Ulasan

The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama

The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama
Dua pemeran utama dalam film The Love Hypothesis (imdb.com)

Ini kali kedua istri saya, Triani, berhasil mempengaruhi saya untuk menonton drama percintaan. Sejujurnya, saya pencinta film laga atau komedi. Akan tetapi, saya tetap terbuka untuk menonton drama percintaan jika alurnya benar-benar bagus. Film The Love Hypothesis salah satunya, sepertinya.

Film yang baru saja dirilis Prime Video sekitar 23 September 2026 dan sedang trending di media sosial ini berkisah tentang sepenggal perjalanan hidup seorang ilmuwan biologi perempuan bernama Olive Smith, yang diperankan oleh Lili Reinhart.

Ketika akan mengikuti sesi seleksi interview untuk menjadi mahasiswi PhD di Stanford University, Olive secara tiba-tiba tidak bisa melihat apa-apa (blur vision) karena lensa kontak yang digunakannya sudah kedaluwarsa. Di sebuah kamar mandi laboratorium (lab bathroom), ia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang ilmuwan yang tidak terlihat jelas karena matanya kabur akibat lensa kontak yang bermasalah.

Olive yang saat itu sangat gugup karena akan mengikuti interview disemangati oleh ilmuwan tersebut. Setelah diterima sebagai mahasiswi PhD, ia bersahabat dekat dengan seorang mahasiswi PhD keturunan Filipina, Anh Pham, yang diperankan Rachel Marsh, seorang mahasiswa Afro-Amerika bernama Jeremy (Nicholas Duvernay), dan mahasiswa berdarah Latino, Malcolm (Jaboukie Young-White).

Sebagai seorang yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, Olive sangat ingin terkoneksi dengan orang-orang yang bisa menjadi keluarganya. Ibunya meninggal karena kanker pankreas ketika Olive masih sangat muda. Hal ini pula yang mendorongnya melakukan penelitian terkait deteksi dini kanker pankreas dengan biaya murah.

Olive sebenarnya punya crush atau ketertarikan terhadap Jeremy. Akan tetapi, Jeremy ternyata lebih tertarik dengan Anh. Anh juga memahami bahwa Olive menyukai Jeremy. Karena itu, ia memilih tidak membalas gestur cinta Jeremy kepadanya. Menyadari hal tersebut, Olive mengatakan bahwa ia telah memiliki pacar. Untuk membuktikannya, ia secara random memilih seorang laki-laki untuk diciumnya ketika bekerja di laboratorium pada malam hari.

Laki-laki itu ternyata adalah ilmuwan yang ditemuinya dua tahun sebelumnya di lab bathroom, ketika matanya masih kabur akibat lensa kontak yang bermasalah. Para mahasiswa menamainya Dr. Evil karena ia biasanya keras terhadap para mahasiswa bimbingannya. Nama aslinya adalah Dr. Adam Carlsen (Tom Bateman).

Anh yang melihat sahabatnya mencium seorang laki-laki awalnya meragukan bahwa mereka benar-benar berpacaran. Setelah kejadian di lab tersebut, Adam mengajak Olive untuk bertemu. Di sana, ia sempat menyampaikan ancaman bahwa ia akan menuntut Olive dengan Title IX karena ciuman yang mereka lakukan sebelumnya tanpa persetujuan Adam.

Akan tetapi, setelah berdebat kecil beberapa saat, Adam menawarkan sebuah perjanjian. Mereka akan pura-pura berkencan supaya Anh tidak ragu untuk berpacaran dengan Jeremy. Sebaliknya, Olive akan membantu Adam meyakinkan pihak universitas agar mau memperbarui dana penelitiannya.

Adam kemudian mengajak Olive datang ke acara pesta para kolega ilmuwan dari fakultas mereka di kediaman Dr. Fastuca. Di sana, secara tidak sengaja Olive bertemu dengan Dr. Tom Benton (Arty Froushan), mantan kolega Adam yang sekarang menjadi ilmuwan di Harvard University.

Sebelumnya, Olive sudah melamar sebagai ilmuwan di laboratorium Dr. Tom Benton. Benton kemudian mengajaknya bertemu di Stanford karena ia sedang mampir ke sana. Olive sebenarnya agak bingung mengapa Dr. Benton ingin bertemu langsung dengannya, karena semua rencana penelitiannya sudah dicantumkan dalam file PDF proposal riset. Olive kemudian memahami alasannya.

Malam itu di acara pesta, Dr. Benton meminta Olive menjelaskan proyek penelitiannya. Olive yang gugup tidak bisa menjelaskan rencana proyeknya secara maksimal. Akan tetapi, secara mengejutkan Dr. Benton mengajaknya ke sebuah konferensi di New York untuk mempresentasikan proyeknya. Presentasinya berlangsung dengan baik, alias sukses.

Setelah konferensi itu, Olive menginap di satu kamar hotel dengan Adam karena Anh mengatakan bahwa ia ingin bermalam dengan Jeremy. Di hotel tersebut, Olive dan Adam akhirnya memadu kasih. Sebelumnya, ketika mereka makan berdua di sebuah restoran Jepang, Adam bercerita tentang bagaimana kejamnya pembimbing PhD-nya dulu. Hal tersebut mungkin sedikit banyak mempengaruhi dirinya.

Ketika pulang ke hotel, Adam yang tidak tega melihat Olive tersiksa memakai sepatu hak tinggi akhirnya menggendongnya sepanjang jalan sampai ke kamar hotel.

Keesokan harinya, Dr. Benton menyampaikan kepada Adam bahwa ia berkenan menerima Olive sebagai ilmuwan di laboratoriumnya di Harvard. Adam senang sekali dan mengatakan bahwa Olive tentu juga akan senang.

Dr. Benton kemudian mendatangi kamar hotel tempat Olive menginap untuk menyampaikan bahwa ia diterima. Namun, ia memberikan syarat yang membuat Olive sangat kecewa: Olive harus tidur dengannya terlebih dahulu. Olive yang sangat kecewa kemudian mencoba menghubungi Adam. Akan tetapi, karena Adam menganggap bahwa agreement mereka telah berakhir, ia tidak membalas pesan teks Olive di ponselnya.

Olive kemudian menceritakan tindakan Dr. Benton kepada Anh dan berkata dengan jujur bahwa ia hanya pura-pura berpacaran dengan Adam supaya Anh mau berpacaran dengan Jeremy.

Di luar dugaan, Anh mengatakan bahwa ia sudah mengetahui hal tersebut. Ia kemudian menyemangati Olive untuk mencari alternatif lain selain bergabung dengan laboratorium Dr. Benton. Anh juga mengatakan bahwa Adam sebenarnya memiliki rasa terhadap Olive.

Olive saat itu tidak percaya. Beberapa hari kemudian, Olive menemui Dr. Juliet Aslan (Jeananne Goossen) dan mengajukan proyek penelitiannya kepada Dr. Aslan untuk dibiayai oleh Stanford University.

Beberapa hari setelah itu, Anh bertemu dengan Adam di lab bathroom. Di sana, Adam bertanya tentang keadaan Olive. Anh secara terus terang menyampaikan bahwa Olive telah mendapatkan pembiayaan dari Stanford berkat bantuan Dr. Aslan. Adam heran dan menanyakan, bukankah Olive sebelumnya melamar ke Harvard?

Anh kemudian menyampaikan bahwa Dr. Benton telah melakukan pelecehan seksual terhadap Olive dengan mengajaknya tidur dengannya. Hal tersebut membuat Olive mengurungkan niatnya menjadi peneliti di laboratorium Dr. Benton di Harvard.

Adam yang marah besar kemudian mendatangi Dr. Benton di kelasnya untuk memarahinya dan memberikan ultimatum supaya Benton tidak mendekati Olive lagi. Di luar kelas, Adam dan Olive akhirnya bertemu. Di sanalah Adam mengungkapkan isi hatinya kepada Olive.

Bagi saya, ada semacam filsafat tersembunyi dalam film ini: segala sesuatu yang tampak belum tentu sesuai dengan apa yang kita duga. Termasuk karakter seseorang. Kita membutuhkan pengenalan yang lebih jauh untuk benar-benar memahaminya.

Adam yang terkenal keras ternyata memiliki masa lalu yang memprihatinkan. Sikap kerasnya terhadap mahasiswa ternyata tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pengalaman yang pernah ia alami ketika menjadi mahasiswa PhD.

Selain itu, cinta dalam film ini mengingatkan saya pada filsafat Jawa: witing tresno, jalaran seko kulino. Cinta dapat tumbuh karena sering bersama.

Olive dan Adam pada awalnya hanya menjalankan sebuah perjanjian. Mereka bahkan memiliki kepentingan masing-masing. Akan tetapi, semakin sering bersama, semakin mereka mengenal satu sama lain. Dari sanalah hubungan yang awalnya hanya pura-pura akhirnya berubah menjadi cinta yang sebenarnya.

Ada satu hal lagi yang menurut saya menarik. Olive memang tidak menjadi peneliti di Harvard sesuai dengan apa yang diinginkannya. Akan tetapi, ia justru mendapatkan tempat yang lebih baik untuk mengembangkan penelitian di Stanford University.

Di sini saya teringat sebuah ungkapan yang sering kita dengar: Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan selalu apa yang kita inginkan.

Mungkin inilah salah satu pesan sederhana dari The Love Hypothesis. Tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Terkadang, sesuatu yang pada awalnya kita anggap sebagai kegagalan justru membawa kita kepada sesuatu yang lebih sesuai dengan kebutuhan kita. Dan mungkin, seperti yang dialami Olive dan Adam, cinta juga tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda