Ulasan

Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel

Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
The Best Thing. (iQIYI)

The Best Thing adalah drama China bergenre slow-burn healing romance yang tayang di iQIYI. Drama ini langsung menarik perhatian penonton sejak awal perilisannya karena menawarkan cerita yang tenang dan santai. Duet Zhang Linghe dan Xu Ruohan sukses membawakan kisah cinta yang menghibur sekaligus menenangkan bagi para penonton.

Sepanjang 28 episode, penonton diajak menikmati bagaimana rasa cinta tumbuh perlahan dari perhatian-perhatian kecil yang tulus. Menonton drama ini terasa dekat dengan kehidupan nyata namun dikemas dengan visual yang bagus, membuat siapa saja bisa menikmati ceritanya dengan santai.

Pertemuan Takdir Sang Workaholic dan Dokter TCM

The Best Thing. (iQIYI)
The Best Thing. (iQIYI)

Cerita ini berpusat pada kehidupan Shen Xifan (diperankan oleh Xu Ruohan), seorang manajer hotel yang sangat gila kerja atau workaholic. Sebagai wanita karier yang ambisius, Xifan menaruh seluruh energi dan waktunya untuk pekerjaan, sampai-sampai ia mengabaikan kesehatan fisiknya sendiri. Akibat tekanan kerja yang luar biasa tinggi dan jam istirahat yang berantakan, ia menderita insomnia kronis membandel serta sakit kepala migrain yang seringkali menyiksa hari-harinya.

Kondisi fisik yang kian memburuk akhirnya memaksa Shen Xifan untuk pergi berobat ke rumah sakit. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan He Suye (diperankan oleh Zhang Linghe), seorang dokter muda yang mendalami pengobatan tradisional Tiongkok atau Traditional Chinese Medicine (TCM). Berbeda dengan Xifan yang hidup dalam tempo serba cepat dan penuh tekanan, Dokter He adalah sosok pria yang sangat tenang, lembut, penuh kesabaran, dan selalu berbicara dengan nada yang meneduhkan hati.

Hubungan mereka awalnya murni berjalan profesional layaknya dokter dan pasien pada umumnya. Namun, Shen Xifan yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya seringkali lupa meminum obat herbal yang sudah diresepkan secara teratur. Hal ini membuat Dokter He harus memberikan perhatian ekstra, mulai dari sekadar mengingatkan jadwal minum obat hingga memantau perkembangan kesehatan Xifan secara berkala demi memastikan pasiennya tersebut bisa sembuh total.

Kedekatan mereka semakin berlanjut ketika keduanya tidak sengaja mengetahui bahwa mereka ternyata tinggal di dalam kompleks perumahan yang sama. Pertemuan-pertemuan yang awalnya terjadi di koridor rumah sakit yang dingin kini berubah menjadi interaksi santai di lingkungan rumah yang hangat.

Perlahan tapi pasti, kehadiran Dokter He yang penuh perhatian mulai menyembuhkan bukan hanya penyakit fisik Shen Xifan, melainkan juga rasa kesepian di hatinya, menumbuhkan benih romansa yang sangat manis di antara mereka.

Review Drama The Best Thing

The Best Thing. (iQIYI)
The Best Thing. (iQIYI)

Saat pertama kali mengikuti interaksi mereka, aku langsung suka dengan cara drama ini membangun chemistry tanpa harus pamer adegan mesra yang berlebihan. Zhang Linghe dan Xu Ruohan tampil luar biasa kompak dengan gestur-gestur kecil yang terasa sangat intim. Tatapan mata Dokter He yang teduh atau senyum canggung Xifan saat ketahuan lupa minum obat justru jauh lebih mendebarkan daripada konflik romansa yang meledak-ledak.

Salah satu bagian yang paling kuingat saat melihat rutinitas Shen Xifan yang mengorbankan kesehatan demi tuntutan karier. Penggambaran dunia kerja di drama ini terasa sangat dekat dengan realita generasi muda zaman sekarang yang sering lupa caranya istirahat. Namun, kehadiran sosok Dokter He di sini seolah menjadi pengingat yang bukan cuma buat Xifan, tapi juga buat penonton bahwa tubuh kita punya batas dan berhak untuk dirawat dengan baik.

Visual dan sinematografi drama ini juga menjadi alasan kuat mengapa aku betah mengikuti drama ini. Pemilihan palet warna yang cenderung hangat, pencahayaan yang lembut, hingga musik latar yang menenangkan berpadu sempurna dengan tema healing yang diusung sejak awal. Setiap sudut klinik TCM milik Dokter He atau suasana sore di kompleks perumahan mereka disajikan dengan estetika tinggi yang memberikan efek relaksasi yang luar biasa bagi penonton.

Memang, harus diakui kalau drama ini punya tempo yang tergolong lambat, terutama saat memasuki pertengahan cerita di mana plotnya lebih banyak berputar pada keseharian mereka. Bagi penonton yang terbiasa dengan drama penuh intrik politik atau konflik pihak ketiga yang bikin emosi, ritme slow-burn ini akan terasa sedikit membosankan.

Secara keseluruhan, The Best Thing berhasil membuktikan bahwa sebuah kisah cinta tidak selalu membutuhkan konflik yang besar atau drama yang melelahkan untuk bisa terlihat menarik dan membekas di hati. Ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana menemukan ketenangan di tengah riuhnya dunia, dan bagaimana cinta yang tepat bisa menyembuhkan luka-luka yang tidak terlihat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda