Ulasan
Ngeri-Ngeri Sedap: Potret Keluarga, Tradisi, dan Pentingnya Saling Memahami
Ngeri-Ngeri Sedap merupakan film Indonesia yang memadukan unsur komedi dan drama keluarga dengan latar budaya Batak. Karya yang digarap oleh Bene Dion Rajagukguk ini menghadirkan Arswendy Beningswara Nasution, Tika Panggabean, Boris Bokir Manullang, Gita Bhebhita Butarbutar, Lolox, serta Indra Jegel sebagai pemeran utama. Film ini pertama kali hadir di layar lebar Indonesia pada 2 Juni 2022. Bagi penonton yang belum sempat menyaksikannya di bioskop, film tersebut kini juga dapat dinikmati melalui Netflix.
Alih-alih hanya mengandalkan humor, film ini menjadikan keluarga sebagai pusat cerita. Konflik yang dihadirkan terasa sederhana, tetapi perlahan berkembang menjadi persoalan emosional yang cukup dalam. Tradisi, harapan orang tua, pilihan hidup anak, hingga kesulitan mengungkapkan kasih sayang menjadi bagian penting dalam perjalanan ceritanya.
Ketika Orang Tua Menggunakan Cara yang Salah

Cerita berpusat pada pasangan Pak Domu dan Mak Domu yang tinggal bersama putri mereka, Sarma. Ketiga putra mereka, Domu, Gabe, dan Sahat, telah lama meninggalkan kampung halaman untuk menjalani kehidupan di Pulau Jawa. Jarak bukan satu-satunya alasan mereka jarang pulang. Hubungan mereka dengan Pak Domu yang keras dan sulit menerima perbedaan pandangan membuat ketiganya semakin enggan kembali ke rumah.
Keinginan untuk mengumpulkan anak-anak akhirnya membuat Pak Domu dan Mak Domu mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka menciptakan kesan bahwa rumah tangga keduanya sedang berada di ujung perpisahan. Rencana tersebut diharapkan dapat membuat ketiga anak mereka segera pulang demi menghadiri sebuah acara adat.
Taktik itu memang berhasil. Ketiga anak kembali dengan perasaan cemas karena mengira orang tua mereka benar-benar akan berpisah. Namun, kebohongan tersebut akhirnya terungkap dan justru menghasilkan persoalan baru. Anak-anak merasa kecewa karena kedatangan mereka ternyata didorong oleh sebuah rekayasa.
Setelah kebohongan terbongkar, persoalan yang lebih besar mulai muncul. Masing-masing anak ternyata memiliki luka dan kekecewaan yang selama ini tidak pernah benar-benar dibicarakan dengan sang ayah.
Domu menghadapi penolakan karena ingin menikah dengan perempuan dari latar suku yang berbeda. Gabe merasa jalan kariernya tidak memperoleh dukungan yang ia harapkan. Sementara itu, Sahat memilih kehidupan di perantauan yang membuatnya dapat membantu orang lain, sebuah keputusan yang juga sulit dipahami oleh keluarganya.
Di sisi lain, Pak Domu merupakan sosok ayah yang terbiasa menunjukkan kasih sayang melalui aturan dan tuntutan. Sikap kerasnya membuat perhatian yang sebenarnya ia miliki justru terasa seperti tekanan bagi anak-anak. Konflik tersebut menjadi semakin emosional ketika setiap anggota keluarga mulai berani menyampaikan apa yang selama ini mereka pendam.
Belajar Mendengarkan, Bukan Memaksakan Kehendak

Saya termasuk orang yang tidak terlalu sering menonton film Indonesia. Namun, Ngeri-Ngeri Sedap menjadi salah satu film yang menurut saya pantas memperoleh perhatian lebih. Saya menyukai gagasan utama serta persoalan keluarga yang diangkat karena terasa dekat dengan kehidupan banyak keluarga di Indonesia.
Salah satu hal yang membuat film ini menarik adalah hubungan antarpemain yang terasa natural. Interaksi antara anggota keluarga mampu membuat adegan lucu terasa menghibur sekaligus membuat bagian emosional menjadi lebih menyentuh. Penyelesaian konfliknya juga cukup memuaskan. Selain itu, perpaduan tone cerita dengan pemandangan berlatar kawasan Danau Toba membuat pengalaman menonton terasa semakin menyenangkan secara visual.
Hal paling berkesan bagi saya setelah menyaksikan film ini adalah pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Hubungan keluarga tidak cukup dibangun hanya dengan rasa sayang. Setiap anggota keluarga juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi.
Orang tua idealnya mampu menjadi pendengar bagi anak-anaknya. Ego, gengsi, maupun keinginan untuk selalu dianggap benar seharusnya tidak menghilangkan kesempatan untuk berdiskusi. Cara-cara manipulatif, seperti menggunakan kebohongan untuk mendapatkan sesuatu, justru dapat menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun.
Film ini juga mengingatkan bahwa anak memiliki hak untuk menentukan masa depan mereka. Pilihan pasangan, pekerjaan, maupun gaya hidup tidak selalu harus mengikuti keinginan orang tua. Ukuran keberhasilan yang ditetapkan keluarga tidak seharusnya berubah menjadi tekanan psikologis. Dukungan dan kepercayaan justru dapat menjadi bentuk kasih sayang yang jauh lebih berarti.
Kekuatan lain dari Ngeri-Ngeri Sedap terletak pada cara film ini menampilkan tradisi Batak tanpa menjadikannya sekadar latar belakang. Adat memiliki posisi penting dalam kehidupan keluarga, tetapi film ini juga mengajak penonton melihat bahwa tradisi perlu dijalankan dengan pertimbangan yang bijaksana. Nilai budaya seharusnya menjadi jembatan untuk mempererat hubungan, bukan alasan untuk mengorbankan kebahagiaan seseorang.
Pada akhirnya, keluarga Pak Domu mulai memahami bahwa mempertahankan keharmonisan bukan berarti semua orang harus memiliki keinginan yang sama. Mengakui kesalahan, berani meminta maaf, dan bersedia mendengarkan menjadi langkah penting untuk memperbaiki hubungan.
Secara keseluruhan, Ngeri-Ngeri Sedap berhasil menghadirkan komedi yang menghibur sekaligus drama keluarga yang mengandung pesan kuat. Film ini menunjukkan bahwa di balik perbedaan pendapat dan kerasnya sebuah keluarga, sering kali terdapat kasih sayang yang tidak mampu disampaikan dengan cara yang tepat. Penilaian saya untuk film ini adalah 8/10.