Ulasan
Review Kaiji: Final Game, Ketika Hidup Hanya Bisa Dimenangkan Orang Kaya
Pasti kita pernah merasa kalau hidup mempermainkan kita. Kita sudah berusaha bekerja, menabung, mengatur pengeluaran, bahkan sesekali mengorbankan keinginan sendiri. Tetapi tetap saja, ada orang-orang yang seolah memulai hidup dari garis yang jauh lebih depan.
Pemikiran semacam itu terasa cukup dekat ketika saya menonton Kaiji: Final Game, film Jepang yang dirilis pada 2020 dan menjadi bagian terakhir dari trilogi live-action Kaiji. Film yang dibintangi Tatsuya Fujiwara sebagai Kaiji ini juga menghadirkan Sota Fukushi, yang belakangan kembali mencuri perhatian lewat drama Korea Can This Love Be Translated?.
Disutradarai Toya Sato, Kaiji: Final Game membawa penonton ke Jepang setelah Olimpiade Tokyo 2020. Dalam cerita film, kondisi ekonomi negara mengalami kemerosotan drastis. Orang-orang yang memiliki uang masih bisa bertahan, sementara mereka yang tidak punya cukup uang semakin mudah tersingkir.
Di tengah kondisi tersebut, Kaiji kembali menjalani hidup yang jauh dari kata ideal.
Ia masih bukan orang kaya. Pekerjaannya tidak memberikan kehidupan yang layak, dan uang yang didapatkannya terasa tidak pernah cukup untuk membuat hidup menjadi lebih mudah. Sampai akhirnya datang sebuah kesempatan berupa sebuah permainan yang menjanjikan hadiah besar.
Seperti cerita Kaiji pada umumnya, kesempatan tersebut tentu tidak datang secara cuma-cuma. Ada risiko besar yang harus dipertaruhkan. Kali ini, Kaiji harus menghadapi beberapa permainan seperti Babel Tower, Last Judgment, Dream Jump, dan Gold Janken.
Menariknya, kalau kita menghilangkan sejenak unsur ekstrem dan permainan berbahaya dalam film ini, konsep dasarnya terasa cukup familiar dengan kehidupan sekarang.
Bukankah banyak orang juga sedang mencari 'jalan keluar' dari tekanan finansial?
Kita hidup di zaman ketika biaya hidup meningkat, pekerjaan semakin kompetitif, dan media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat jauh lebih mudah daripada kenyataannya. Ada yang akhirnya mengambil pekerjaan tambahan, mengejar side hustle, mencoba investasi, dan ada pula yang mengambil keputusan berisiko karena merasa sudah tidak memiliki pilihan lain.
Di sinilah Kaiji: Final Game terasa lebih relevan daripada yang mungkin kita bayangkan.
Kaiji bukan karakter yang memiliki kehidupan sempurna. Ia bukan seseorang yang sejak awal punya modal besar, koneksi kuat, atau posisi sosial yang membuatnya mudah keluar dari masalah. Justru karena itulah perjuangannya terasa manusiawi.
Ia kalah, panik, membuat keputusan buruk, kemudian mencoba bangkit lagi.
Dan mungkin, banyak orang bisa melihat dirinya sendiri dalam karakter seperti itu. Kita sering diberi nasihat untuk bekerja lebih keras jika ingin berhasil. Tetapi film ini secara tidak langsung mengajak kita melihat persoalan dari sisi lain.
Bagaimana jika masalahnya bukan sekadar kurang bekerja keras, tetapi sistem di sekitar kita memang membuat sebagian orang harus berjuang jauh lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang sama?
Orang kaya bisa kehilangan uang dan masih memiliki aset lain. Sementara orang miskin mungkin hanya memiliki satu kesempatan untuk mengubah hidup.
Perbedaan tersebut membuat sebuah keputusan yang terlihat 'berani' bagi seseorang bisa menjadi keputusan yang sangat terpaksa bagi orang lain. Namun, film ini juga tidak kemudian mengatakan bahwa semua orang yang mengambil risiko pasti akan mendapatkan hasil yang baik.
Justru sebaliknya. Kaiji terus menunjukkan bahwa keputusan yang diambil karena keputusasaan bisa membawa seseorang masuk semakin jauh ke dalam masalah. Karena itu, film ini terasa seperti pengingat untuk tidak mudah percaya pada sesuatu yang menjanjikan hasil besar dalam waktu singkat.
Terlebih di era media sosial seperti sekarang.
Hidup tidak selalu memberikan kita pilihan yang ideal. Kadang kita hanya diberikan beberapa pilihan yang sama-sama sulit. Yang bisa dilakukan adalah memahami risikonya sebelum mengambil keputusan.
Sota Fukushi sendiri menjadi salah satu tambahan menarik dalam film ini. Ia memerankan Kosuke Takakura, salah satu karakter yang terlibat dalam konflik utama. Kehadirannya menambah warna pada jajaran pemeran film, meskipun pusat cerita tetap berada pada perjuangan Kaiji.
Menurut saya, film ini punya sesuatu yang membuatnya layak ditonton. Bukan hanya karena permainan ekstremnya. Bukan pula semata-mata karena Sota Fukushi. Melainkan karena setelah semua teriakan, ketegangan, uang, dan perjudian itu selesai, kita bisa menemukan pertanyaan yang cukup sederhana:
Kalau hidup sedang tidak berpihak kepada kita, seberapa jauh kita bersedia mempertaruhkan diri untuk mendapatkan kesempatan kedua?
Karena itu, mungkin yang paling penting bukan bagaimana caranya memenangkan permainan orang lain, tetapi bagaimana kita menentukan permainan seperti apa yang sebenarnya ingin kita jalani.