Ulasan

Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik

Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
Novel Kado Terbaik karya J.S. Khairen. (Gramedia)

Panti asuhan sering dianggap sebagai tempat aman bagi anak-anak yang kehilangan orang tua. Namun, novel Kado Terbaik karya J.S. Khairen memperlihatkan sisi lain yang jarang dibicarakan. Tidak semua tempat yang mengatasnamakan kemanusiaan benar-benar memberikan perlindungan kepada anak-anak.

Kisah dalam novel ini membawa pembaca mengenal kehidupan para tokohnya lebih dekat. Berbagai keadaan yang mereka hadapi membuat cerita ini tidak hanya berkutat pada satu persoalan, tetapi juga menyentuh hal-hal yang dekat dengan kehidupan manusia.

Kisah Rizki dan Perjuangan Melawan Eksploitasi Anak

Novel Kado Terbaik karya J.S. Khairen mengisahkan Rizki, remaja berusia 14 tahun yang harus menjaga kedua adik perempuannya setelah sang ayah tewas tertembak dan ibunya pergi meninggalkan mereka. Tanpa tempat bergantung, Rizki membawa Rizka dan Khanza ke sebuah panti asuhan yang ternyata ilegal.

Alih-alih mendapat perlindungan dan pendidikan, ketiganya justru dipaksa mencari uang di jalanan. Setelah beranjak dewasa, Rizki memutuskan keluar dari panti tersebut. Ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan dan mengumpulkan uang untuk membawa kedua adiknya hidup lebih layak.

Dua tahun berlalu, tetapi kehidupan Rizki belum juga membaik. Ia masih kesulitan mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu hari, ia bertemu kembali dengan Rizka di sebuah terminal. Pertemuan itu membuatnya kembali terhubung dengan kehidupan kedua adiknya.

Tujuh hari menjelang Lebaran, Rizki kembali ke panti untuk menemui mereka. Di sana, Khanza meminta kado dan baju baru untuk hari raya. Rizki yang tidak memiliki pekerjaan tetap berusaha memenuhi keinginan sederhana itu. Namun, keadaan membuatnya terlibat dalam berbagai tindakan berbahaya, mulai dari mencopet hingga menjadi kurir barang terlarang.

Masalah semakin rumit ketika Rizka ternyata telah dibawa untuk diadopsi, sementara Rizki khawatir adiknya menjadi korban perdagangan manusia. Ia kemudian berusaha mencari keberadaan Rizka dan melindungi Khanza dari ancaman serupa. Dalam perjalanan itu, ia mendapat bantuan dari Rani dan beberapa anak jalanan yang dikenalnya.

Nasib ketiga saudara itu kemudian berubah. Rizka ditemukan bersama keluarga angkat yang menyayanginya, sedangkan Khanza berada dalam perlindungan Dinas Sosial. Rizki sendiri menghilang dan tidak lagi terlihat bersama kedua adiknya. Sementara itu, Rani kemudian mengasuh Khanza.

Review Novel Kado Terbaik

Jujur, membaca novel Kado Terbaik membuat emosiku naik turun. J.S. Khairen punya cara tersendiri untuk mengaduk perasaan, mulai dari rasa iba dan kesal sampai terharu melihat perjuangan para tokohnya. Isu eksploitasi anak jalanan yang diangkat juga disampaikan lewat cerita yang hidup, jadi aku bisa menikmati kisahnya dari awal sampai akhir tanpa merasa bosan.

Penggambaran karakter Rizki sebagai seorang kakak yang berjuang keras di sini terasa hidup dan membumi. Tokoh ini sengaja tidak dibuat seperti pahlawan super yang serba berani, melainkan remaja biasa yang punya titik lelah, rasa takut, bahkan sempat putus asa menghadapi himpitan takdir. Dialog antar tokoh di dalam buku ini juga terdengar natural, sangat pas menggambarkan bagaimana interaksi nyata kaum marjinal di sudut kota metropolitan.

Pesan moral yang dibawa novel ini berfokus pada pentingnya menumbuhkan empati terhadap realita di sekitar kita. Lewat perjuangan hidup Rizki, kita diajak untuk tidak menutup mata terhadap keberadaan anak-anak telantar yang kerap dijumpai di persimpangan jalan kota besar. Hubungan emosional yang erat antara kakak dan adik dalam buku ini menjadi pengingat yang manis tentang arti sebuah ketulusan dan pengorbanan.

Buku ini juga memberikan ruang bagi kita untuk merenungi kembali makna kebahagiaan dan rasa syukur. Di tengah dinamika kehidupan modern yang sering kali diukur lewat materi, kisah ini membuktikan kalau momen kebersamaan serta kehangatan keluarga memiliki nilai yang jauh lebih berharga. Penulis menaruh pesan-pesan kehidupan tersebut secara rapi di tiap bab, memicu perenungan bahkan setelah halaman terakhir ditutup.

Meskipun narasi utamanya terbangun kuat, aku menemukan kendala teknis pada proses penyuntingan yang agak mengurangi kenyamanan membaca. Di beberapa halaman bagian pertengahan, ditemukan kesalahan cetak berupa salah penyebutan nama karakter yang membuat pembaca harus membaca ulang kalimat untuk memastikan tokoh yang dimaksud. Beruntung, kelalaian minor ini tidak sampai merusak esensi cerita maupun kedalaman emosi yang telah dibangun.

Secara keseluruhan, Kado Terbaik adalah karya fiksi slice of life yang berbobot. Buku ini pas untuk direkomendasikan bagi siapa saja yang mencari bacaan yang bukan sekadar menghibur, tapi juga memiliki kekuatan untuk menyentuh sisi kemanusiaan sekaligus mengasah kepedulian sosial terhadap sesama di sekitar kita.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda