Ulasan

The Midnight Library: Belajar Berhenti Berandai dan Menerima Realita Hidup

The Midnight Library: Belajar Berhenti Berandai dan Menerima Realita Hidup
The Midnight Library. (Gramedia)

The Midnight Library adalah novel karya penulis asal Inggris, Matt Haig. Novel ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Bergenre fiksi spekulatif, ceritanya mengangkat tema kesehatan mental, depresi, penyesalan, dan pencarian makna hidup.

Buku dengan ketebalan medium ini fokus memberikan suntikan semangat dan energi positif bagi siapa saja yang sedang terjebak dalam kecemasan. Gaya penyajiannya yang santai sangat efektif dalam membantu pikiran pembaca menjadi lebih tenang sekaligus meredakan rasa stres akibat rutinitas keseharian yang melelahkan.

Perjalanan Nora Mencari Arti Kehidupan

Kisahnya mengikuti kehidupan seorang perempuan bernama Nora Seed yang sedang mengalami masa-masa sulit. Dalam waktu berdekatan, dia kehilangan pekerjaan, kucing kesayangannya mati tertabrak, hubungannya dengan sang abang merenggang, dan dia juga merasa tidak punya arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Berbagai masalah itu membuat Nora semakin terpuruk. Ditambah lagi, dia terus dihantui penyesalan atas pilihan-pilihan yang pernah diambilnya. Sampai akhirnya, pada suatu malam, Nora memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan justru terjadi. Nora malah terbangun di sebuah tempat misterius yang berada di antara hidup dan mati. Tempat itu ternyata berupa perpustakaan raksasa dengan jam dinding yang selalu menunjukkan pukul 00.00 tengah malam.

Di sana, Nora bertemu dengan Ibu Elm, pustakawan yang dulu dikenalnya saat masih sekolah. Dari pertemuan itu, dia mengetahui bahwa setiap buku di perpustakaan tersebut bisa membawanya ke kehidupan lain. Kehidupan yang mungkin akan dia jalani seandainya dahulu mengambil keputusan berbeda.

Ada satu buku tebal bernama Buku Penyesalan yang berisi segala hal yang membuat Nora kecewa terhadap hidupnya sendiri. Ibu Elm kemudian memberinya kesempatan untuk mencoba berbagai kehidupan alternatif. Siapa tahu, dari sekian banyak kemungkinan yang ada, Nora bisa menemukan kehidupan yang selama ini dia inginkan.

Kesempatan itu pun tidak disia-siakan. Nora mulai menjajal berbagai kehidupan, mulai dari menjadi vokalis band rock terkenal yang berkeliling dunia, ilmuwan yang meneliti es di Kutub Utara, atlet renang peraih medali Olimpiade, hingga ibu rumah tangga yang tinggal di pinggiran kota.

Sayangnya, kehidupan yang terlihat menyenangkan dari luar ternyata tidak selalu sesuai dengan bayangannya. Setiap kali mencoba kehidupan baru, Nora justru menemukan persoalan lain yang harus dihadapi. Bahkan, kehidupan yang awalnya tampak sempurna pun ternyata menyimpan sisi yang tidak pernah dia duga.

Ulasan novel The Midnight Library

Petualangan Nora yang hobi lompat-lompat takdir ini sangat seru diikuti karena alur ceritanya sat-set dan tidak bikin bosan. Menariknya, Matt Haig menggambarkan rasa depresi dengan bahasa yang membumi dan gampang dicerna. Pembaca tidak diajak buat mengasihani Nora secara berlebihan, melainkan diperlihatkan gimana capeknya jadi Nora yang selama ini selalu hidup demi menuruti kemauan orang-orang di sekitarnya.

Keberadaan "Buku Penyesalan" di cerita ini juga seolah menampar kebiasaan kita sehari-hari yang hobi berandai-andai. Kita sering kali mikir kalau pilihan hidup yang tidak kita ambil itu pasti bakal berakhir lebih indah dari kenyataan sekarang. Padahal lewat kegagalan Nora yang bahkan waktu dia sudah jadi orang kaya dan terkenal sekalipun di buku ini memperlihatkan kalau tidak ada satu pun skenario hidup manusia yang benar-benar bebas dari masalah.

Buku ini juga menyentil soal hubungan antarmanusia dengan cara yang dewasa. Nora sering merasa gagal bukan karena dia tidak berbakat, tapi karena dia merasa sudah mengecewakan ekspektasi ayahnya, mantannya, sampai sahabatnya. Lewat perjalanannya di perpustakaan tengah malam itu, dia pelan-pelan sadar kalau satu-satunya orang yang harus dia bikin bahagia itu ya dirinya sendiri, bukan bayang-bayang kemauan orang lain.

Versi terjemahan dari Gramedia juga layak diapresiasi karena menerjemahkan buku ini dengan sangat luwes. Bahasanya santai, tidak kaku, dan tidak berasa kayak ketikan mesin terjemahan yang kaku. Buku yang tebalnya pas ini cocok jadi teman santai karena energi yang ditularkan lewat cerita ini terasa hangat dan pelan-pelan bisa meredakan rasa cemas di kepala kita.

Pelajaran paling mahal yang bisa kita ambil dari The Midnight Library adalah bahwa kita tidak butuh kehidupan yang sempurna untuk bisa menikmati hidup. Terlalu fokus menyesali masa lalu itu cuma bikin kita buta sama hal-hal kecil yang sebenarnya indah di depan mata kita sekarang.

Melalui akhir cerita Nora, kita diingatkan kalau hidup ini berharga bukan karena hasil akhirnya yang selalu sukses, tapi karena selalu ada peluang baru yang bisa kita bikin setiap hari. Kita diajak buat berdamai sama semua keputusan masa lalu, berhenti membanding-bandingkan nasib, dan mulai berani menjalani hidup nyata yang kita punya sekarang dengan sebaik-baiknya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda