Ulasan

After The Storm: Bahagia Tak Harus Menunggu Semua Impian Menjadi Kenyataan

After The Storm: Bahagia Tak Harus Menunggu Semua Impian Menjadi Kenyataan
After The Storm (Instagram/_fat.batman_)

Pernahkah kita merasa tertinggal ketika melihat orang-orang seusia kita sudah berhasil mencapai berbagai hal, sementara kehidupan sendiri justru terasa berjalan di tempat?

Kita mulai mempertanyakan keputusan masa lalu, menyesali kesempatan yang terlewat, dan membayangkan kehidupan seperti apa yang mungkin kita miliki jika dahulu mengambil jalan berbeda. Perasaan semacam inilah yang menjadi inti dari After the Storm (2016), film Jepang karya Hirokazu Kore-eda yang menyajikan potret kehidupan keluarga dengan cara sederhana, tetapi begitu dekat dengan kenyataan.

Film ini mengikuti kehidupan Ryota Shinoda (Hiroshi Abe), seorang mantan penulis yang pernah memenangkan penghargaan melalui karya novelnya. Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak pernah benar-benar berlanjut. Kini, ia bekerja sebagai detektif swasta dengan penghasilan yang tidak menentu.

Bukannya memperbaiki keadaan, Ryota justru sering menghabiskan uangnya untuk berjudi hingga kesulitan memenuhi kewajiban memberikan nafkah kepada anaknya. Ryota telah bercerai dari Kyoko (Yoko Maki) dan hanya bisa bertemu putranya, Shingo (Taiyo Yoshizawa), sesekali.

Sementara itu, ibunya, Yoshiko (Kirin Kiki), menjalani kehidupan sendiri setelah suaminya meninggal dunia. Ketika Ryota mulai menyadari bahwa mantan istrinya sedang membangun kehidupan baru bersama orang lain, ia merasa semakin takut kehilangan tempat dalam kehidupan anaknya.

Pertemuan keluarga kecil ini menjadi semakin menarik ketika mereka harus menghabiskan satu malam bersama di apartemen Yoshiko akibat badai topan yang melanda. Malam yang awalnya hanya menjadi kesempatan untuk berlindung dari cuaca buruk perlahan berubah menjadi ruang bagi mereka untuk menghadapi berbagai persoalan yang selama ini belum terselesaikan.

Hal yang paling saya sukai dari After the Storm adalah cara film ini menggambarkan kegagalan. Ryota bukan karakter yang mudah disukai. Ia memiliki banyak alasan untuk membenarkan tindakannya, sering mengingkari janji, dan masih terjebak dalam bayang-bayang kesuksesan masa lalu.

Ia ingin menjadi ayah yang baik, tetapi tidak benar-benar melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mewujudkannya. Karakter seperti Ryota terasa sangat manusiawi karena kita mungkin pernah mengenal seseorang yang memiliki sifat serupa, atau bahkan menemukan sedikit bagian dirinya dalam diri sendiri.

Ada orang-orang yang terlalu sibuk meratapi kehidupan yang tidak sesuai harapan hingga lupa bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki sesuatu. Film ini juga memperlihatkan bagaimana setiap anggota keluarga memiliki cara masing-masing dalam menghadapi perubahan.

Yoshiko, misalnya, terlihat lebih mampu menerima kehidupannya dibandingkan Ryota. Meski sudah kehilangan suaminya, ia tetap menjalani hari dengan berbagai kegiatan sederhana dan menikmati kebersamaan bersama teman-temannya.

Melalui karakter ini, Kore-eda memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar, melainkan kemampuan menikmati hal-hal kecil yang masih kita miliki. Hubungan Ryota dengan Shingo menjadi bagian paling emosional.

Ryota ingin menjadi sosok ayah yang dikagumi anaknya, tetapi ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kasih sayang saja tidak cukup. Seorang anak juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan tanggung jawab yang konsisten. Keinginan untuk menjadi ayah yang baik tidak akan berarti banyak jika tidak disertai tindakan nyata.

Dari segi penyutradaraan, Hirokazu Kore-eda kembali menunjukkan keahliannya dalam mengangkat dinamika keluarga. Tidak banyak konflik besar atau adegan dramatis yang sengaja dibuat untuk memancing air mata. Ceritanya justru bergerak melalui percakapan sehari-hari, makan bersama, candaan kecil, hingga pertengkaran yang terasa begitu alami.

Akting para pemain juga sangat kuat, terutama Hiroshi Abe dan Kirin Kiki yang berhasil membangun hubungan ibu dan anak dengan penuh kehangatan sekaligus ketegangan.

Meski demikian, film ini memiliki tempo yang cukup lambat. Penonton yang terbiasa dengan cerita penuh konflik dan penyelesaian dramatis mungkin akan merasa tidak banyak hal terjadi. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat film ini terasa jujur.

Pada akhirnya, After the Storm mengajarkan bahwa tidak semua orang berhasil menjadi sosok yang dahulu mereka impikan. Ada mimpi yang gagal diwujudkan, hubungan yang tidak bisa diperbaiki, dan kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali. Namun, bukan berarti kehidupan harus berhenti hanya karena semuanya tidak berjalan sesuai rencana.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda