Ulasan
Atasi Burnout Lewat Buku When Your Life Keeps Moving but Your Energy Stops
Banyak orang yang sering bingung karena sudah menerapkan berbagai teori produktivitas, mulai dari menjaga pola makan, tidur yang cukup, hingga manajemen waktu yang baik, tapi ternyata belum bisa maksimal menjalankan kehidupan. Di satu sisi, ada tuntutan untuk harus bergerak, bekerja, dan menyelesaikan tugas. Namun, di sisi lain, tidak ada energi untuk melakukannya.
Buku berjudul When Your Life Keeps Moving but Your Energy Stops yang ditulis oleh Dr. Feri Sulianta mungkin bisa menjadi panduan agar kita memperbaiki hal tersebut. Buku ini membahas tentang bagaimana cara mengelola energi agar bisa produktif tanpa merasa kelelahan yang berlebihan.
Jika seseorang kerap merasa kelelahan berlebihan dan burnout, menurut Dr. Feri, salah satu faktor yang bisa menyebabkannya adalah adanya kebocoran energi. Energi yang dimaksud di sini adalah energi spiritual yang memberikan kita makna dan kesadaran akan kehidupan.
Kebocoran energi spiritual ini seringnya tidak disadari. Meskipun kita sudah memperbaiki banyak aspek kehidupan, jika masih ada lubang-lubang yang tidak ditambal akan percuma. Kebocoran ini akan membuat kita semakin kelelahan dan tidak berdaya.
Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menelusuri apa saja kebocoran energi yang seringkali kita abaikan. Mulai dari kebiasaan buruk dan pola negatif, ketidakpedulian pada diri sendiri, lingkungan yang tidak supportif, hingga adanya trauma dan luka batin yang belum sembuh.
Di antara beberapa solusi yang bagi saya cukup menarik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah teknik decluttering, meditasi, menciptakan rutinitas positif yang konsisten, dan sesekali menghabiskan waktu di alam.
Bagi sebagian pembaca, decluttering mungkin merupakan konsep yang sudah cukup populer. Namun, dalam konteks mengatasi kebocoran energi, decluttering ini bukan sekadar merapikan dan membuang barang-barang yang tidak lagi mendatangkan kebahagiaan dalam hidup. Tapi juga merapikan lingkungan mental dan emosional.
Sebagaimana kita mengurangi dan merapikan barang-barang di sekeliling, kita juga perlu belajar mengurangi dan merapikan pikiran serta perasaan negatif yang membebani.
Adapun untuk meditasi, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam membantu kita memulihkan energi spiritual. Ketika merasa burnout, duduk sejenak dan mengambil jeda dalam keheningan mengosongkan pikiran ibarat sedang mengisi ulang energi agar lebih siap dalam menghadapi berbagai persoalan.
Tips lain yang bagi saya cukup menarik untuk memulihkan energi adalah terkoneksi dengan alam. Alam adalah sumber ketenangan yang dapat memperbarui energi batin. Dengan sesekali menghabiskan waktu di alam, baik dengan mendaki gunung, menyusuri pantai, atau sekedar berjalan-jalan di taman adalah aktivitas yang bisa membuat seseorang lebih mindful.
Sebenarnya saya cukup suka dengan ide tentang kebocoran energi spiritual yang dibahas penulis. Sebab, pembahasan ini sepertinya cukup relevan untuk dikaji zaman sekarang. Hanya saja, eksekusi dari idenya kurang memuaskan. Tidak ada konsep yang kelihatan baru karena tips yang dipaparkan penulis bisa ditemukan dalam buku bertema produktivitas lain yang sudah lebih dahulu populer.
Oleh karena bukunya ditulis oleh seorang akademisi, narasi yang ada di dalamnya juga terkesan seperti buku teks. Padahal, konsepnya cukup unik. Namun pengembangan dari idenya kurang memuaskan. Bagi pembaca yang mudah bosan membaca buku dengan kalimat yang terlalu baku, formal, dan kurang dekat dengan realita yang ada, buku ini mungkin kurang menarik.
Namun, terlepas dari hal tersebut, buku ini sangat informatif. Bagi Sobat Yoursay yang cenderung mengutamakan informasi dan pengetahuan yang ada dalam suatu bacaan, buku ini cukup menginspirasi.