Ulasan

Jangan Tertipu Visualnya! Ini Pesan Kelam Takopi's Original Sin tentang Trauma

Jangan Tertipu Visualnya! Ini Pesan Kelam Takopi's Original Sin tentang Trauma
Takopi's Original Sin (Instagram/@atsukicaps)

Sadarilah bahwa sesuatu yang lucu, bisa saja malah menipu.

Dengan karakter berwarna merah muda, wajah menggemaskan, dan berbagai alat ajaib dari Planet Happy, Takopi's Original Sin mungkin terlihat seperti anime yang cocok untuk ditonton sambil santai.

Tapi beberapa episode kemudian, kita mungkin justru bertanya-tanya, “Ini sebenarnya aku lagi nonton anime apa?”

Karena di balik visualnya yang imut, Takopi's Original Sin menyimpan cerita yang sangat gelap tentang bullying, keluarga, kesepian, trauma, bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Dan justru karena itulah, menurut saya serial ini sangat dekat dengan Gen Z.

Cerita bermula ketika Takopi, alien dari Planet Happy, datang ke Bumi dengan satu tujuan sederhana, yaitu untuk menyebarkan kebahagiaan. Ia kemudian bertemu Shizuka, seorang anak perempuan yang hidupnya jauh dari kata bahagia.

Shizuka mengalami perundungan di sekolah dan menghadapi persoalan di keluarganya. Takopi yang tidak memahami kompleksitas kehidupan manusia akhirnya mencoba menggunakan berbagai alat ajaibnya untuk membuat Shizuka kembali tersenyum.

Masalahnya, manusia tidak sesederhana itu. Dari situlah semuanya mulai menjadi semakin rumit. Takopi punya niat baik. Ia ingin membantu. Ia ingin melihat Shizuka bahagia. Tetapi ia tidak benar-benar memahami apa yang sedang dialami Shizuka.

Bukankah ini sesuatu yang cukup familiar dalam kehidupan kita?

Kadang ketika melihat teman sedang sedih, kita langsung mengatakan, “Jangan dipikirin,” “Kamu harus move on,” atau “Semuanya pasti baik-baik saja.” Kita ingin membantu. Tetapi belum tentu kita benar-benar mendengarkan.

Takopi's Original Sin menurut saya menarik karena menunjukkan bahwa niat baik tidak otomatis menghasilkan sesuatu yang baik. Takopi terus berusaha memperbaiki keadaan dengan caranya sendiri. Ketika sesuatu berjalan salah, ia menggunakan alat dari masa lalu untuk mengubah kejadian sebelumnya.

Namun setiap perubahan justru membawa konsekuensi baru. Semakin ia berusaha memperbaiki satu masalah, semakin banyak masalah lain yang muncul. Dan ini terasa seperti metafora yang cukup kuat tentang trauma.

Kita sering berpikir bahwa kalau saja seseorang bisa kembali ke masa lalu, semuanya mungkin akan menjadi lebih baik. Kalau saja bullying itu tidak pernah terjadi. Kalau saja orang tuanya tidak bertengkar. Kalau saja seseorang mengatakan sesuatu yang berbeda. Kalau saja kita mengambil keputusan lain.

Tetapi kenyataannya, kita tidak memiliki tombol reset. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan menghapus semua hal buruk yang pernah terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar memahami apa yang sudah terjadi dan mencari cara untuk menjalani hari berikutnya.

Hal lain yang membuat Takopi's Original Sin terasa relevan bagi Gen Z adalah bagaimana serial ini memperlihatkan bahwa seseorang bisa terlihat baik-baik saja dari luar, padahal kehidupannya berantakan.

Shizuka mengingatkan kita bahwa luka seseorang tidak selalu terlihat. Mungkin karena itulah kita harus berhati-hati ketika menilai orang lain. Kita tidak pernah tahu masalah apa yang sedang dibawa seseorang ketika mereka masuk ke sekolah, tempat kerja, atau bahkan sekadar membuka media sosial.

Namun ada satu hal yang menurut saya juga penting, serial ini tidak mengajarkan bahwa kita harus menjadi 'penyelamat' bagi orang lain. Ini justru salah satu pesan yang menurut saya paling relevan untuk Gen Z.

Kita sering menggunakan istilah “I can fix him” atau “I can save her” dalam konteks hubungan maupun pertemanan. Seolah-olah kalau kita cukup mencintai seseorang, kita bisa menyembuhkan semua lukanya. Padahal tidak sesederhana itu. Kita tidak selalu mampu menyelesaikan trauma orang lain.

Dan itu bukan berarti kita gagal. Takopi sendiri belajar melalui cara yang sangat menyakitkan bahwa keinginannya untuk membuat Shizuka bahagia tidak cukup. Karena kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja oleh orang lain.

Karena itu, Takopi's Original Sin bukan tontonan yang bagi saya cocok untuk dicari sekadar karena karakternya lucu atau ceritanya sedang ramai.

Serial ini berat dan bahkan cukup menguras emosi. Tetapi justru karena itu, ceritanya meninggalkan banyak pertanyaan. Tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tentang bagaimana trauma membentuk seseorang. Tentang apakah niat baik selalu cukup.

Pada akhirnya, mungkin pelajaran terbesar dari Takopi's Original Sin bukan tentang bagaimana cara memperbaiki masa lalu. Melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan manusia yang sedang terluka.

Dan bagi saya, itulah alasan Takopi's Original Sin terasa begitu relevan bagi Gen Z, bahwa kita mungkin tidak bisa menyelamatkan semua orang, tetapi kita selalu bisa belajar untuk lebih manusiawi terhadap satu sama lain. Apakah kamu sudah menonton serial animasi yang satu ini? Bagaimana menurutmu?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda