Ulasan

Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles

Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles
Sejarah Jawa Jilid II (Dok.Pribadi/Oktavia)

Bagaimana masyarakat Jawa menjalankan kehidupan beragama ketika Islam mulai menjadi agama mayoritas, tetapi berbagai tradisi lama masih bertahan? Pertanyaan semacam itu menjadi salah satu bagian menarik dalam Sejarah Jawa Jilid II (History of Java) karya Sir Thomas Stamford Raffles. Buku ini tidak sekadar membicarakan pergantian kekuasaan atau peperangan, tetapi juga berusaha merekam kebudayaan, sistem sosial, kepercayaan, serta kebiasaan masyarakat Jawa pada masa yang diamati Raffles.

Sebagai bagian dari karya monumental The History of Java, buku ini memberikan gambaran mengenai Jawa pada masa ketika pengaruh Hindu-Buddha, Islam, dan kekuasaan kolonial saling berkelindan. Namun, pembaca masa kini perlu melihat catatan tersebut secara kritis karena penggambaran Raffles lahir dari perspektif seorang pejabat kolonial Inggris pada awal abad ke-19.

Isi Buku

Salah satu bagian yang menarik adalah pembahasan mengenai Islam di Jawa. Raffles mencatat bahwa masyarakat Jawa pada umumnya telah memeluk Islam, tetapi praktik keagamaannya masih bercampur dengan berbagai kepercayaan dan tradisi yang lebih tua. Ia menggambarkan masyarakat Jawa sebagai pemeluk Islam yang relatif tidak fanatik. Menurut pengamatannya, sebagian masyarakat telah menerima konsep tentang Tuhan dan Nabi, menjalankan bentuk-bentuk ibadah tertentu, tetapi belum sepenuhnya memahami ajaran agama secara mendalam.

Catatan tersebut memperlihatkan bagaimana proses Islamisasi di Jawa tidak berlangsung dengan menghapus seluruh kebudayaan sebelumnya. Sebaliknya, terdapat proses percampuran antara ajaran baru dan institusi sosial maupun kebiasaan yang telah lebih dahulu hidup di masyarakat. Bahkan dalam persoalan warisan, misalnya, Raffles mencatat bahwa hukum Islam telah digunakan, meskipun penerapannya dapat bercampur dengan aturan dan kebiasaan lokal.

Kehidupan keagamaan juga terlihat dari keberadaan pemuka agama di tingkat desa. Setiap desa, menurut Raffles, memiliki tokoh agama dan tempat ibadah. Penghulu tidak hanya bertugas memimpin ibadah, tetapi juga menangani persoalan sosial seperti pernikahan, perceraian, dan warisan. Ia juga memiliki peran yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, termasuk mengingatkan masyarakat mengenai waktu yang tepat untuk mengolah tanah. Dengan demikian, agama tidak berdiri sebagai urusan ritual semata. Pemuka agama menjadi bagian dari struktur sosial desa dan terlibat dalam berbagai tahap kehidupan masyarakat.

Raffles juga mencatat kebiasaan masyarakat Jawa melakukan perjalanan haji ke Makkah. Pada masa awal kekuasaan kolonial Belanda, perjalanan tersebut bahkan dilakukan oleh sejumlah pemimpin pribumi. Namun, menurut catatannya, pemerintah kolonial kemudian berusaha membatasi hubungan dengan dunia Islam di luar Jawa, termasuk aktivitas para pendatang dan guru agama dari Arab.

Di sinilah catatan Raffles menjadi semakin menarik sekaligus perlu dibaca dengan hati-hati. Ia menghubungkan figur-figur Muslim tertentu dengan potensi perlawanan terhadap kekuasaan Eropa. Orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji, misalnya, disebut memperoleh penghormatan tinggi dari masyarakat dan dalam pandangan pemerintah kolonial dapat menjadi penggerak perlawanan.

Pandangan tersebut menunjukkan bagaimana agama tidak hanya dipandang sebagai persoalan kepercayaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan politik yang diperhitungkan oleh penguasa kolonial.

Kelebihan dan Kekurangan

Raffles juga memberikan penilaian terhadap karakter masyarakat Jawa. Ia menggambarkan orang Jawa sebagai masyarakat yang lembut, mudah bergaul, dan relatif tenang apabila berada di bawah pemerintahan yang baik. Bahkan, ia mengaitkan berbagai persoalan seperti kriminalitas, kemalasan, dan ketidakpedulian bukan semata-mata dengan karakter masyarakat, melainkan dengan kondisi pemerintahan dan kepemilikan tanah.

Bagian ini menunjukkan bahwa Sejarah Jawa Jilid II bukan sekadar kumpulan informasi sejarah. Di dalamnya terdapat cara seorang pengamat kolonial memahami masyarakat yang sedang berada dalam perubahan besar.

Membaca buku ini hari ini berarti membaca dua hal sekaligus: sejarah Jawa dan sejarah tentang bagaimana Jawa pernah dilihat oleh seorang kolonial. Karena itu, nilai penting buku ini bukan hanya pada banyaknya informasi mengenai agama, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Jawa, tetapi juga pada kesempatan untuk membandingkan catatan masa lalu dengan pemahaman sejarah masa kini. Pada akhirnya, Sejarah Jawa Jilid II memperlihatkan bahwa perubahan agama dan kekuasaan tidak serta-merta menghapus tradisi lama. Jawa justru tumbuh dari pertemuan berbagai pengaruh. Hindu-Buddha, Islam, adat lokal, hingga kepentingan kolonial, yang kemudian membentuk masyarakat dengan identitas yang kompleks.

Identitas Buku

  • Judul: Sejarah Jawa Jilid II (The History of Java)
  • Penulis: Sir Thomas Stamford Raffles
  • Penerbit: Anak Hebat Indonesia
  • Tahun Terbit: 2024
  • Tebal: 688 halaman
  • ISBN: 978-623-164-670-5
  • Kategori: Sejarah, Jawa

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda