Ulasan
Kisah Cinta Beda Budaya yang Bikin Baper dalam Film Baby Udon
Film Indonesia kembali menghadirkan kisah cinta yang diangkat dari cerita nyata lewat Baby Udon. Film garapan Fajar Bustomi ini mempertemukan Caitlin Halderman dan Denny Sumargo sebagai Fanny dan Hajime, pasangan dengan perbedaan usia dan budaya yang cukup jauh.
Baby Udon resmi tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026 dengan durasi 115 menit. Ceritanya diadaptasi dari kisah Fanny Kondoh dan mendiang suaminya, Hajime Kondoh, yang sebelumnya dikenal publik lewat media sosial.
Dari awal, film ini sudah memberi petunjuk bahwa penonton tidak hanya akan disuguhi kisah romantis. Ada komedi, persoalan keluarga, keinginan memiliki anak, sampai perjuangan menghadapi penyakit serius. Perpindahan dari suasana ringan menuju bagian yang lebih emosional menjadi bagian penting dalam perjalanan ceritanya.
Sinopsis Baby Udon
Fanny adalah seorang karyawan restoran Marugame Udon di Semarang yang kemudian jatuh hati kepada Hajime, pria asal Jepang yang bekerja sebagai petinggi perusahaan tersebut. Hubungan mereka tidak berjalan begitu saja. Perbedaan usia, budaya, bahasa, hingga restu keluarga menjadi bagian dari perjalanan keduanya.
Fanny yang berani dan sedikit nekat membuat pendekatannya kepada Hajime dipenuhi berbagai kejadian lucu. Sementara itu, Hajime memiliki karakter yang lebih kalem dan tidak banyak menunjukkan perasaannya. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka menjadi semakin serius dan keduanya mulai membangun kehidupan bersama.
Fanny dan Hajime kemudian memiliki keinginan untuk mempunyai anak. Namun, keinginan tersebut tidak berjalan sesuai harapan ketika Fanny menghadapi masalah kesehatan yang membuatnya sulit memiliki anak.
Di tengah persoalan tersebut, Hajime juga mendapatkan kabar yang mengubah kehidupan mereka. Ia didiagnosis menderita kanker. Fanny dan Hajime kemudian harus menghadapi kenyataan baru yang jauh lebih berat dari masalah yang mereka hadapi sebelumnya.
Ulasan Baby Udon
Bagian awal Baby Udon cukup menyenangkan untuk diikuti. Fanny yang berani dan sedikit nekat membuat kisah pendekatannya dengan Hajime punya banyak momen lucu. Tingkahnya kadang bikin gemas karena Fanny seperti tidak terlalu memikirkan apakah caranya mendekati Hajime bakal berhasil atau malah membuat dirinya malu sendiri.
Perbedaan cara berkomunikasi juga dimanfaatkan dengan baik untuk menciptakan humor. Kelucuan muncul dari situasi dan karakter, bukan hanya dari dialog yang sengaja dibuat sebagai bahan lelucon. Karena itu, komedinya masih terasa sebagai bagian dari cerita, bukan sekadar selipan.
Caitlin Halderman menjadi salah satu alasan momen ini enak diikuti. Ia mampu membawa Fanny sebagai perempuan yang ekspresif dan spontan. Chemistry-nya dengan Denny Sumargo juga terlihat ketika hubungan mereka mulai berubah menjadi lebih serius.
Ada beberapa momen ketika tingkah Fanny membuatku ikut geregetan. Bukan karena karakternya menyebalkan, tetapi karena ia begitu berani mengambil langkah sementara Hajime justru lebih kalem. Perbedaan karakter keduanya membuat hubungan mereka punya dinamika yang menyenangkan untuk diikuti.
Denny Sumargo sendiri mengambil pendekatan yang berbeda sebagai Hajime. Pada adegan awal, karakternya banyak bermain dengan gestur dan komedi. Ada beberapa adegan yang membuatku seperti sedang melihat Denny dalam sketsa komedi, tetapi masih sesuai dengan suasana film.
Ketika cerita mulai masuk ke bagian yang lebih berat, Denny menunjukkan sisi lain dari Hajime. Di sini, penampilannya tidak lagi hanya mengandalkan komedi, tetapi mulai memperlihatkan sosok yang sedang menghadapi keadaan yang tidak mudah.
Masalah utama muncul ketika keinginan Fanny dan Hajime untuk memiliki anak tidak berjalan sesuai harapan. Fanny menghadapi kondisi kesehatan yang membuatnya sulit memiliki anak, sementara Hajime kemudian harus berhadapan dengan diagnosis kanker. Di titik ini, suasana film berubah cukup jauh.
Bagiku, momen emosional inilah yang membuat Baby Udon tidak berhenti sebagai kisah cinta pasangan beda budaya. Film mulai memperlihatkan bagaimana Fanny dan Hajime menghadapi kehidupan ketika rencana yang mereka buat bersama tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Yang bikin baper bukan cuma penyakit yang muncul dalam cerita, tetapi cara Fanny dan Hajime tetap berusaha menjalani kehidupan di tengah keadaan yang semakin sulit. Ada momen ketika penonton mungkin ingin mereka mendapatkan sedikit saja waktu tambahan untuk menikmati kehidupan sebagai pasangan.
Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika Fanny dan Hajime berada di rumah sakit. Adegan perpisahan tersebut menggunakan rekaman yang dibuat Fanny dan sebelumnya belum pernah dipublikasikan. Bahkan ucapan terakhir Hajime diambil dari rekaman tersebut.
Detail seperti ini membuat bagian akhir menjadi lebih dekat dengan kisah nyata yang menjadi sumber ceritanya. Penonton tidak hanya melihat dua karakter dalam film, tetapi juga mengetahui bahwa perjalanan mereka memang pernah terjadi di kehidupan nyata. Karena itu, adegan perpisahannya punya dampak emosional yang lebih besar.
Tetap ada beberapa kekurangan. Beberapa bagian komedi Denny kadang membuat sosok Hajime seperti terlalu dekat dengan persona Denny di luar film. Ada pula perbedaan gaya antara monolog Fanny yang puitis dengan percakapan Fanny dalam adegan yang lebih spontan.
Namun, kekurangan itu tidak sampai menghilangkan kekuatan ceritanya. Baby Udon lebih terasa saat memperlihatkan Fanny dan Hajime sebagai dua orang yang berusaha mempertahankan hubungan di tengah keadaan yang tidak bisa mereka kendalikan.
Film ini cocok buat penonton yang ingin menonton drama romantis dengan campuran komedi dan kisah nyata. Jangan mengira film ini bakal jadi tontonan ringan hanya dilihat dari judulnya. Ada banyak momen yang bisa membuat tersenyum, gemas, bahkan ikut baper sebelum cerita membawanya ke arah yang lebih emosional.
Setelah melihat tingkah Fanny dan Hajime, Baby Udon perlahan mengajak penonton menerima kenyataan bahwa tidak semua kisah cinta mendapatkan akhir seperti yang diinginkan.
Rating pribadi: 8,6/10