Ulasan
Ketika Dongeng Ayah Berhadapan dengan Skeptisisme Anak yang Beranjak Dewasa
Membaca Ayahku Bukan Pembohong dalam keadaan yatim rasanya seperti harus menyediakan stok tisu lebih banyak. Sebab, cerita tentang ayah selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan kita kepada seseorang yang tak lagi bisa dipeluk Ada bagian yang membuat kita ingin segera membalik halaman, tetapi ada pula yang memaksa kita berhenti sejenak. Bukan karena tidak sabar mengetahui kelanjutan ceritanya, melainkan karena beberapa kalimat terasa terlalu dekat dengan kehidupan sendiri.
Tere Liye mengajak pembaca mengenal Dam, anak yang tumbuh dengan cerita-cerita luar biasa dari ayahnya. Masa kecil Dam bukan hanya diisi permainan dan pengalaman sehari-hari, tetapi juga petualangan yang terdengar mustahil. Ayahnya pernah bercerita tentang apel emas di Lembah Bukhara, Suku Penguasa Angin yang menghadapi penindasan dengan kesabaran, serta persahabatannya dengan El Prince, pemain sepak bola yang dianggap Dam sebagai yang terbaik di dunia. Di telinga seorang anak, cerita semacam itu tentu jauh lebih menarik daripada nasihat panjang tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup.
Namun, cerita yang dahulu membuat Dam kagum perlahan berubah menjadi sumber kecurigaan. Ketika dewasa, ia mulai menganggap pengalaman ayahnya hanyalah karangan. Lembah Bukhara dan Suku Penguasa Angin terasa terlalu fantastis untuk dipercaya. Kecurigaannya bertambah ketika ia berniat mengirim surat kepada El Prince, tetapi ayahnya justru terlihat gugup dan menolak keinginannya.
Ada pula hal yang membuat Dam sulit memahami sosok ayahnya. Keluarga mereka hidup bersahaja, tinggal di rumah yang pembayarannya dicicil selama bertahun-tahun. Akan tetapi, ayahnya dihormati banyak orang, bahkan oleh orang-orang terpandang di kota. Saat Jarjit mengejek Dam karena menganggap keluarganya miskin, ayah Jarjit malah menegur anaknya. Dam menyaksikan sendiri kejadian itu, tetapi belum mampu memahami mengapa ayahnya mendapat penghormatan sedemikian besar.
Persoalan tersebut tidak selesai ketika Dam meninggalkan masa kanak-kanak. Setelah menikah dengan Taani dan memiliki dua anak, Zas dan Qom, ia justru semakin keras menolak cerita ayahnya. Ia tidak ingin anak-anaknya mempercayai kisah yang menurutnya tidak masuk akal. Karena itulah, Dam melarang ayahnya menceritakan petualangan masa lalu kepada kedua cucunya. Di tengah hubungan yang semakin renggang itu, Taani tetap memperlakukan ayah mertuanya dengan baik. Sikapnya menjadi kontras dengan Dam yang terus mempertanyakan kebenaran cerita sang ayah.
Keraguan Dam juga berkaitan dengan cara ia memahami kenyataan. Sesuatu yang tidak dapat dibuktikan melalui informasi yang ditemukannya, termasuk melalui internet, cenderung ia anggap tidak benar. Pengalamannya di Akademi Gajah pun menjadi bagian dari persoalan yang membuat pembaca bertanya-tanya tentang batas antara sesuatu yang dapat dibuktikan dan sesuatu yang belum diketahui. Bagi Dam, ketiadaan bukti seolah menjadi alasan yang cukup untuk menolak seluruh cerita ayahnya.
Pertengkaran mereka mencapai puncak ketika Dam tidak lagi sanggup menerima cerita tentang mendiang ibunya. Ayahnya pernah berkisah bahwa ibu Dam merupakan bintang televisi terkenal yang divonis hanya memiliki beberapa bulan untuk hidup. Pertemuan dengan ayah Dam, beserta kebahagiaan yang mereka bangun bersama, menjadi bagian penting dalam kisah kehidupan sang ibu. Namun, Dam menganggap cerita itu sama tidak masuk akalnya dengan cerita-cerita lain yang telah lama ia ragukan.
Terluka karena tidak dipercaya oleh anaknya sendiri, ayah Dam meninggalkan rumah di tengah hujan. Setelah mencari informasi mengenai ibunya, Dam justru menemukan kenyataan yang membenarkan cerita tersebut. Ia kemudian mendapati ayahnya tak sadarkan diri di makam istrinya. Beberapa hari kemudian, sang ayah meninggal dunia.
Kehilangan itu membawa Dam pada kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada kesalahan memahami sebuah cerita. Orang-orang yang hadir dalam pemakaman ayahnya ternyata berkaitan dengan kisah-kisah masa lalu yang selama ini ia anggap sebagai khayalan. Suku Penguasa Angin, Si Nomor Sepuluh, dan Sang Kapten bukan sekadar nama yang pernah didengarnya. Sang Kapten bahkan mengungkap persahabatan lamanya dengan ayah Dam, yang telah terputus sejak mereka berpisah bertahun-tahun sebelumnya.
Bagi saya, kekuatan novel ini terletak pada cara Tere Liye memperlihatkan perubahan hubungan ayah dan anak tanpa harus menjadikan salah satunya tokoh yang sepenuhnya benar atau salah. Dam ingin melindungi anak-anaknya dari sesuatu yang dianggapnya sebagai kebohongan. Sayangnya, keinginannya untuk mencari kebenaran justru membuatnya menutup diri terhadap orang yang selama ini berusaha mewariskan nilai-nilai kehidupan kepadanya.
Membaca novel ini setelah kehilangan bapak membuat saya memikirkan kembali cerita-cerita yang dahulu mungkin terdengar biasa. Ada kenangan yang baru terasa mahal ketika orang yang memilikinya sudah tidak bisa lagi kita temui. Kita boleh mempertanyakan sesuatu, tetapi barangkali kita juga perlu belajar mendengarkan sebelum menjatuhkan kesimpulan.
Sebab, yang paling menyedihkan dari kisah Dam bukan hanya kenyataan bahwa ayahnya meninggal, melainkan bahwa ia baru memahami banyak hal setelah tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertanya. Dan bagi pembaca yang sudah kehilangan ayah, bagian itulah yang membuat novel ini sulit ditutup tanpa membawa sedikit kesedihan ke kehidupan nyata.