Ulasan
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
Setiap hari ada ratusan lagu baru di Spotify. Kita tinggal memilih mana yang enak didengar, lalu memakai sound yang sedang viral. Hari ini hafal liriknya, besok sudah pindah ke lagu lain. Selesai. Tapi pernahkah terpikir bagaimana perjuangan di balik lahirnya satu lagu yang kita dengarkan hari ini, lalu kita lupakan besok?
Pertanyaan itu yang terasa menggelitik saat membaca Timun Jelita karya Raditya Dika. Namanya novel komedi, maka ceritanya memang ringan. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, yang dibicarakan sebenarnya tidak seringan kelakuan tokoh-tokohnya: mimpi yang lama dikubur, keberanian memulai kembali di usia 40 tahun, persahabatan, keluarga, sampai godaan industri untuk mengubah karya agar lebih mudah dijual.
Tokoh utamanya, Timun Mahendra, adalah akuntan freelance berusia 40 tahun. Kehidupannya berjalan biasa saja sampai sebuah gitar peninggalan ayahnya kembali membangunkan keinginan bermusik yang sudah lama ia tinggalkan sejak SMA. Masalahnya, Timun bukan lagi anak SMA. Ia sudah punya istri, sedang menjalani program untuk mendapatkan anak, punya pekerjaan, dan secara fisik juga lebih cocok disebut bapak-bapak daripada personel band indie. Namun, istrinya justru mendukung keinginan itu. Dari situlah Timun mulai mencari anggota band dan akhirnya mengajak sepupunya, Jelita, yang ternyata punya kemampuan bernyanyi.
Mereka pun mulai membuat lagu dan mencari panggung.
Tentu saja tidak langsung sukses. Untuk manggung pertama, Timun bahkan harus menguras tabungan yang seharusnya digunakan untuk program bayi tabung. Penontonnya sedikit. Lagu mereka harus diperkenalkan melalui podcast dan pertunjukan kecil. Tidak ada adegan tiba-tiba viral lalu hidup berubah dalam semalam. Justru di bagian inilah Timun Jelita terasa dekat dengan kehidupan orang yang sedang mencoba berkarya. Karya tidak selalu lahir dengan tepuk tangan. Kadang ia lahir dari kamar, tabungan yang berkurang, penonton yang bisa dihitung dengan jari, dan keyakinan bahwa apa yang dibuat tetap layak dicoba meskipun belum ada yang peduli.
Namun, dunia kreatif memang punya godaan lain: viral.
Timun sempat mencoba mengikuti gaya anak muda, berganti-ganti penampilan agar terlihat kekinian. Ironisnya, ketika ia berhenti memaksakan diri menjadi orang lain, penonton justru lebih bisa menerima mereka. Timun juga mengikuti kebiasaan berbahasa Gen Z yang di akhir kalimat ditambahi bjir, kesannya jadi lucu sekaligus aneh
Karya memang boleh dibantu teknologi, termasuk AI. Aransemen bisa dibuat lebih modern, suara bisa diolah, dan produksi bisa semakin mudah. Tetapi teknologi tidak otomatis bisa menggantikan pengalaman orang yang membuatnya. Ada rasa yang lahir dari perjalanan, kegagalan, kegelisahan, bahkan dari suara yang tidak sempurna.
Sayangnya, perjalanan itu dalam novel terasa bergerak terlalu cepat.
Timun menemukan kembali musik, membentuk band, membuat lagu, mencari panggung, menghadapi persoalan Jelita, lalu perlahan mendapatkan penonton. Peristiwa-peristiwa tersebut menarik, tetapi beberapa bagian seperti hanya dilewati untuk segera sampai ke kejadian berikutnya. Padahal, ada banyak momen yang sebenarnya bisa dibuat lebih dalam.
Namun, perjalanan mereka tidak berhenti pada soal mencari panggung. Ketika musik Timun dan Jelita mulai dikenal, sebuah agensi besar datang menawarkan Jelita untuk berkarier sendiri. Ia diminta meninggalkan Timun dan berjalan sendirian.
Tawaran itu bukan hal baru bagi Jelita. Saat SMA, ia pernah mengalami hal serupa. Ia punya band dengan seorang vokalis utama, tetapi sebuah agensi justru meminta vokalis tersebut meninggalkannya karena suara Jelita dianggap kurang sesuai dengan selera pasar. Bahkan pacarnya saat itu ikut meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.
Karena itu, ketika kesempatan kedua datang, Jelita memilih tidak mengulang cerita yang sama. Ia tetap bersama Timun.
Di sini Timun Jelita kembali menyentil satu hal yang sering terjadi dalam dunia kreatif: ketika sesuatu mulai terlihat menjual, hubungan dan proses panjang bisa saja dianggap tidak penting. Yang dicari bukan lagi siapa yang berjuang dari awal, tetapi siapa yang paling mudah dijual.
Untungnya, Timun dan Jelita tidak buru-buru mengejar itu. Mereka terus membuat musik dengan cara mereka sendiri sampai akhirnya berhasil manggung di hadapan sekitar 500 penonton.
Sayangnya, justru bagian seperti inilah yang terasa terlalu cepat. Perjalanan menuju panggung besar seharusnya bisa menjadi ruang untuk memperlihatkan lebih banyak pergulatan Timun dan Jelita. Timun yang baru kembali mengejar mimpi setelah puluhan tahun, dan Jelita yang kembali berhadapan dengan pilihan untuk meninggalkan orang-orang yang berjuang bersamanya, sebenarnya punya bahan konflik yang kuat.
Novel ini memang tidak berniat menjadi cerita musik yang berat. Raditya Dika memilih komedi sebagai kendaraan untuk membicarakan mimpi, keluarga, persahabatan, dan keberanian menjadi diri sendiri. Hanya saja, beberapa bagian yang sebenarnya punya bobot emosional justru dilewati dengan cepat.
Meski begitu, pesan tentang menjadi diri sendiri tetap terasa. Timun sempat berusaha mengikuti gaya anak muda agar terlihat kekinian, tetapi justru ketika mereka tampil dengan karakter sendiri, musiknya lebih diterima. Seperti ada sindiran kecil kepada kita yang terlalu sibuk mengejar apa yang viral sampai lupa bertanya apakah yang kita buat memang benar-benar kita sukai.