Ulasan
The Uprising dan Percikan Api Pemberontakan Rakyat
The Uprising adalah sebuah film sejarah yang berlatar Pemberontakan Petani Inggris atau The Great Uprising tahun 1381. Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah karakter pelopor pemberontakan, yaitu Ploughman, yang diperankan oleh Andrew Garfield, aktor yang dulu populer melalui beberapa karakter film, salah satunya Spider-Man.
Ploughman yang diperankan oleh Andrew Garfield merupakan karakter fiktif. Dalam sejarah, Wat Tyler adalah salah satu pemimpin Pemberontakan Petani Inggris kala itu. Di film ini, karakter Wat Tyler juga ada, diperankan oleh Cosmo Jarvis.
Cerita berawal dari kehidupan Ploughman yang tinggal sendiri di rumahnya, dekat ladang yang harus digarapnya. Di dekat rumahnya terdapat makam istri dan dua anaknya yang meninggal akibat wabah Black Death. Saat itu, Kerajaan Inggris berada di bawah kekuasaan Dewan Kerajaan karena Richard II masih sangat muda, berusia 14 tahun, sehingga belum mampu memimpin kerajaan sendirian.
Dalam film ini, Richard II digambarkan tenggelam dalam ketakutan, paranoia, dan mimpi buruk tentang segerombolan setan yang menguasai dirinya. Situasi tersebut tergambar dalam deskripsi film di Wikipedia: “England is ruled by the council of Richard II, who at 14 years old is too young and too disturbed by terrifying nightmares of mobs of demons to rule on his own.”
Suatu ketika, Dewan Kerajaan berpandangan bahwa mereka membutuhkan uang tambahan. Akan tetapi, mereka tidak mau menarik pajak tambahan dari para pedagang karena khawatir para pedagang akan menuntut kursi atau posisi di Dewan Kerajaan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menarik pajak tambahan dari para petani penggarap yang hidup dalam kemiskinan akibat wabah Black Death.
Dengan cara brutal dan tidak manusiawi, para pemungut pajak memaksa petani untuk membayar pajak. Bahkan, beberapa anak perempuan diperkosa dan dilecehkan secara seksual untuk membuktikan bahwa mereka sudah dewasa dan harus membayar pajak.
Di sinilah Ploughman mengawali perlawanannya. Para pemungut pajak tetap meminta dirinya membayar pajak atas istri dan dua anaknya yang sudah meninggal karena ia tidak memiliki surat kematian mereka. Kemarahannya semakin memuncak setelah ia melihat dua tentara kerajaan memperkosa dua anak perempuan. Ploughman kemudian menyerang para pemungut pajak dan membunuh seorang tentara yang mencoba menangkapnya.
Pemberontakan petani di Inggris pun bermula, kemudian diikuti dan didukung oleh para petani dari berbagai wilayah lainnya di Inggris.
Filsafat Tersembunyi di Balik Pemberontakan
Bagi saya, filsafat tersembunyi dari film ini adalah bahwa penguasa sering kali merasa bisa berbuat apa saja terhadap rakyat karena merasa memiliki kekuasaan. Akan tetapi, kesabaran rakyat yang tertindas ada batasnya. Hanya dibutuhkan satu percikan api kecil untuk menyulut kemarahan yang kemudian berubah menjadi kebakaran besar, seperti tumpukan jerami kering yang mudah terbakar.
Seperti yang dibahas dalam filsafat politik Plato dan Aristoteles, persoalan mendasar dalam pemerintahan adalah untuk siapa kekuasaan dijalankan. Aristoteles membedakan tiga bentuk pemerintahan yang baik, yaitu monarki, aristokrasi, dan politeia, dari bentuk-bentuk yang menyimpang, yaitu tirani, oligarki, dan demokrasi dalam pengertian negatif yang digunakan dalam klasifikasinya. Plato juga membahas persoalan perubahan dan kemerosotan bentuk pemerintahan dalam Republic.
Monarki dapat berubah menjadi tirani, aristokrasi dapat berubah menjadi oligarki, dan pemerintahan yang seharusnya mengutamakan kepentingan bersama dapat menyimpang ketika kekuasaan hanya digunakan untuk kepentingan segelintir orang.
Hal inilah yang saya lihat dalam The Uprising. Dewan Kerajaan memilih membebani para petani yang hidup dalam kemiskinan karena mereka tidak ingin mengambil risiko menghadapi tuntutan politik dari para pedagang. Kekuasaan tidak lagi dijalankan dengan mempertimbangkan kepentingan rakyat banyak, tetapi justru digunakan untuk melindungi kepentingan mereka yang berkuasa.
Jika hal tersebut terjadi, rakyat dapat menuntut kembali kekuasaan yang semestinya digunakan untuk kepentingan mereka. Pemberontakan menjadi salah satu bentuk perlawanan ketika rakyat tidak lagi mampu menerima ketidakadilan yang terus-menerus mereka alami.
Nuansa Gelap The Uprising
The Uprising merupakan film baru yang disutradarai oleh Paul Greengrass dan dirilis pada 2026. Nuansa film ini agak gelap, menggambarkan situasi masa itu yang juga gelap. Kemiskinan, wabah, kekerasan, dan kesewenang-wenangan penguasa menjadi latar kehidupan rakyat yang akhirnya bangkit melawan.
Bagi saya, film ini memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak bisa terus-menerus mengabaikan penderitaan rakyat. Penguasa mungkin merasa aman karena memiliki kekuatan untuk memaksakan kehendaknya. Namun, ketika ketidakadilan terus menumpuk, rakyat yang selama ini diam pun dapat bangkit melawan.
Film ini sepertinya juga selaras dengan situasi dunia akhir-akhir ini, yang diwarnai oleh protes rakyat di berbagai belahan dunia.
Pada 17 Oktober 2026, demonstrasi berlangsung di Prancis, yang salah satunya disebabkan oleh meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat. Harga kebutuhan sehari-hari, energi, dan transportasi terus meningkat, sementara kenaikan pendapatan dalam kenyataannya tidak selalu mampu mengimbangi biaya hidup yang melambung tinggi.
Sementara di Indonesia, pada 20 Oktober 2026, mahasiswa dan masyarakat sipil turun ke jalan untuk menyampaikan protes terhadap pemerintah. Persoalan biaya hidup, kondisi ekonomi, masalah lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, serta kesulitan hidup rakyat menjadi bagian dari tuntutan mereka.
Di India, muncul pula gerakan Cockroach Janta Party, yang berawal dari sindiran tentang pengangguran dan berkembang menjadi gerakan protes anak muda. Pemimpinnya, Abhijeet Dipke, ditahan ketika hendak menggelar aksi demonstrasi.
Peristiwa-peristiwa ini mengingatkan kita pada pesan yang disampaikan The Uprising: ketika rakyat merasa bahwa penderitaan mereka tidak didengar oleh penguasa, ketidakpuasan dapat berkembang menjadi perlawanan. Bentuk dan penyebab protes memang berbeda-beda, tetapi persoalan hubungan antara kekuasaan dan kepentingan rakyat tetap menjadi pertanyaan penting.
Seperti tumpukan jerami kering, hanya dibutuhkan satu percikan api untuk memulai kebakaran besar.