M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Ilustrasi kurir paket (Nano Banana/Gemini AI)
Sherly Azizah

"Paket! Parsel Imlek! Takjil gratis!"

Suaraku serak, kalah telak oleh denting lonceng gereja yang menandai ibadah Prapaskah, yang anehnya bersahutan dengan pengeras suara masjid yang mulai melantunkan ayat suci menjelang buka puasa. Di ujung jalan, sekelompok remaja berpakaian merah-merah sibuk membagikan cokelat Valentine dengan stiker ucapan selamat berpuasa. Gila. Tahun 2026 ini benar-benar menguji kewarasan saraf motorikku.

Aku, Satria, adalah kurir yang sedang memanggul beban toleransi setinggi satu meter di atas motor matikku. Ada kotak kue keranjang, paket cokelat praline berbentuk hati, hingga kurma sukari premium dalam satu tumpukan yang sama.

"Mas Satria, ini paket terakhir untuk alamat Jalan Kenanga Nomor 13. Harus sampai sebelum azan magrib, ya. Orangnya cerewet," pesan koordinator gudang tadi siang.

Masalahnya, sekarang sudah pukul 17.40. Langit Jakarta yang mulai meredup tertutup kepulan asap dupa dari kelenteng di ujung gang, berbaur dengan aroma kolak pisang yang tajam dari pasar kaget. Perutku melilit. Sebagai orang yang sedang menjalankan ibadah puasa di tengah jadwal pengiriman yang meledak karena "Perayaan Ganda" ini, konsentrasiku mulai buyar.

Kuarahkan motor ke Jalan Kenanga. Rumah nomor 13 tampak kusam di antara tetangganya yang mencolok dengan hiasan lampion merah dan lampu kelap-kelip Paskah. Tidak ada dekorasi apa pun di sana. Sepi.

Aku mengetuk pagar besi yang berkarat. "Paket! Atas nama Ibu Maria Ulfa!"

Seorang wanita paruh baya keluar. Wajahnya pucat, matanya sembab. Ia mengenakan kerudung hitam yang disampirkan asal-asalan. Di tangannya, ada sebuah salib kecil yang ia genggam erat, namun di sekelilingnya melingkar sebuah tasbih kayu. Aku tertegun.

"Lama sekali, Mas," suaranya datar, hampir berbisik. "Hampir saja terlambat."

"Maaf, Bu. Jalanan macet total. Ada pawai barongsai dan pembagian takjil di depan," kataku sambil menyerahkan kotak besar berpita merah—paket Imlek.

Ia menerima paket itu, tetapi tidak segera membukanya. Ia malah melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas sudah buka puasa?"

Aku melirik jam tangan. "Lima menit lagi, Bu. Saya masih punya satu paket lagi setelah ini."

Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara barang pecah. Malah!

Ibu Maria tersentak. Ia tidak masuk ke dalam, malah duduk di teras dan mulai terisak. Di situlah kejadian tak terduga itu bermula. Aku yang seharusnya mengejar setoran, malah mematung di balik pagar.

"Anakku... dia meninggal tahun lalu, tepat di hari seperti ini," ucapnya tiba-tiba. "Dia yang memesan paket ini secara otomatis melalui sistem pre-order setahun lalu. Dia ingin merayakan semua momen tahun ini. Dia bilang, 'Ma, tahun 2026 itu unik, kita bisa makan kue keranjang sambil menunggu azan magrib, lalu besoknya kita ke gereja bareng'."

Aku terdiam. Paket yang kuantar ternyata adalah "pesan" dari orang mati. Sebuah rahasia yang tersimpan dalam sistem algoritma belanja daring.

"Anak Ibu... Muslim?" tanyaku ragu, mengingat penampilan dan benda yang ia pegang.

"Ayahnya Katolik, saya mualaf. Kami merayakan semuanya di rumah ini. Namun, setelah dia pergi, rumah ini hanya jadi gudang sunyi. Saya tidak tahu harus berbuka dengan apa atau berdoa dengan cara yang mana. Semua agama bicara tentang cinta, tetapi kenapa kehilangan rasanya sesepi ini?"

Azan magrib berkumandang. Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Di saat yang sama, lonceng gereja di seberang blok berdenting tujuh kali. Suasana ajaib yang hanya terjadi di tahun 2026. Aku merogoh kantong jaket, mengeluarkan kemasan air mineral dan sebutir kurma sisa jatah kantin gudang.

"Bu," aku menyodorkan kurma itu lewat celah pagar. "Mari berbuka. Apa pun doanya, Tuhan tahu Ibu sedang rindu."

Wanita itu menatap kurma tersebut, lalu menatap paket Imlek di pangkuannya. Ia mengambil kurma itu, membelahnya menjadi dua, dan memberikan sebagiannya kembali kepadaku. Kami berbuka di sana, di antara pagar berkarat, di tengah hiruk-pikuk dunia yang sedang merayakan perbedaan.

"Mas tahu apa yang paling menyakitkan dari toleransi?" tanyanya setelah menelan kurma itu.

Aku menggeleng.

"Ketika kita dipaksa menghargai perbedaan orang lain, tetapi kita sendiri lupa cara berdamai dengan perbedaan yang ada di dalam hati kita sendiri."

Ia berdiri, menyeka air matanya, dan memberikan sebuah amplop kecil kepadaku. "Jangan dibuka sampai Mas tiba di rumah. Tolong, antar paket terakhir Mas. Jangan sampai ada orang lain yang menunggu dalam keheningan seperti saya."

Aku mengangguk, menyalakan mesin motor, dan pergi dengan perasaan berkecamuk. Di lampu merah, aku melihat sekeliling. Orang-orang tertawa, berfoto di bawah lampion, mengenakan kaus bergambar hati, sambil menenteng plastik berisi takjil. Dunia tampak begitu indah dan penuh warna, tetapi di balik pintu nomor 13, ada warna kelabu yang tak tersentuh kamera media sosial.

Sesampainya di kontrakan, setelah salat Isya, aku teringat amplop dari Ibu Maria. Aku membukanya. Isinya bukan uang tips, melainkan sebuah catatan kecil dan sebuah kunci cadangan.

"Mas Satria, paket yang kamu antar tadi sebenarnya bukan berisi kue keranjang. Isinya adalah surat wasiat anak saya untuk siapa pun kurir yang mengantarnya tepat waktu. Dia ingin rumah ini tidak lagi sunyi. Jika Mas tidak keberatan, datanglah besok pagi. Ada rahasia di balik pintu nomor 13 yang butuh saksi."

Aku tertegun. Rahasia apa? Kenapa harus aku?

Di luar, kembang api Imlek mulai meluncur ke langit, bersahutan dengan suara tadarus yang syahdu. Aku menatap kunci di tanganku. Tahun 2026 baru saja dimulai, dan sepertinya Ramadan kali ini tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membuka pintu-pintu yang selama ini terkunci rapat oleh prasangka dan luka.

Besok adalah hari Valentine, sekaligus hari kelima puasa. Dan aku akan kembali ke Jalan Kenanga Nomor 13.