Ulasan
Sense and Sensibility: Kenapa Perempuan Abad 19 Cuma Fokus pada Pernikahan?
Kekinian, banyak orang menganggap pernikahan itu opsional. Namun, pernikahan menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup di abad 19, seperti yang digambarkan dalam novel Jane Austen, Sense and Sensibility.
Memang, novel ini memiliki plot utama tentang bagaimana cinta dipandang lewat sudut pandang logika dan perasaan. Lewat kacamata Elinor dan Marianne, pembaca diajak menyelami kisah cinta keduanya yang diwarnai berbagai konflik.
Di sisi lain, ada hal lain selain kisah cinta Elinor dan Marianne. Sense and Sensibility juga menyoroti beberapa isu tentang pernikahan dan kebebasan perempuan yang terbatas. Saya tertarik untuk membahas bagaimana para perempuan di novel ini begitu menggantungkan hidupnya pada laki-laki dan pernikahan.
Harta Warisan Jatuh ke Tangan Laki-laki
Ketergantungan perempuan terhadap pernikahan dalam Sense and Sensibility tidak bisa dilepaskan dari persoalan harta. Setelah Henry Dashwood meninggal, Norland justru diwariskan kepada putranya, John Dashwood. Alhasil, Mrs. Dashwood dan ketiga putrinya harus meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati.
Sebenarnya, John sempat berjanji untuk memberikan bantuan finansial pada Mrs. Dashwood. Namun, hal itu tak pernah terjadi dan Mrs. Dashwood sekeluarga hampir tak memiliki harta apa-apa lagi.
Meski berasal dari keluarga berada, Elinor dan Marianne tetap tidak memiliki kuasa yang sama atas harta keluarga. Pada akhirnya, pernikahan pun menjadi salah satu cara paling realistis bagi mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih terjamin.
Perempuan Bergantung pada Pernikahan untuk Menyelamatkan Ekonominya
Pada masa itu, kesempatan perempuan untuk memiliki penghasilan dan mengelola harta sendiri masih sangat terbatas. Karena itu, memiliki suami dengan kondisi ekonomi yang baik dapat menentukan masa depan mereka.
Hal ini terjadi pada Elinor dan Marianne. Ketika mereka harus menyelamatkan kondisi ekonomi mereka dan menghindari tekanan sosial, pernikahan menjadi jalan satu-satunya. Mereka seakan tak punya pilihan lain selain menikah untuk menopang finansial.
Pernikahan Bukan Lagi Soal Cinta
Dalam Sense and Sensibility, pernikahan memiliki landasan lain yang lebih penting dari cinta, seperti uang, status sosial, keluarga, hingga masa depan. Hal ini terlihat dari Lucy Steele yang mempertahankan hubungannya dengan Edward Ferrars meski mengetahui bahwa keluarganya mungkin tidak akan menyetujui hubungan tersebut. Baginya, pernikahan juga berkaitan dengan posisi dan masa depan yang ingin ia dapatkan.
Ada pula Charlotte Palmer yang menikah dengan Mr. Palmer meski hubungan keduanya tidak digambarkan sebagai kisah cinta yang romantis. Pernikahan justru memberinya kehidupan yang lebih aman secara sosial dan ekonomi.
Tokoh-tokoh dalam novel Sense and Sensibility, khususnya para perempuan, tidak memiliki banyak opsi dalam hidupnya. Sama halnya dengan kenyataan yang terjadi pada abad 19 yang mengaitkan dengan kebebasan perempuan yang masih terbatas kala itu. Pernikahan menjadi alat untuk mempertahankan status sosial yang sifatnya wajib untuk perempuan, bukan lagi opsi yang bisa dijawab "ya" atau "tidak".
Saat membaca novel ini, masalah terkait isu perempuan ini sebenarnya sangat tersirat. Dengan alur yang cukup lambat dan berfokus pada cinta dan pernikahan, saya justru menemukan masalah ini. Apalagi dilihat dari usia Elinor dan Marianne yang masih muda, saya rasa mereka belum mencapai waktu yang tepat untuk membicarakan cinta dan pernikahan.