Ulasan

Review Good Will Hunting: Saat Logika Jenius Tak Cukup untuk Menyembuhkan Luka Masa Lalu

Review Good Will Hunting: Saat Logika Jenius Tak Cukup untuk Menyembuhkan Luka Masa Lalu
Good Will Hunting 1997 Movie Thumbnail Poster (IMDb)

Menonton film karya sutradara Gus Van Sant rilis tahun 1997 ini rasanya seperti ditampar kenyataan secara perlahan. Kita diajak melihat sosok pemuda 20 tahun bernama Will Hunting yang bekerja sebagai janitor di kampus mentereng MIT. Di balik kain pel dan sapu, ia menyembunyikan otak jenius matematika tingkat dewa yang sanggup membuat para profesor mengelus dada. 

Dirilis pada 1997, film ini ditulis Matt Damon dan Ben Affleck, dengan Damon sebagai Will Hunting dan Robin Williams sebagai Sean Maguire. Film berdurasi 126 menit tersebut memperoleh sembilan nominasi Oscar dan memenangkan dua, termasuk Best Supporting Actor untuk Williams dan Best Original Screenplay untuk Damon serta Affleck. Hingga September 2026, Good Will Hunting juga masih memperoleh rating 8,4/10 dari lebih dari 1,2 juta pengguna IMDb.

Will adalah pemuda 20 tahun dari South Boston yang bekerja sebagai janitor di MIT. Di balik pekerjaan itu tersembunyi kemampuan matematika luar biasa. Ia mampu memecahkan soal yang diberikan Profesor Gerald Lambeau secara anonim, seolah matematika adalah teka-teki receh yang kebetulan ditulis di papan tulis. Masalah Will ternyata bukan soal kecerdasan. Ia justru terlalu pandai untuk menyadari bahwa hidup tidak bisa diselesaikan seperti persamaan matematika.

Will tumbuh sebagai anak yatim yang mengalami kekerasan dari ayah angkatnya. Film tidak menghabiskan banyak waktu memperlihatkan masa kecil tersebut. Anehnya, justru karena itulah luka Will terasa kuat. Masa lalu hadir melalui perilakunya: ia mudah menyerang, mencurigai orang lain, menertawakan kedekatan emosional, dan pergi sebelum seseorang memiliki kesempatan untuk meninggalkannya.

Di sini teori kelekatan John Bowlby menurut saya relevan. Dalam Buku Attachment and Loss Volume I yang terbit pada 1969, Bowlby menjelaskan pentingnya hubungan awal anak dengan figur pengasuh dalam perkembangan kepribadian dan cara seseorang merespons perpisahan serta kehilangan. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan Mary Ainsworth melalui Patterns of Attachment pada 1978, termasuk penelitian mengenai perbedaan pola kelekatan dan konsep secure base.

Will dapat dibaca melalui kerangka itu. Ia menginginkan kedekatan, tetapi kedekatan sekaligus terasa seperti ancaman. Hubungannya dengan Skylar memperlihatkan paradoks tersebut. Ketika hubungan mulai serius dan kemungkinan kehilangan menjadi nyata, Will justru mendorong Skylar pergi. Logikanya begini: kalau saya pergi lebih dulu, setidaknya saya tidak perlu merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.

Kecerdasannya pun dapat menjadi benteng. Dalam psikologi, intelektualisasi merupakan mekanisme pertahanan ketika persoalan emosional ditangani melalui abstraksi dan aktivitas intelektual berlebihan. APA Dictionary of Psychology menjelaskan mekanisme ini sebagai cara menyembunyikan atau mengelola konflik emosional melalui pemikiran abstrak. 

Will adalah contoh yang menarik, ia bisa membedah teori, membaca buku, memenangkan adu argumen, bahkan membuat orang lain terlihat bodoh. Yang sulit justru mengatakan, “Saya terluka.”

Kemudian datang Sean Maguire. Sean tidak mencoba mengalahkan Will dalam permainan intelektual. Ia memilih hadir sebagai “manusia”. Ia membuka kisah tentang istrinya, kehilangan yang masih membekas, dan pengalaman hidup yang membuatnya memahami bahwa pengetahuan psikologi tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap rasa sakit. 

Dalam istilah Bowlby, hubungan semacam itu dapat dibaca sebagai penciptaan secure base, yaitu ruang relasional yang cukup aman bagi seseorang untuk menghadapi pengalaman yang selama ini ia hindari.

Lalu datang adegan yang membuat film ini sulit dilupakan. Sean mengulang kalimat, “It’s not your fault.” Sekali, dua kali, berkali-kali. Will yang biasanya selalu punya jawaban akhirnya tidak punya argumen. Ia menangis, sebab untuk pertama kalinya seseorang memisahkan dirinya dari kesalahan yang selama ini ia pikul.

Di titik itu, penyembuhan Will tidak berarti masa lalunya mendadak hilang. Trauma tidak bekerja seperti file komputer yang bisa di-delete. Yang berubah adalah cara Will memandang dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa kekerasan yang diterimanya ketika kecil bukanlah bukti bahwa dirinya pantas disakiti.

Chuckie kemudian memberi dorongan yang sama pentingnya dari arah berbeda. Sahabatnya itu tahu bahwa Will sedang membuang hidupnya di balik rutinitas Boston. Chuckie bahkan berharap suatu hari ketika ia datang menjemput, Will sudah pergi mengejar hidup yang lebih besar. Kalimat itu sangat berpengaruh sekali, kadang orang yang menyayangi kita perlu berhenti mengatakan “semoga kamu baik-baik saja” dan mulai berkata, “ayo, pergi dari sini.”

Itulah mengapa Good Will Hunting sangat relevan bagi siapa saja yang sedang berada di usia dua puluhan. Kita sering mengira keluar dari zona nyaman berarti mencari pekerjaan baru, pindah kota, atau mengejar impian. Bagi Will, langkah pertamanya adalah menerima bahwa dirinya layak dicintai.

Barangkali kedewasaan memang bukan tentang menjadi manusia yang sudah selesai. Kita membawa masa lalu ke mana-mana. Ada luka yang masih berisik, ada ketakutan yang suka menyamar sebagai logika, dan ada orang-orang yang membantu kita menyadari bahwa hidup tidak harus terus dijalani dengan cara yang sama.

Pada akhirnya, Good Will Hunting bukan cerita tentang seorang jenius yang menemukan pekerjaan terbaik. Ini cerita tentang seorang manusia yang akhirnya berani berhenti menghukum dirinya sendiri karena sesuatu yang tidak pernah menjadi kesalahannya. Dan mungkin, bagi sebagian dari kita, kalimat paling sulit untuk dipercaya memang sesederhana itu: it’s not your fault.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda