Ulasan
Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"
Ada kalanya waktu mempertemukan kita dengan seseorang di luar dugaan. Orang yang sudah lama nggak hadir dalam kehidupan tiba-tiba kembali, lalu membawa perasaan yang ternyata belum benar-benar hilang. Masalahnya, keadaan sudah berubah. Kita sudah punya kehidupan sendiri, begitu juga dengan dia. Perasaan yang awalnya sederhana pun bisa berubah menjadi rumit.
Situasi inilah yang diceritakan Raim Laode lewat lagu “Dunia yang Nanti”. Lagu ini menjadi salah satu bagian dari album Iqro dan dirilis pada 24 April 2026. Kisahnya bukan tentang dua orang yang bebas memilih untuk bersama, melainkan dua hati yang kembali bertemu ketika masing-masing sudah memiliki seseorang.
“Waktu bawa kita ke tempat tak terduga, Kau hadir kembali menyapa hidupku”
Dua baris ini menggambarkan pertemuan yang sama sekali nggak direncanakan. Seseorang dari masa lalu kembali hadir ketika kehidupan sudah berjalan ke arah berbeda. Tidak ada persiapan untuk pertemuan itu, apalagi untuk perasaan yang ikut muncul setelahnya.
Bagian ini yang paling aku suka karena terasa dekat dengan kehidupan. Ada orang yang sudah lama kita tinggalkan ceritanya, tetapi ketika bertemu lagi, rasa yang dulu pernah ada bisa saja muncul kembali. Bukan berarti kita ingin mengulang masa lalu. Kadang, waktu memang tak selalu membuat perasaan hilang begitu saja.
Masalahnya menjadi semakin rumit ketika Raim menyanyikan:
“Kau ada yang miliki, ku ada yang punyai, Juga ada rasa yang belum sempat terucap”
Di sinilah inti persoalannya. Mereka sama-sama sudah memiliki pasangan, tetapi masih menyimpan perasaan yang belum pernah disampaikan. Ada rasa yang muncul kembali, tetapi keadaan membuat mereka tak bisa begitu saja mengikutinya.
Perasaan seperti ini memang nggak mudah. Masih ada rasa suka, tetapi mereka juga sadar bahwa ada hubungan yang sedang dijalani dan harus dihargai. Karena itu, rasa yang muncul tidak selalu harus diwujudkan menjadi sebuah hubungan.
Lirik lain yang menurutku cukup dalam adalah ketika Raim mencoba menjelaskan kenapa seseorang disebut “jatuh cinta”.
“Itulah kenapa jatuh cinta dikatakan jatuh, Karena sebagaimana kita jatuh, Kita tidak punya kuasa, Pilih jatuh pada hati yang mana”
Kalimat ini sederhana, tetapi masuk akal. Ketika seseorang jatuh secara harfiah, dia tidak bisa menentukan akan jatuh ke mana. Begitu juga dengan hati ketika mulai menyukai seseorang.
Kita memang bisa menentukan dengan siapa ingin menjalani hubungan, tetapi tak selalu bisa memilih kepada siapa perasaan itu muncul. Rasa suka bisa datang kepada orang yang tepat, tetapi bisa juga muncul ketika keadaan sama sekali tidak memungkinkan.
Itulah yang membuat kisah dalam lagu ini terasa semakin rumit. Tokohnya sadar bahwa perasaan tersebut tak seharusnya berkembang lebih jauh. Mereka adalah “dua hati yang salah”, bukan karena keduanya orang jahat, tetapi karena rasa itu hadir ketika masing-masing sudah punya kehidupan sendiri.
Ada sisi yang cukup manusiawi dari cerita ini. Mengetahui seseorang yang tak bisa dimiliki bukan berarti rasa suka langsung hilang. Kita masih bisa senang melihat senyumnya, gugup ketika bertemu, atau diam-diam menyimpan rasa meskipun tahu harus menjaga jarak.
Hal itu tergambar lewat lirik:
“Mana bisa kutahan senyum sederhanamu, Karena tidak bisa kupunyai”
Bagian ini yang membuat sedih. Tak perlu ada perpisahan besar atau pertengkaran. Senyum seseorang saja sudah cukup untuk mengingatkan bahwa masih ada rasa yang belum selesai.
Setelah menyadari bahwa dirinya tak bisa memiliki orang tersebut, tokoh dalam lagu tak memilih untuk memaksakan keadaan. Ia justru mengambil jalan yang lebih sulit: merelakan sambil tetap mendoakan.
“Maka kudoakan kisah, Kita satu di dunia yang nanti”
Dua baris ini seperti menjadi jawaban dari seluruh konflik dalam lagu. Kalau mereka tak bisa bersama sekarang, tak ada usaha untuk merebut atau mengubah keadaan. Yang tersisa hanya doa tentang kemungkinan lain di masa yang belum diketahui.
“Dunia yang nanti” juga bisa dimaknai sebagai harapan untuk bersama di waktu yang berbeda. Kalau sekarang mereka tak bisa menjadi pasangan, yang bisa dilakukan hanyalah menerima keadaan dan menyimpan rasa itu sebagai sebuah doa.
Overall, “Dunia yang Nanti” bukan sekadar lagu tentang cinta yang tak kesampaian. Raim Laode bercerita tentang dua orang yang masih memiliki rasa, tapi cukup sadar untuk memahami bahwa tak semua perasaan harus berakhir dengan memiliki.