Ulasan

Review Lobang Buaya: Saat Hantunya Cuma Alibi untuk Misteri Pembunuhan Berdarah

Review Lobang Buaya: Saat Hantunya Cuma Alibi untuk Misteri Pembunuhan Berdarah
Foto Film Lobang Buaya (Instagram/dapurfilm)

Film horor biasanya menjadikan hantu sebagai tujuan akhir buat menakut-nakuti penonton. Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah justru lebih menarik ketika hantunya terasa dikesampingkan, sementara misteri pembunuhannya mengambil posisi paling depan. Semakin cerita dibuka, makin terasa teror gaib hanyalah pintu menuju persoalan rumit: siapa yang membunuh, menyimpan rahasia, dan bagaimana kepentingan manusia bisa mengubah sebuah desa menjadi ruang penuh kecurigaan.

Film garapan Hanung Bramantyo ini diproduksi Dapur Film dan Adhya Pictures, dengan Shierly Kosasih sebagai produser. Hanung menulis skenario bersama Haqi Achmad. Durasi filmnya sekitar 99 menit, dengan Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, Iskak Khivano, dan Mathias Muchus sebagai pemeran utama. Film ini tayang di bioskop sejak 1 Oktober 2026.

Cerita berlatar 1964, setahun sebelum tragedi 30 September 1965. Desa Lobang Buaya diguncang serangkaian pembunuhan misterius. Korban ditemukan dengan lubang menganga pada punggung dan tubuh yang disayat membentuk kata seperti Tamak, Lamis, dan Maruk. 

Polanya makin mengerikan karena pembunuhan berlangsung setiap tanggal 30. Letnan Soegeng, diperankan Baskara Mahendra, ditugaskan menyelidiki kasus tersebut ketika isu Hantu Bolong mulai menyebar. Di rumah, istrinya, Arum Wangi yang dimainkan Carissa Perusset, mengalami teror sosok perempuan. Ketika sosok itu mengaitkan Arum dengan ronggeng, Soegeng menyadari bahwa gangguan supernatural itu berhubungan dengan penyelidikannya.

Rasa Penasaran yang Lahir dari Struktur Cerita 

Bagian paling menarik, menurutku terletak pada cara misterinya bergerak. Film memberi pola yang jelas, lalu menggeser kepingan informasi. Satu dugaan muncul, kemudian lapisan baru membuat dugaan itu berubah. Permainan semacam ini membuat rasa penasaran lahir dari struktur cerita, bukan sekadar kemunculan hantu.

Di sinilah Lobang Buaya lebih kuat sebagai misteri pembunuhan ketimbang horor murni. Hantu ngasih nuansa mencekam, tapi pola korban, tanggal kematian, tulisan pada tubuh, hubungan antar tokoh, dan motif pembunuhan membuatku terus mengikuti cerita. Bahkan ketika unsur gaib membesar, perkembangan penyelidikan Soegeng tetap menjadi fokus utama.

Yang membuat pendekatan ini terasa efektif adalah perubahan posisi penonton. Kita mula-mula diajak takut pada sesuatu yang datang dari luar, lalu perlahan diarahkan mencurigai orang-orang di sekitar Soegeng. Pergeseran itu membuat horornya bekerja sebagai pengalih perhatian sekaligus pengantar menuju misteri yang lebih besar. 

Masalahnya, twist berlapis punya konsekuensi. Film jadi sangat padat. Beberapa karakter akhirnya cuma kayak kepingan puzzle ketimbang manusia yang punya ruang cukup untuk berkembang. Ketika satu rahasia selesai dibuka, cerita segera mengejar rahasia berikutnya.

Bahkan, jujur saja, lapisan sejarah-politiknya membuat film ini jauh lebih menarik sekaligus berisiko. Memilih 1964, tepat 309 hari sebelum tragedi 30 September 1965, memberi beban makna pada setiap kejadian. Hanung memakai fiksi horor untuk memasuki suasana sosial-politik yang penuh ketegangan. 

Namun, lapisan sejarah itu juga kadang terasa seperti pemberat tambahan. Cerita sudah memiliki misteri pembunuhan, ritual, ronggeng, Hantu Bolong, dan konflik Soegeng-Arum. Ketika konteks menuju tragedi nasional ikut dimasukkan, film harus membawa banyak informasi dalam durasi 99 menit. Ambisinya besar, sementara ruang untuk mengembangkan semuanya sangat terbatas.

Yang jelas Film Lobang Buaya paling menarik ketika berhenti menjadi film tentang hantu. Paham, kan? Yup, misteri pembunuhannya punya daya tarik sendiri, sedangkan latar sejarah membuat setiap petunjuk memiliki konsekuensi lebih besar. Belum lagi, keberaniannya mengawinkan investigasi, horor, dan fiksi sejarah membuat Lobang Buaya punya daya tarik yang sayang banget Sobat Yoursay abaikan. Hantunya mungkin berasal dari hal mengerikan, tapi misterinya yang muncul dari sosok manusia membuatnya jadi sangat menarik. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda