudah memahami hubungan para tokohnya, cerita kembali menggeser perspektif.
Yang paling menarik adalah konsep “perjalanan” dalam novel ini. Pembaca mungkin merasa telah mengetahui kesimpulannya sejak awal, tetapi perjalanan menuju kesimpulan tersebut ternyata sama sekali berbeda dari bayangan. Retni tidak mengandalkan plot yang bertele-tele. Ia justru menyusun kejutan melalui hubungan antartokoh dan informasi yang diberikan sedikit demi sedikit.
Karakter Sangga juga menjadi dilema tersendiri. Ia bisa dianggap baik karena berusaha menghadirkan seseorang yang benar-benar tulus mencintai Pring. Namun, di saat bersamaan, tindakannya dapat dianggap tega. Jika ia mengetahui bahwa Pring tidak mampu memberikan masa depan yang utuh kepada orang yang mencintainya, mengapa harus melibatkan orang lain?
Pertanyaan itulah yang membuat akhir cerita terasa emosional. Pink Project pada akhirnya bukan sekadar roman tentang perempuan yang bertemu lelaki menyebalkan tetapi menarik. Novel ini berbicara tentang cinta, pengorbanan, kehilangan, dan keputusan seseorang untuk membahagiakan orang lain meskipun konsekuensinya mungkin menyakitkan.
Dengan bahasa yang indah, metafora yang pas, dialog yang hidup, serta alur yang tidak bertele-tele, Retni S.B. berhasil membuat pembaca terus bertanya: siapa sebenarnya Pring, apa hubungan Pring dengan Sangga, dan mengapa semua jalan Puti seolah selalu kembali kepada Sangga? Mungkin pembaca bisa menebak akhir ceritanya. Tetapi seperti yang dibuktikan Pink Project, mengetahui tujuan perjalanan tidak berarti mengetahui bagaimana cara kita akan sampai ke sana.
Identitas Buku
- Judul: Pink Project
- Penulis: Retni S.B.
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tebal: 264 halaman
- ISBN: 9789792247718
- Tahun Terbit: Agustus 2009
- Genre: Roman, Metropop