Ulasan

Drawing Closer: Apa yang Ingin Kita Tinggalkan Jika Waktu Kita Terbatas?

Drawing Closer: Apa yang Ingin Kita Tinggalkan Jika Waktu Kita Terbatas?
Drawing Closer (Instagram/netflixmy)

Ada sesuatu yang menyedihkan dari mengetahui bahwa waktu kita di dunia tidak sebanyak yang dibayangkan.

Hal-hal yang biasanya dianggap biasa, seperti menikmati sore hari, mengobrol dengan seseorang, atau sekadar melihat langit, tiba-tiba terasa jauh lebih berharga ketika kita tahu semuanya mungkin tidak akan berlangsung lama.

Inilah perasaan yang coba disampaikan Drawing Closer (2024), film romantis Jepang yang tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap menjalani hidup di tengah ketidakpastian.

Disutradarai oleh Takahiro Miki, film ini mengikuti kehidupan Akito Hayasaka (Ren Nagase), seorang remaja berbakat yang memiliki impian menjadi seniman. Namun, hidupnya berubah setelah ia didiagnosis menderita penyakit jantung terminal dan diperkirakan hanya memiliki waktu satu tahun untuk hidup.

Di tengah keputusasaan menghadapi masa depan yang terasa semakin pendek, Akito bertemu dengan Haruna Sakurai (Natsuki Deguchi), seorang gadis yang juga mengidap penyakit serius dan diperkirakan hanya memiliki enam bulan tersisa.

Pertemuan keduanya perlahan menghadirkan warna baru dalam kehidupan yang sebelumnya terasa kehilangan arah. Meski sama-sama mengetahui bahwa waktu mereka terbatas, Akito dan Haruna memiliki cara berbeda dalam menghadapi kenyataan tersebut. Hubungan mereka kemudian berkembang menjadi kisah cinta yang hangat, tetapi dibayangi oleh sesuatu yang tidak bisa mereka hindari.

Hal pertama yang menarik dari Drawing Closer adalah bagaimana film ini mempertemukan dua orang dengan nasib serupa, tetapi sudut pandang yang berbeda. Akito cenderung menyimpan kesedihan dan berusaha menjalani hidup tanpa terlalu banyak memperlihatkan perasaannya.

Sementara itu, Haruna terlihat lebih berani menikmati hari-harinya, seolah tidak ingin membiarkan penyakit merampas seluruh kebahagiaan yang masih bisa ia rasakan. Perbedaan tersebut membuat hubungan mereka terasa lebih bermakna.

Haruna bukan sekadar sosok yang hadir untuk menyelamatkan Akito dari kesedihannya. Ia juga memiliki ketakutan, keinginan, dan harapan yang membuatnya terasa sebagai manusia utuh. Begitu pula Akito, yang perlahan belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menghitung berapa lama seseorang bisa bertahan, melainkan bagaimana ia menggunakan waktu yang dimiliki.

Meski begitu, film ini memang tidak sepenuhnya menawarkan sesuatu yang baru. Kisah cinta dengan latar penyakit mematikan sudah cukup sering ditemukan dalam film romantis. Beberapa bagian ceritanya pun terasa mudah ditebak dan sengaja dibangun untuk menggiring emosi penonton. Jika terbiasa menonton drama dengan konflik serupa, mungkin ada momen ketika kita bisa menebak ke mana arah ceritanya.

Namun, menurut saya, kekuatan Drawing Closer bukan terletak pada kejutan ceritanya. Justru, film ini lebih menarik ketika memperlihatkan hal-hal sederhana yang dilakukan kedua tokohnya. Percakapan kecil, kebersamaan, hingga momen ketika mereka mencoba membuat satu sama lain tersenyum menjadi bagian yang terasa paling berkesan.

Dari segi visual, film ini juga memiliki pendekatan yang lembut. Penggunaan warna, suasana, dan pengambilan gambar membantu membangun nuansa melankolis tanpa harus terus-menerus menghadirkan adegan dramatis. Akting Ren Nagase dan Natsuki Deguchi turut mendukung hubungan kedua karakter sehingga kedekatan mereka terasa cukup natural. Musik pengiringnya pun memperkuat suasana emosional yang ingin disampaikan.

Satu hal yang membuat film ini cukup membekas adalah pertanyaan tentang makna meninggalkan sesuatu setelah kita tidak lagi ada. Selama ini, kita mungkin berpikir bahwa hidup yang bermakna harus dipenuhi pencapaian besar. Padahal, bisa jadi hal paling berarti justru adalah kenangan sederhana yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain.

Drawing Closer mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak waktu yang tersisa. Karena itu, menunda kebahagiaan sampai semuanya terasa sempurna mungkin bukan pilihan terbaik. Ada orang yang perlu kita temui, perasaan yang perlu kita ungkapkan, dan momen yang sebaiknya tidak terus-menerus kita lewatkan.

Pada akhirnya, film ini memang menyedihkan, tetapi bukan kesedihan yang sepenuhnya membuat kita kehilangan harapan. Ia justru mengajak kita menghargai kehidupan melalui cerita dua orang yang berusaha menemukan kebahagiaan di tengah waktu yang semakin sempit.

Mungkin itulah pesan paling sederhana sekaligus paling sulit untuk dilakukan, bahwa kita tidak bisa menentukan berapa lama akan hidup, tetapi kita masih bisa memilih bagaimana cara kita menjalani hari ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda