Ulasan

The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia

The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia
The Last 10 Years (Instagram/konichans.32)

Mungkin kita pernah sesekali benar-benar memikirkan berapa banyak waktu yang masih kita miliki bersama orang-orang yang kita sayangi.

Biasanya, kita menjalani hari seolah-olah hari esok selalu tersedia. Kita menunda pertemuan, menyimpan perasaan, dan menganggap kebersamaan sebagai sesuatu yang bisa diulang kapan saja. Namun, bagaimana jika sejak awal kita tahu bahwa waktu yang tersisa ternyata jauh lebih sedikit daripada yang dibayangkan?

Pertanyaan itu menjadi inti dari The Last 10 Years (2022), film Jepang garapan Michihito Fujii yang dibintangi Nana Komatsu dan Kentaro Sakaguchi. Diadaptasi dari novel karya Ruka Kosaka, film berdurasi sekitar dua jam ini bukan sekadar kisah cinta tragis.

Ia mengajak penonton merenungkan hubungan antara harapan, kehilangan, dan keberanian untuk tetap menjalani hidup ketika masa depan terasa begitu terbatas. Cerita berpusat pada Matsuri Takabayashi, seorang perempuan muda yang mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit langka yang tidak dapat disembuhkan.

Dokter memperkirakan ia hanya memiliki sepuluh tahun untuk hidup. Sejak mengetahui kenyataan tersebut, Matsuri berusaha menjaga jarak dari cinta. Baginya, jatuh cinta berarti membuka kemungkinan untuk memiliki seseorang yang kelak harus ditinggalkan, sekaligus membuat dirinya semakin takut menghadapi kematian.

Keputusan itu mulai goyah ketika ia bertemu kembali dengan Kazuto Manabe dalam sebuah acara reuni. Kazuto sendiri sedang mengalami masa sulit dan kehilangan arah dalam hidupnya. Pertemuan mereka menjadi awal hubungan yang perlahan mengubah cara keduanya memandang dunia.

Matsuri yang berusaha tidak terlalu terikat mulai menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan, sementara Kazuto kembali memiliki alasan untuk menjalani hari-harinya. Hubungan mereka berkembang melalui momen-momen sederhana.

Tidak selalu ada kejutan besar atau pernyataan cinta yang megah. Justru percakapan, tawa, perjalanan bersama, dan kebiasaan kecil membuat hubungan mereka terasa dekat dengan kehidupan nyata. Kita bisa memahami mengapa Matsuri mulai sulit mempertahankan keputusannya untuk tidak jatuh cinta. Ketika seseorang membuat hidup terasa lebih hangat, menjaga jarak tidak lagi semudah yang direncanakan.

Namun, kebahagiaan itu hadir bersama kenyataan yang tidak bisa dihindari. Semakin banyak kenangan yang mereka ciptakan, semakin besar pula rasa takut Matsuri terhadap perpisahan. Ia ingin menikmati waktunya bersama Kazuto, tapi menyadari bahwa setiap hari yang indah tidak mengubah batas waktu yang dimilikinya.

Menurut saya, kekuatan film ini terletak pada cara ceritanya memperlihatkan bahwa rasa takut kehilangan dapat muncul justru ketika seseorang sedang merasakan kebahagiaan. Kita sering berpikir bahwa mencintai berarti berani mengambil risiko, tetapi film ini menunjukkan sisi yang lebih rumit, bagaimana jika risiko tersebut sudah diketahui sejak awal dan tidak ada cara untuk menghindarinya?

Di sisi lain, perjalanan Kazuto juga penting. Kehadiran Matsuri tidak serta-merta menghapus semua persoalannya, tetapi perlahan membantunya menemukan kembali keinginan untuk hidup. Hubungan mereka bukan tentang satu orang yang menyelamatkan orang lain secara ajaib.

Keduanya sama-sama belajar menemukan arti kehidupan melalui kebersamaan, meskipun mereka menghadapi ketakutan yang berbeda. Dari segi penyajian, film ini didukung akting Nana Komatsu dan Kentaro Sakaguchi yang mampu membangun kedekatan emosional tanpa harus selalu mengandalkan dialog dramatis.

Visual yang lembut serta musik dari RADWIMPS turut memperkuat suasana melankolisnya. Meski demikian, beberapa bagian terasa cukup panjang dan emosinya terkadang disampaikan dengan cara yang sangat sentimental. Penonton yang kurang menyukai drama romantis penuh air mata mungkin merasa pendekatannya terlalu melow dan dramatis.

Meski begitu, The Last 10 Years tetap menyimpan pesan yang membekas. Film ini tidak menyuruh kita hidup setiap hari seolah-olah besok adalah hari terakhir. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa hidup tidak harus menunggu ancaman kehilangan untuk mulai dihargai.

Pada akhirnya, kita memang tidak pernah benar-benar mengetahui berapa lama waktu yang tersisa bersama seseorang. Karena itu, mungkin yang paling penting bukanlah memastikan bahwa semua kisah cinta berakhir bahagia, melainkan berani menjalaninya dengan tulus selama kesempatan itu masih ada.

Karena sepuluh tahun yang dipenuhi cinta dan keberanian jauh lebih bermakna daripada waktu yang panjang tetapi terus kita habiskan dengan menunda kebahagiaan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda