Ulasan

Urang Bunian: Mengungkap Horor Folklore Hutan Belantara Sumatra Barat!

Urang Bunian: Mengungkap Horor Folklore Hutan Belantara Sumatra Barat!
Poster film Urang Bunian (Instagram/filmurangbunian)

Film horor Indonesia Urang Bunian, yang disutradarai oleh Rendy Herpy dan diproduksi oleh DHF Entertainment bersama RH Entertainment, dijadwalkan tayang serentak di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, termasuk jaringan XXI, CGV, dan Cinépolis, mulai 17 September 2026.

Dengan durasi 88 menit, karya ini mengangkat mitos Urang Bunian—makhluk gaib penghuni hutan yang hidup berdampingan dengan manusia menurut kepercayaan masyarakat Sumatera Barat, khususnya Ranah Minang.

Sutradara Rendy Herpy, yang berasal dari tanah Minang, melakukan riset mendalam dengan mewawancarai warga lokal untuk merangkum berbagai persepsi mengenai sosok tersebut, sehingga visualisasi dan narasi tetap dekat dengan tradisi lisan setempat.

Ketika Pantangan Mitos Adat Melahirkan Bencana Maut

Tangkapan layar adegan di film Urang Bunian (Instagram/filmurangbunian)
Tangkapan layar adegan di film Urang Bunian (Instagram/filmurangbunian)

Sinopsis film berpusat pada Teddy (Dimas Aditya), seorang prajurit yang sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman istrinya di pedalaman Sumatera Barat, bersama sahabatnya Kevin (Fauzan Nasrul). Meskipun telah diperingatkan untuk menunggu hingga pagi, keduanya nekat melanjutkan perjalanan di malam hari.

Keputusan tersebut membawa mereka memasuki wilayah terlarang yang diyakini sebagai dunia Urang Bunian. Tersesat di hutan yang seolah hidup dan mampu memutarbalikkan kenyataan, mereka harus menghadapi teror tak kasatmata sambil berjuang menemukan jalan pulang sebelum lenyap selamanya.

Pemeran pendukung meliputi Naura Hakim sebagai Nurmala, Adinda Thomas, Ruth Marini, Anton Permana, serta Pinto Janir dalam peran yang menonjol.

Dari segi penyutradaraan, Rendy Herpy berhasil membangun atmosfer yang kental dengan nuansa lokal. Pengambilan gambar di pedalaman hutan Sumatera Barat memberikan lanskap yang autentik, menampilkan keindahan alam sekaligus kesan isolasi yang memperkuat ketegangan.

Dialog berbahasa Minang dengan logat khas menambah kedalaman budaya, menjadikan film ini tidak sekadar tontonan horor, melainkan juga upaya memperkenalkan kekayaan folklor yang jarang diangkat ke layar lebar dalam satu dekade terakhir.

Produser Johansyah Jumberan menekankan keinginan menghadirkan urban legend yang berbeda dari wilayah Sumatera, dan misi tersebut tercermin dalam upaya menonjolkan panorama Sumbar sebagai elemen visual yang memikat.

Ulasan Film Urang Bunian

Tangkapan layar adegan di film Urang Bunian (Instagram/filmurangbunian)
Tangkapan layar adegan di film Urang Bunian (Instagram/filmurangbunian)

Performa para pemeran mendukung narasi dengan baik. Dimas Aditya menampilkan sisi kemanusiaan Teddy sebagai prajurit yang memiliki ikatan emosional dengan keluarga, sementara Fauzan Nasrul sebagai Kevin memberikan dinamika persahabatan yang menjadi katalis ketegangan.

Naura Hakim, yang mempelajari dialek Padang untuk peran Nurmala, menyampaikan kesan gadis desa yang penuh misteri. Keterlibatan tokoh lokal seperti Pinto Janir menambah autentisitas, terutama dalam adegan yang menuntut intensitas emosional tinggi.

Secara teknis, film mengandalkan atmosfer alam dan desain suara untuk membangun rasa takut, alih-alih mengandalkan efek visual berlebihan. Hutan digambarkan sebagai entitas yang hidup, mampu memutarbalikkan persepsi ruang dan waktu, yang menjadi kekuatan utama dalam menciptakan ketegangan psikologis. Riset mendalam yang dilakukan sutradara memastikan bahwa penggambaran Urang Bunian tidak menyimpang jauh dari persepsi masyarakat setempat, sehingga tetap terasa menghormati akar budaya.

Adegan paling menyeramkan terletak pada momen ketika Teddy dan Kevin menyadari bahwa hutan di sekeliling mereka tidak lagi beroperasi menurut hukum alam biasa.

Realitas seolah terdistorsi; suara-suara tak kasatmata, bayangan yang bergerak di antara pepohonan, dan perasaan disorientasi yang meningkat menciptakan teror yang mendalam.

Ketakutan bukan semata-mata berasal dari penampakan fisik, melainkan dari ketidakpastian apakah mereka masih berada di dunia manusia atau telah sepenuhnya memasuki ranah Urang Bunian.

Suasana malam di hutan, dipadukan dengan peringatan lokal tentang bahaya keluar saat magrib, memperbesar rasa mencekam hingga aku dan penonton yang lain merasakan kerentanan karakter secara langsung.

Di sisi lain, momen yang paling teringat selesai menonton adalah perbenturan emosi dan budaya yang melibatkan para tokoh lokal, termasuk interaksinya dengan karakter yang dimainkan Pinto Janir.

Momen tersebut tidak hanya menyajikan ketegangan, tetapi juga menyoroti benturan antara dunia modern (diwakili Teddy sebagai orang luar) dan kepercayaan tradisional Minangkabau. Adegan ini meninggalkan kesan yang kuat karena berhasil menggabungkan elemen horor dengan refleksi mengenai penghormatan terhadap mitos dan alam, sekaligus menampilkan keindahan serta misteri tanah Minang. Buatku sendiri, momen ini menjadi pengingat akan kekayaan legenda lokal yang jarang dieksplorasi dalam sinema nasional.

Secara keseluruhan, Urang Bunian merupakan kontribusi berharga bagi genre horor Indonesia yang berbasis folklor. Film ini berhasil memadukan ketegangan supernatural dengan promosi budaya dan pariwisata Sumatera Barat, sesuai tujuan sutradara untuk menunjukkan bahwa keindahan Sumbar layak dikenali lebih luas.

Meskipun durasinya relatif ringkas, padatnya atmosfer dan kedalaman riset membuat pengalaman menonton terasa utuh. Bagi penggemar horor yang menghargai narasi berbasis mitos lokal, film ini layak disaksikan di bioskop. Tayang mulai 17 September 2026, Urang Bunian menawarkan pengalaman yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang legenda Ranah Minang. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda