Ulasan

Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata

Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
Twenty Four Eyes. (Dok. Pribadi/ Chairun Nisa)

Gaji kecil, fasilitas terbatas, hingga perjalanan jauh menuju sekolah masih menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi sebagian guru honorer hari ini. Namun, perjuangan seorang guru untuk sampai ke ruang kelas bukanlah cerita baru. Pada 1928, Bu Guru Oishi dalam novel Dua Belas Pasang Mata harus mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer untuk mengajar di sebuah desa nelayan.

Kehadirannya sempat dipandang berbeda oleh masyarakat setempat karena penampilan dan sikapnya yang dianggap terlalu modern. Meski demikian, Oishi tetap menjalankan tugasnya dan bertemu dengan dua belas murid yang kelak menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dari pertemuan inilah cerita tentang pendidikan, kemiskinan, dan perang mulai berkembang.

Kehadiran Oishi di sekolah kecil itu memperlihatkan perbedaan antara dirinya dan masyarakat desa yang masih memegang kebiasaan setempat. Sepeda dan pakaian yang dikenakannya membuat sebagian warga memandangnya sebagai sosok yang tidak biasa. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalanginya untuk mengenal murid-muridnya lebih dekat. Kedua belas anak itu datang dari keluarga dengan keadaan yang beragam.

Melalui keseharian mereka di sekolah, Oishi mulai memahami bahwa tugas seorang guru tidak berhenti pada penyampaian pelajaran, sebab kehidupan murid-muridnya turut memengaruhi pengalaman mereka dalam belajar.

Hubungan Oishi dengan para muridnya pun berkembang seiring berjalannya waktu. Ia mengenal keterbatasan keluarga mereka dan melihat bagaimana kemiskinan membentuk kehidupan anak-anak tersebut. Sekolah menjadi tempat mereka belajar sekaligus ruang untuk menikmati masa kanak-kanak di tengah keadaan yang tidak selalu mudah.

Bagi Oishi, mengenal murid berarti memahami kehidupan yang mereka jalani di luar kelas. Pandangan ini semakin penting ketika perubahan sosial dan datangnya perang mulai memengaruhi kehidupan masyarakat desa.

Salah satu hal menarik dari novel ini adalah cara Tsuboi Sakae menggambarkan perubahan kehidupan kedua belas murid tersebut dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Anak-anak yang dahulu datang ke sekolah dengan kepolosan masing-masing perlahan menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit daripada pelajaran di kelas.

Waktu membawa mereka ke jalan hidup yang berbeda, sementara kenangan tentang Oishi dan masa sekolah tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka. Melalui perkembangan para tokohnya, novel ini memperlihatkan bahwa pengalaman pendidikan dapat meninggalkan kesan yang bertahan lama, bahkan ketika kehidupan telah membawa seseorang jauh dari ruang kelas.

Kisah mereka juga menunjukkan bahwa perang tidak hanya membawa penderitaan bagi orang-orang yang berada di medan pertempuran. Dampaknya menjalar ke kehidupan keluarga, sekolah, dan masa depan anak-anak. Kemiskinan yang telah menjadi bagian dari keseharian sebagian tokoh semakin terasa ketika keadaan sosial berubah. Cita-cita yang semula tampak sederhana pun harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu dapat mereka pilih.

Oishi menyaksikan perubahan tersebut dari dekat, tetapi ia tidak memiliki kuasa untuk mencegah semua kesulitan yang dialami murid-muridnya. Di sinilah cerita pendidikan dalam novel ini bertemu dengan gambaran kehidupan masyarakat yang terdampak perang.

Kekuatan novel ini terletak pada penokohan yang manusiawi. Oishi tidak digambarkan sebagai guru yang selalu benar atau mampu menyelesaikan setiap persoalan. Ia memiliki keterbatasan, merasakan kekecewaan, dan harus menerima kenyataan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapannya.

Sisi tersebut membuatnya terasa lebih dekat dengan pembaca. Kepeduliannya kepada para murid bukan berarti ia dapat mengubah seluruh nasib mereka. Namun, kehadirannya menunjukkan bahwa perhatian seorang guru tetap memiliki arti, sekalipun tidak semua masalah dapat diselesaikan melalui pendidikan.

Tsuboi Sakae juga membangun emosi cerita tanpa menjadikan perang sebagai satu-satunya pusat perhatian. Pengaruh perang hadir melalui perubahan kehidupan para tokoh dan kenyataan yang harus mereka hadapi. Kehidupan di sekolah, interaksi antara guru dan murid, serta perjalanan para tokoh setelah meninggalkan masa kanak-kanak menjadi bagian penting dalam membangun cerita. Pendekatan ini membuat dampak perang terasa melalui pengalaman manusia sehari-hari, bukan hanya melalui gambaran kehancuran atau peristiwa besar.

Melalui perjalanan Oishi dan kedua belas muridnya, Dua Belas Pasang Mata mengajak pembaca melihat pendidikan dari sisi yang lebih luas. Menjadi guru bukan semata-mata tentang mengajarkan pengetahuan, tetapi juga tentang mengenal murid sebagai manusia yang memiliki latar belakang, keterbatasan, dan masa depan masing-masing.

Meski demikian, novel ini tidak menawarkan gambaran bahwa kepedulian seorang guru dapat menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan. Justru karena keterbatasan itulah, hubungan Oishi dengan murid-muridnya terasa berarti. Kisah mereka memperlihatkan bagaimana kenangan tentang seorang guru dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman dan pengalaman yang membentuk kehidupan setiap murid.

Identitas Buku

  • Judul: Twenty-Four Eyes (Dua Belas Pasang Mata)
  • Penulis: Sakae Tsuboi
  • Alih bahasa: Tanti Lesmana
  • Desain dan ilustrasi sampul: Martin Dima
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda