Ulasan

Di Seberang Rumah: Ketika Dua Luka Saling Menemukan Jalan untuk Pulang

Di Seberang Rumah: Ketika Dua Luka Saling Menemukan Jalan untuk Pulang
Di Seberang Rumah (Dok.Pribadi/Oktavia)

Tidak semua luka terlihat. Ada yang membuat seseorang tetap bisa tersenyum, bekerja, bahkan berbincang seperti biasa, tetapi diam-diam sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Di Seberang Rumah karya Wulanfadi membawa pembaca masuk ke wilayah tersebut melalui kisah Adit dan Mona, dua tetangga yang sama-sama menyimpan luka batin dan berusaha menemukan kembali jalan untuk pulih.

Di Seberang Rumah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2024. Dengan tebal 296 halaman, buku ini mengajarkan tentang proses penyembuhan yang terkadang bisa sangat getir. Tidak datang dalam bentuk seseorang yang menetap selamanya. Ia bisa hadir sebagai seseorang yang menemani kita sampai akhirnya mampu berdiri dengan kaki sendiri.

Sinopsis Novel

Adit adalah seorang penulis yang hidupnya berubah setelah mengalami sejumlah peristiwa traumatis hingga didiagnosis mengalami depresi dengan episode psikosis. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan membedakan realitas dan imajinasi. Ia kemudian pindah ke rumah neneknya di Sukabumi untuk menjalani proses pemulihan.

Di tempat baru itu, Adit bertemu Mona, gadis yang tinggal sendirian di seberang rumah. Orang tua Mona telah lama meninggal, sementara kakaknya harus bekerja di luar pulau. Di balik kesehariannya, Mona juga memiliki riwayat masalah kesehatan mental yang kurang lebih serupa dengan Adit.

Pertemuan keduanya kemudian berkembang menjadi hubungan yang lebih kompleks daripada sekadar kisah dua tetangga. Mereka sama-sama membawa masa lalu, trauma, hubungan toksik, dan persoalan yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Secara perlahan, mereka menjadi seseorang yang saling menemani dalam proses penyembuhan.

Salah satu bagian paling menarik dari novel ini adalah penggambaran proses Adit ketika perlahan memahami kondisinya. Pemulihan tidak digambarkan sebagai sesuatu yang terjadi dalam satu malam. Ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa dirinya memang sedang tidak baik-baik saja, belajar menerima apa yang telah terjadi, kemudian perlahan mencoba kembali menjalani hidup.

Bagi seorang penulis, salah satu simbol kebangkitannya adalah ketika Adit mulai menulis lagi. Aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari hidupnya sempat terasa begitu jauh. Karena itu, ketika ia akhirnya kembali menemukan kemampuan dan keinginan untuk menulis, momen tersebut terasa emosional. Bukan karena semua masalah tiba-tiba selesai, melainkan karena ia mulai memiliki keberanian untuk berjalan lagi.

Kelebihan dan Kekurangan

Dari kisah Adit dan Mona, pembaca juga bisa melihat bahwa menyelamatkan seseorang yang sedang mengalami persoalan kesehatan mental bukan pekerjaan satu orang. Dukungan keluarga, orang terdekat, lingkungan, dan tenaga profesional dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Novel ini setidaknya mengingatkan bahwa mengatakan “semangat” atau “kamu pasti bisa” saja tidak selalu cukup.

Menjelang akhir, ritmenya terasa melambat sehingga beberapa bagian terasa berlarut-larut. Kompleksitas persoalan yang sejak awal dibangun dengan cukup berat juga terasa seperti mendapatkan penyelesaian yang terlalu mudah. Setelah Adit dan Mona berhasil keluar dari belenggu masing-masing, kehidupan mereka seolah menjadi lebih ringan untuk memulai lembaran baru. Padahal, persoalan kesehatan mental tidak selalu bekerja sesederhana itu. Proses pulih bisa naik turun, bahkan setelah seseorang merasa sudah jauh lebih baik.

Hubungan Adit dan Mona pun terasa agak tergesa-gesa ketika memasuki fase romantis. Padahal, keduanya memiliki persoalan psikologis dan emosional yang begitu kompleks. Chemistry sebagai pasangan kekasih belum sepenuhnya terbangun kuat. Akan lebih menarik jika hubungan mereka diberi ruang untuk berkembang tanpa harus segera diarahkan menuju hubungan resmi atau pernikahan.

Justru di situlah novel ini membuka pertanyaan menarik tentang pola romance Indonesia: mengapa kisah cinta seolah harus selalu berujung pada pernikahan? Dalam situasi seperti Adit dan Mona, memberi jeda untuk memulihkan diri, memahami perasaan, dan belajar mandiri sebenarnya bisa menjadi akhir yang sama bermaknanya.

Meski demikian, Di Seberang Rumah tetap menawarkan pesan yang hangat. Pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu berarti harus hidup berdampingan secara fisik. Jarak tidak otomatis menghapus cinta, perhatian, atau kenangan. Ada orang-orang yang mungkin tidak selalu berada di sisi kita, tetapi pernah menjadi bagian penting dari proses menemukan kembali diri sendiri.

Identitas Buku

  • Judul: Di Seberang Rumah
  • Penulis: Wulanfadi
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tahun terbit: 2024
  • Tebal: 296 halaman
  • ISBN: 9786230060472
  • Genre: Romance, drama, psikologi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda