Ulasan
Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat
Film Mawang: Jangan Sebut Namanya tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Karya sutradara Iqbal Rachman produksi Bersahaja Entertainment (eksekutif produser Arbi Leo) ini berdurasi 88 menit dengan klasifikasi remaja 13+. Film ini sebelumnya sempat diputar terbatas di wilayah Bangka Belitung sejak Juni 2024, sebelum rilis nasional yang lebih luas di jaringan XXI, CGV, Cinépolis, Platinum Cineplex, dan lainnya.
Film ini mengangkat legenda lokal Pulau Bangka tentang Mawang, makhluk berbadan besar, berbulu lebat, bertaring, dan berkuku tajam. Pantangan utamanya sederhana namun mengerikan: jangan sebut namanya, sebab penyebutan nama dapat memanggil kehadirannya.
Sisi Gelap Persekutuan Hitam Nusantara

Latar cerita terbagi dua. Pada 1981, terjadi konflik antara kakak dan adik terkait peliharaan tersebut. Kakak ingin memelihara Mawang demi memperoleh kekuatan dan kekayaan, sementara adik berupaya melindungi keluarga dari dampak buruknya. Akhirnya makhluk itu dikurung dalam kotak keramat.
Puluhan tahun kemudian, sekelompok mahasiswa—Lingga, Riska, Ryan (atau Rian), dan Wulan—menerima tugas meneliti pohon Pelawan, spesies langka yang tumbuh di beberapa wilayah termasuk Bangka. Lingga, yang memiliki hubungan keluarga dengan daerah tersebut, memimpin rombongan.
Sepupunya, Abbas (diperankan Aldi Taher), sempat memperingatkan agar tidak datang. Mereka menginap di rumah penduduk lokal, Mang Sau, dan dibantu putranya, Bujang (Adi Saputra/Adijosa). Saat penelitian di hutan, Ryan menemukan kotak kuno tersegel dan membuka segelnya. Sejak saat itu, teror Mawang dimulai, menyebar dari kelompok mahasiswa ke masyarakat sekitar.
Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya

Pemeran utama meliputi Aldi Taher, Abdul Roni, Dita Zulaika, Rizki Akbar, Puput Marshanda, dan Adi Saputra, didukung sejumlah aktor lokal Bangka Belitung. Keterlibatan talenta daerah menjadi salah satu kekuatan film ini. Bahasa daerah yang digunakan oleh tokoh lokal terasa lebih natural dibandingkan dialog para mahasiswa luar.
Latar syuting di hutan alami Bangka memberikan suasana otentik yang mendukung tema kearifan lokal dan mitos setempat. Sutradara Iqbal Rachman dan tim produksi melakukan riset serta melibatkan tetua adat, bahkan menjalani proses ritual sebelum pengambilan gambar di lokasi yang dianggap angker.
Dari segi horor, film mengandalkan desain makhluk Mawang yang cukup meyakinkan untuk skala produksi regional—wujud berbulu, bertaring, dan berkuku tajam berhasil menyampaikan ancaman fisik. Suasana hutan yang gelap, suara-suara alam, serta larangan menyebut nama menjadi elemen pembangun ketegangan.
Akan tetapi, menurutku kekuatan horornya masih terbatas. Penggunaan skor musik yang berlebihan sering menggantikan pembangunan suasana secara organik, sementara akting sebagian pemain terasa kaku. Alur di babak akhir juga kurang memuaskan dalam membangun klimaks yang kuat, sehingga terasa seperti produksi dengan keterbatasan teknis dengan khas film daerah.
Adegan paling menyeramkan berpusat pada momen pelepasan Mawang. Saat Ryan membuka kotak keramat di tengah hutan, suasana berubah drastis. Kehadiran makhluk yang telah terkunci puluhan tahun muncul secara mendadak, disertai teror fisik dan psikologis terhadap kelompok mahasiswa. Serangan di hutan gelap, dengan gerakan makhluk yang cepat dan kuku tajam, menciptakan momen-momen kejutan yang intens.
Adegan-adegan di mana tokoh terpaksa menahan diri agar tidak menyebut nama, sementara ancaman semakin dekat, juga efektif dalam membangun rasa takut yang berkelanjutan. Pengalaman syuting di lokasi nyata yang dianggap angker, termasuk laporan perubahan sikap pemain seperti Aldi Taher yang merasa lebih mudah emosional, menambah lapisan realitas di balik layar.
Adegan yang paling kuingat setelah menonton adalah kontras antara masa lalu 1981 dan masa kini. Konflik kakak-adik yang berujung pada pengurungan Mawang memberikan fondasi emosional dan moral bagi cerita. Momen ketika para mahasiswa, yang datang dengan semangat ilmiah, harus berhadapan dengan kepercayaan lokal yang mereka anggap takhayul, menjadi titik balik yang kuat.
Interaksi antara Bujang dan kelompok luar, serta upaya penduduk setempat menghadapi ancaman yang kembali muncul, meninggalkan kesan tentang pentingnya menghormati mitos dan pantangan daerah. Desain visual Mawang sendiri, meskipun tidak selalu didukung efek khusus yang canggih, tetap melekat sebagai representasi legenda Bangka yang berhasil diangkat ke layar lebar.
Jadi kesimpulannya, Mawang: Jangan Sebut Namanya merupakan upaya berharga untuk memperkenalkan cerita rakyat Bangka Belitung melalui genre yang digemari penonton Indonesia. Film ini tidak mengklaim sebagai karya horor kelas atas secara teknis, namun berhasil menyampaikan pesan tentang bahaya mengabaikan kearifan lokal.
Buat kamu yang mencari pengalaman horor berbasis mitos daerah dengan latar hutan yang autentik, film ini layak ditonton di bioskop. Kekuatan utamanya terletak pada akar budaya yang kuat dan semangat produksi lokal, meski kekurangan pada aspek akting dan penyuntingan masih terasa. Rilis nasional pada 29 Oktober 2026 memberikan kesempatan lebih luas bagi penonton di seluruh Indonesia untuk mengenal Mawang dan pantangan yang menyertainya. Rating pribadi: 6.6/10.