Ulasan

Semakin Diteguk, Semakin Haus: Mengejar Dunia dalam Pareidolia

Semakin Diteguk, Semakin Haus: Mengejar Dunia dalam Pareidolia
Novel Pareidolia (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Bagaimana jika ternyata sesuatu yang dikejar dalam sebuah permainan bukanlah tujuan utama permainan itu? Bagaimana jika permainan tersebut ternyata adalah hidup, sementara yang kita kejar mati-matian hanyalah kekayaan, kesenangan, dan hal-hal yang pada akhirnya tidak kita bawa ke mana-mana?

Pertanyaan itulah yang menjadi nyawa novel terbaru Tere Liye, Pareidolia. Terbit pada Agustus 2026, novel ini hadir dengan sesuatu yang cukup berbeda dari novel-novel Tere Liye sebelumnya. Sampulnya didominasi warna hijau dengan gambar yang sekilas sederhana, tetapi ada satu detail kecil yang justru membuat penasaran: seekor lalat.

Lalat itu bukan sekadar penghias sampul. Ia menjadi bagian dari sebuah cerita tentang kekayaan, kekuasaan, kehidupan, kematian, dan permainan yang sejak awal ternyata memiliki aturan yang terus diabaikan pemainnya

Sinopsis

Seorang laki-laki tekun, baik, penuh rasa syukur, jujur, dan pekerja keras, tetapi hidup miskin sejak kecil hingga usianya lebih dari 40 tahun. Namanya Bagus. Sekeras apa pun bekerja, ia tetap miskin. Pertanyaan “mengapa saya miskin?” menjadi pertanyaan seumur hidupnya dan baru terjawab beberapa detik sebelum kematiannya.

Bagus memiliki istri bernama Gendhis yang sangat nriman dan tidak banyak menuntut. Kehidupan mereka sederhana, bahkan ketika anak ketiganya sakit parah dan membutuhkan biaya pengobatan. Dalam kondisi terdesak, Bagus terpaksa meminjam pinjaman online karena dagangannya sebagai pedagang asongan tidak laku.

Bagus kemudian tertabrak kereta api saat menyelamatkan orang asing. Setelah kejadian itu, ia mendapatkan kesempatan kedua sekaligus sebuah “layar permainan” yang hanya bisa dilihat olehnya. Di sana terdapat berbagai atribut seperti kecerdasan, kesehatan, kemampuan sosial, kerja keras, keran rezeki, hingga kapasitas kekayaan.

Layar tersebut memberinya berbagai misi. Semakin banyak misi diselesaikan, semakin tinggi atribut dan kekayaannya. Ada satu hal yang sejak awal diperingatkan sistem: gunakan manual permainan. Namun Bagus justru mengabaikannya.

Dari pedagang asongan, Bagus perlahan masuk ke dunia bisnis. Kekayaannya meningkat sangat cepat hingga ia menjadi salah satu orang paling berkuasa dan akhirnya orang terkaya di dunia. Dalam prosesnya, ia mulai melupakan keluarga, kehilangan rasa syukur, selingkuh, dan menghalalkan berbagai cara untuk memenangkan permainan.

Bagus kemudian semakin yakin bahwa kekayaan yang dimilikinya adalah hasil kemampuannya sendiri. Ia bahkan merasa dirinya telah menciptakan sistem permainan tersebut. Padahal, semakin tinggi kekayaannya, semakin jauh pula ia dari nilai kebaikan yang dulu menjadi bagian dari dirinya.

Ketika levelnya mencapai titik tertentu, Bagus menyadari bahwa pemain dengan level tersebut satu per satu mulai mati. Ia pun melakukan berbagai cara untuk menghindari kematian. Namun semua kekayaan, kekuasaan, keamanan, dan teknologi yang dimilikinya tidak mampu mengalahkan sesuatu yang sederhana: seekor lalat.Kematian Bagus sekaligus membuka isi manual permainan yang selama ini ia abaikan. Permainan itu ternyata tidak pernah tentang kekayaan dan kekuasaan. Bagus sibuk mengejar kemenangan, tetapi lupa membaca aturan permainan.

Di situlah pertanyaan yang selama hidupnya menghantuinya menemukan jawaban. Mengapa ada orang kaya dan ada orang miskin? Karena rezeki berada dalam kehendak Tuhan. Bagi saya, bagian ini yang membuat Pareidolia menarik dibaca sebagai gambaran kehidupan. Kita semua seperti pemain dalam permainan yang sama. Bedanya, tidak semua pemain mau membaca manualnya.

Seberapa Mirip dengan Janji?

Karena sejak awal Pareidolia disebut-sebut mirip dengan Janji, rasanya kurang lengkap kalau tidak membandingkan keduanya. Memang ada beberapa kemiripan, terutama sama-sama membawa pembaca pada perjalanan tokoh yang akhirnya berhadapan dengan pertanyaan besar tentang kehidupan. Namun setelah membaca keduanya, saya justru menemukan perbedaan yang cukup jauh.

Kalau Janji membawa pembacanya pada perjalanan Bahar Safar selama tiga hari, rasanya perjalanan itu panjang sekali. Pembaca diajak berhenti, mengenal satu per satu kisah, dan perlahan memahami pesan yang dibawa setiap peristiwa. Sementara Pareidolia bergerak jauh lebih cepat. Bagus melewati perjalanan hidup keduanya dalam hitungan sebelas bulan, dari seorang pedagang asongan hingga menguasai bisnis di lima benua. Bagian ini bagi saya terasa sangat cepat, bahkan agak janggal jika dibayangkan dalam ukuran dunia nyata.

Perbedaan lainnya ada pada pesan yang ditinggalkan. Janji banyak berbicara tentang jangan meremehkan seseorang hanya karena melihat keadaan atau masa lalunya. Bahar Safar, dengan segala masa lalunya, justru membawa pembaca pada pemahaman bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu siapa seseorang dan bagaimana akhir perjalanannya.

Sementara Pareidolia seperti menggeser pertanyaannya: setelah mendapatkan semua yang selama ini kita kejar, lalu untuk apa?

Bagus menghabiskan hidup pertamanya dalam kemiskinan dan mempertanyakan mengapa rezekinya sedikit. Ketika kesempatan kedua datang dan kekayaan akhirnya berada di tangannya, ia justru semakin jauh dari tujuan hidupnya. Ia terlalu sibuk memainkan permainan sampai lupa membaca manual yang sejak awal sudah diberikan.

Kalau Janji meninggalkan kesan tentang perjalanan menuju khusnul khatimah, Pareidolia justru membawa pembaca pada gambaran suul khatimah. Itu yang membuat keduanya terasa seperti memiliki arah yang berbeda, meskipun sama-sama membawa pembaca pada persoalan kehidupan dan kematian.

Dan mungkin di situlah Pareidolia punya banyak hal untuk dibicarakan. Novel ini tidak hanya mengajak bertanya tentang kaya dan miskin, tetapi juga tentang tujuan manusia diciptakan, tentang rezeki, kesombongan, keluarga, dan bagaimana manusia bisa begitu sibuk mengejar kemenangan sampai lupa membaca “manual permainan” yang sudah disertakan dalam kehidupannya.

Kalau setelah membaca Janji pembaca seperti masih ingin duduk lama bersama ceritanya dan sulit segera move on dari perjalanan Bahar, Pareidolia memberi efek yang berbeda. Buku ini justru seperti melemparkan banyak pertanyaan setelah halaman terakhir ditutup. Bukan hanya tentang Bagus, tetapi tentang diri sendiri: selama ini sebenarnya kita sedang mengejar apa?

Identitas Buku

Judul: Pareidolia
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Tahun terbit: 2026
ISBN: 9786347046079
Jumlah halaman: 416 halaman 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda