Ulasan
Inner Child, Trauma, dan Topeng Superhero: Pelajaran dari Buku dr. Andreas
Bagaimana cara memaafkan orang tua? Bagi sebagian orang, ini terasa sulit. Rasanya tidak mudah memaafkan orang tua ketika kita punya inner child yang terluka. Tapi pernah tidak, kita membayangkan kalau orang tua kita juga sebenarnya adalah korban trauma warisan yang belum sembuh?
Ketika berada di posisi mereka yang juga terluka, mungkin kita akan melakukan hal yang sama. Saat itu mereka juga butuh dibantu dan ditolong. Sayangnya, tidak ada yang datang kepada mereka dan memberitahu bagaimana cara menjadi orang tua yang baik.
Ketika saya menempatkan diri pada posisi tersebut, menjadi orang tua dengan privilese mengetahui bahwa apa yang saya rasakan adalah warisan trauma yang belum selesai rasanya sedikit menenangkan. Itulah salah satu hal berharga yang saya temukan saat membaca buku 'Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero' karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ.
Jujur saja, butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Bukan karena isinya sulit dipahami atau gagasannya membosankan. Justru karena dr. Andreas menghadirkan gagasan-gagasan yang sangat relatable dengan apa yang saya alami, dan mungkin yang juga dirasakan oleh beberapa orang. Mulai dari memahami persona yang membuat diri penuh dengan pencitraan yang seakan palsu, menelaah luka pengasuhan, hingga mengatasi inner child yang belum selesai.
Lewat narasi tentang kisah seorang pasien bernama Stelora dan Viktor dengan 'topeng' superhero-nya masing-masing, dr. Andreas mengajak pembacanya untuk bercermin. Stelora dengan topeng seorang ibu yang telaten dan penyayang tapi kerap merasa benci dengan anaknya sendiri. Lalu ada Viktor dengan topeng seorang pria pemarah tapi sebenarnya menyembunyikan perasaan rapuhnya.
Mereka bersembunyi di balik persona yang ingin ditampilkan ke publik, lalu menyembunyikan apa yang terlihat sebagai kelemahan yang jadi imbas dari luka pengasuhan.
Memakai topeng persona itu terkadang melelahkan, maka kita perlu belajar melepasnya. Melepasnya saat kita merasa aman saat berada dengan diri sendiri.
Salah satu tips yang bagi saya cukup insightful untuk mengatasi trauma pengasuhan adalah dengan melakukan prediction-correction terhadap trauma. Dalam kasus Stelora dan Viktor, dr. Andreas menjelaskan bahwa otak manusia itu selalu membuat prediksi yang belum tentu benar. Sayangnya, ketika prediksi itu dibuat, bisa jadi tanpa sadar manusia itu berusaha membuktikan prediksi tersebut.
Solusinya adalah latihan menyapa ketakutan dan membuktikan bahwa prediksi itu salah. Semakin sering melakukannya, semakin kuat perubahan di otak.
Tips selanjutnya adalah mengubah identitas negatif dengan cara yang sederhana. Misalnya saat saya meyakini bahwa saya adalah tipe orang yang mager, maka saya perlu membiasakan diri bergerak tidak tergantung mood. Saya orang yang pemalas, maka saya perlu membiasakan diri untuk disiplin.
Jangan terpaku para suatu identitas sehingga kita menggantungkan kebahagiaan pada identitas itu. Misalnya identitas sebagai istri, ibu, ataupun anak yang kerap monoton dan membosankan. Sesekali kita boleh punya identitas sebagai penulis, atau mungkin seorang chef, seorang penyanyi, atau apapun yang membuat kita bahagia menjalani kegiatan di dalamnya.
Saat sedang merasa terpuruk, sadari bahwa sumber penderitaan terkadang bukan apa yang terjadi, melainkan bagaimana kita menilai atau menghakimi kejadian tersebut. Setiap kali ingatan buruk tentang suatu kejadian itu muncul, sadari momen saat ini dan katakan:
"Ya, semua itu terjadi. Lokasinya di masa lalu. Waktunya di masa lalu. Saat ini, hal itu sedang tidak terjadi" (Halaman 205)
Hal terpenting yang harus kita lakukan adalah memberi batasan antara masa kini dan masa lalu. Ada rantai yang menghubungkan keduanya yang perlu kita putus.
Saat sedang bergelut dengan inner child yang terluka, kita perlu mengingat bahwa kontribusi kita terhadap terhadap dunia barangkali sesederhana menghentikan pola toksik turun temurun. Menjadi filter kerusakan sehingga bisa menyajikan air yang jernih untuk anak keturunan dan orang di sekitar.
Rasa sakit dalam keluarga terjadi karena tidak ada yang mau memproses dan merasakannya. Bahkan tidak jarang kita malah denial atau menormalisasinya seakan jadi hal yang sudah biasa, berpikir bahwa dari dulu juga seperti itu. Ingatlah kata dr. Andreas, bahwa rasa sakit itu bukan salahmu tapi sembuh adalah tanggungjawabmu.
Jadi, bagi kamu yang sedang merasa butuh bacaan untuk mengatasi inner child yang terluka atau pulih dari trauma pengasuhan, buku ini bisa menjadi rekomendasi bacaan yang menarik untuk disimak!