Ulasan
Novel Lahbako: Tanah, Tembakau, dan Kampung Halaman yang Menagih Kepulangan
Tanah bukan hanya sebagai tempat kita berpijak. Selain itu, ia juga bisa menjadi sumber penghidupan, warisan keluarga, pertarungan kepentingan, bahkan alasan seseorang mempertaruhkan harga diri. Begitulah kesan pertama yang terus melekat dalam pikiran saya setelah merampungkan novel Lahbako karya Nurillah Achmad.
Novel ini membawa saya masuk ke dua dunia yang terasa jauh sekaligus dekat, bahwa Jakarta dengan segala hiruk-pikuk dunia hukum dan Tenap, sebuah wilayah di lereng Hyang Argopuro, Jember, dengan tanah tembakau, tradisi, keluarga, dan masyarakatnya.
Secara bibliografis, Lahbako diterbitkan Elex Media Komputindo. Edisi yang tercatat dalam katalog Perpusnas memiliki 165 halaman untuk edisi elektronik 2021, sementara sejumlah katalog cetak mencatat perbedaan jumlah halaman antaredisi. Nurillah Achmad sendiri merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Jember dan pernah terpilih sebagai Emerging Writer of Ubud Writers & Readers Festival 2019.
Aram dan Dunia yang Tidak Hitam-Putih
Tokoh utama novel ini adalah Aram, seorang pengacara muda yang bekerja di Jakarta. Pada bagian awal saja, saya sudah diajak berhadapan dengan situasi yang membuat dada ikut sesak. Aram terlibat dalam praktik suap kepada Jaksa Ramli demi mengubah jerat hukum terhadap Hendri dari pengedar narkoba menjadi pemakai.
Nurillah tidak menghadirkan Aram sebagai manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Aram punya pekerjaan terhormat, tetapi berhadapan dengan praktik yang mencoreng kehormatan profesinya.
“Bekerja menukar uang dengan pasal.”
Kalimat tersebut terasa seperti cermin getir tentang bagaimana hukum dapat dipersepsikan ketika keadilan berhadapan dengan uang. Kutipan ini juga dicatat dalam ulasan pembaca yang membahas Lahbako.
Yang menarik, persoalan Aram tidak berhenti di Jakarta. Kabar tentang ibunya yang sakit di Tenap membawa dirinya kembali kepada masa lalu, kampung halaman, keluarga, dan persoalan tanah yang selama ini seperti menunggu kepulangannya.
Lahbako dan Tanah yang Punya Sejarah
Saya suka sekali dengan judul novel ini. Lahbako bukan kata yang terdengar umum bagi semua orang. Dalam novel, istilah tersebut dikaitkan dengan tanah dan tembakau. Dunia tembakau memang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dalam cerita.
Pemilihan Jember sebagai latar juga terasa tidak tempelan. Lereng Hyang Argopuro, Tenap, dan tanah tembakau memiliki hubungan langsung dengan konflik cerita. Sebuah kajian akademik tentang novel ini bahkan secara khusus membahas upaya mempertahankan lahan tembakau di lereng Hyang Argopuro.
Bagi saya, di sinilah salah satu kekuatan Lahbako. Nurillah tidak sekadar mengambil Jember sebagai nama tempat. Ia memasukkan persoalan agraria dan kehidupan masyarakat ke dalam jantung cerita.
Tanah menjadi sesuatu yang diperebutkan. Ada orang yang ingin menguasainya, ada masyarakat yang ingin mempertahankannya, dan ada keluarga yang harus menentukan apakah tanah itu akan dijual atau tetap diwariskan.
Konflik semacam ini terasa dekat dengan realitas kehidupan masyarakat agraris. Tanah bukan hanya aset ekonomi. Di dalamnya ada kenangan, identitas, sejarah keluarga, dan masa depan.
Samhadi, Cak Ra'i, dan Karakter yang Hidup
Selain Aram, saya cukup menikmati kehadiran Samhadi, si “Bandit Tenap”, serta Cak Ra'i. Karakter-karakter dalam novel ini tidak dibuat seragam. Masing-masing mempunyai sisi yang bisa membuat pembaca menyukai, membenci, atau setidaknya mempertanyakan tindakan mereka.
Samhadi, misalnya, menjadi tokoh yang menarik karena keberadaannya membawa warna tersendiri bagi konflik di Tenap. Ia bahkan mengajak Aram merampok rumah Munawar setelah persoalan penguasaan lahan semakin memanas.
Di sisi lain, novel ini juga menyentuh persoalan kekerasan seksual dan cara masyarakat memandang perempuan.
“Bisa-bisanya dia memperkosa. Dia kira selangkangan perempuan itu barang dagangan yang bisa dipakai seenaknya?”
Saya tidak menjadikan bagian ini sekadar sebagai adegan kontroversial. Justru, bagi saya, ia memperlihatkan keberanian penulis menghadirkan persoalan moral secara terbuka. Kekerasan terhadap perempuan ditempatkan sebagai persoalan kemanusiaan yang tidak bisa dianggap remeh.
Tradisi, Keluarga, dan Pertanyaan Tentang Pulang
Hal lain yang membuat saya cukup lama memikirkan novel ini adalah hubungan Aram dengan ibunya. Perbedaan pandangan antara anak dan ibu tentang tanah tembakau menjadi salah satu konflik yang terasa manusiawi. Di satu sisi ada kebutuhan ekonomi dan keinginan untuk menentukan masa depan. Di sisi lain ada ikatan emosional dengan tanah yang sudah menjadi bagian dari keluarga.
Aram pun berada di tengah-tengah persoalan itu. Ia bukan lagi sekadar pengacara muda yang hidup di Jakarta. Kepulangannya membuat berbagai persoalan lama terbuka kembali. Ia dipaksa berhadapan dengan tradisi, keluarga, masyarakat, bahkan dirinya sendiri.
Pada titik tertentu, saya merasa Lahbako sebenarnya adalah cerita tentang pulang. Pulang tidak selalu berarti kembali secara fisik ke rumah. Pulang juga bisa berarti kembali menghadapi persoalan yang selama ini kita tinggalkan.
Plot Twist yang Membuat Saya Terus Membaca
Saya termasuk pembaca yang mudah penasaran jika sebuah cerita menyimpan sesuatu. Di Lahbako, rasa penasaran itu terus dipelihara. Beberapa bagian memang terasa sedikit lambat, terutama ketika narasi dan cerita latar cukup panjang. Namun, setelah melewati bagian tersebut, konflik kembali bergerak dan menghadirkan persoalan baru.
Plot twist yang muncul menjelang bagian akhir menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Saya tidak ingin membocorkan apa yang terjadi karena justru bagian itulah yang membuat pengalaman membaca novel ini menjadi lebih nikmat.
Menariknya, kejutan tersebut bukan sekadar dibuat agar pembaca terkejut. Ia terasa sebagai sesuatu yang memang sudah dipersiapkan melalui rangkaian cerita sebelumnya.
Bahasa yang Ringan, tetapi Menyimpan Persoalan Berat
Saya juga menikmati gaya bahasa Nurillah. Novel ini tidak membuat saya merasa sedang membaca buku hukum, meskipun latar belakang penulis sebagai sarjana hukum cukup terasa dalam cara persoalan hukum dimasukkan ke dalam cerita.
Bahasanya relatif ringan dan mudah diikuti. Namun, persoalan yang dibicarakan sebenarnya berat, seperti korupsi, penyalahgunaan hukum, narkoba, konflik agraria, kekerasan seksual, tradisi, hubungan anak dan ibu, serta ketimpangan kepentingan.
Penulis juga cukup berani menggunakan banyak sudut pandang tokoh. Ini bukan pekerjaan sederhana. Kalau tidak hati-hati, pembaca bisa kehilangan arah. Tetapi dalam Lahbako, pergantian perspektif tersebut justru membantu saya melihat konflik dari sisi yang berbeda.
Salah satu detail yang menarik bagi saya adalah keberadaan Tari Lahbako. Dalam sebuah kajian terhadap novel ini, disebutkan bahwa adegan tari tersebut berkaitan dengan kegiatan memetik tembakau dan disebut sebagai berasal dari kata “Lah” dan “Bako”. Kutipan adegan itu dirujuk pada halaman 50 novel. Bagi saya, detail seperti ini membuat latar Jember terasa semakin hidup.
Mengapa Masih Relevan bagi Generasi Muda?
Anak muda mungkin tidak semuanya hidup sebagai petani atau tinggal di kawasan perkebunan tembakau. Namun, persoalan yang dibicarakan novel ini masih dekat dengan kehidupan sekarang. Bagaimana seseorang menjaga integritas ketika berhadapan dengan uang, bagaimana memilih antara kepentingan pribadi dan keluarga, bagaimana memandang tanah sebagai bagian dari identitas, serta bagaimana tradisi berhadapan dengan perubahan zaman?
Generasi muda juga bisa belajar bahwa kampung halaman tidak selalu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan demi dianggap maju. Justru dari daerah sendiri bisa lahir cerita yang kuat dan memiliki nilai sastra.
Menurut saya, itulah salah satu pesan penting dari Lahbako. Lokalitas tidak membuat sebuah cerita menjadi sempit. Sebaliknya, ketika ditulis dengan kuat, cerita lokal justru bisa berbicara tentang persoalan manusia yang universal.
Usai membaca, saya merasa Lahbako adalah novel yang berani membawa persoalan lokal ke dalam cerita yang lebih luas. Tanah tembakau di lereng Argopuro menjadi pintu masuk menuju persoalan hukum, keluarga, moral, tradisi, dan kemanusiaan.
Saya menyukai bagaimana Nurillah membangun karakter yang tidak sempurna. Saya juga menikmati kejutan-kejutan yang disimpan hingga bagian akhir. Ada bagian yang menurut saya berjalan agak lambat, tetapi secara keseluruhan hal itu tidak menghilangkan daya tarik cerita.
Identitas Buku
- Judul: Lahbako
- Penulis: Nurillah Achmad
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Cetakan: I, 2020
- Tebal: 165 Halaman
- ISBN: 978-623-00-2374-3
- Genre: Fiksi / Novel