Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar cerpen Manusia dengan nomor seri (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Di tahun 2147, Negara Kesatuan Manusia telah menyempurnakan sistem yang disebut Serialisasi. Setiap bayi yang lahir langsung diberi nomor seri tertanam di otak melalui chip nano. Nomor itu bukan sekadar identitas; itu adalah skor hidup. Skor yang dihitung secara real-time oleh Algoritma Pusat berdasarkan produktivitas, kepatuhan, konsumsi, dan interaksi sosial. Skor di atas 800 berarti privilege: makanan alami, rumah luas, akses ke taman hijau. Skor di bawah 500 berarti daur ulang—tubuh dibius, organ dipanen, memori dihapus untuk bahan baku manusia baru.

Aku adalah SER-7741-09. Skor terkini: 612. Cukup untuk bertahan, tapi tidak cukup untuk bernapas lega.

Pagi ini, seperti biasa, aku bangun di kapsul tidur berukuran peti mati. Dinding kapsul menyala, menampilkan pesan harian: “Selamat pagi, SER-7741-09. Skor Anda stabil. Hari ini target kontribusi: 14 jam kerja di Pabrik Sintesis Protein. Jangan lupa senyum ke kamera pengawas—setiap senyum menambah 0,2 poin.”

Aku tersenyum. Bukan karena senang, tapi karena tahu kamera mengenali kurva bibir minimal 3 milimeter sebagai “senyum tulus”.

Di kereta maglev menuju pabrik, aku duduk di bangku kelas menengah—kursi keras tanpa bantalan. Di depanku, seorang wanita dengan nomor SER-9120-44 tertidur. Skornya 914, terpampang di lencana dada bercahaya hijau. Dia boleh tidur karena skor tinggi memberi hak istirahat tambahan. Aku iri, tapi iri dikategorikan sebagai emosi negatif yang mengurangi 1 poin per menit. Jadi aku alihkan pandang ke jendela, melihat kota abu-abu yang sama setiap hari.

Di pabrik, tugasku menyusun rantai asam amino sintetis. Tangan robotikku—semua pekerja kelas menengah punya tangan prostetik untuk efisiensi—bergerak cepat. Setiap kesalahan dikurangi 5 poin. Setiap penyelesaian lebih awal ditambah 10 poin. Aku sudah ahli. Skor harian biasanya naik 40-50 poin.

Tapi hari ini berbeda.

Di stasiun istirahat 10 menit, aku melihat seorang pria tanpa lencana. Ia berdiri di sudut, wajahnya tidak terdaftar di database pengenalan wajahku. Ia memakai jaket usang, bukan seragam standar. Yang lebih aneh: ia tidak punya nomor seri yang terpancar di dahi seperti kita semua.

Ia mendekat. “Kamu SER-7741-09, kan?”

Aku mundur. Berbicara dengan orang asing tanpa izin mengurangi 20 poin. Tapi rasa ingin tahu lebih kuat. “Siapa kamu?”

“Aku dulu SER-0000-01. Nomor pertama. Prototipe.”

Itu mustahil. Nomor 0000-01 adalah legenda—manusia terakhir yang lahir alami sebelum Serialisasi diberlakukan. Katanya ia mati ratusan tahun lalu.

“Ia tidak mati,” katanya membaca pikiranku—atau mungkin chipku bocor sinyal. “Mereka menyembunyikanku di laboratorium bawah tanah. Aku satu-satunya yang tidak punya chip. Tidak punya skor. Tidak punya batas.”

Aku menatapnya. Matanya... berbeda. Tidak ada kilau biru samar dari chip nano yang kita semua miliki.

“Kenapa kamu cerita ini padaku?”

“Karena skor kamu mendekati 650. Ambang batas untuk promosi ke Kelas Atas. Tapi aku tahu kamu benci sistem ini. Aku baca data emosimu yang bocor saat kamu melihat langit buatan dan berpikir ‘ini bukan biru asli’.”

Jantungku—atau pompa jantung prostetikku—berdegup lebih cepat. Detektor stres pasti mencatat ini.

“Aku tawarkan sesuatu,” lanjutnya. “Aku bisa hapus chipmu. Kamu akan jadi seperti aku: bebas. Tapi skor kamu akan jadi nol permanen. Dan kalau ketahuan, daur ulang langsung.”

Aku tertawa kecil. “Bebas? Tanpa skor aku tidak bisa makan, masuk kereta, bahkan buka pintu kapsul.”

“Benar. Tapi kamu akan punya nama.”

“Nama?”

“Iya. Bukan nomor. Nama yang kamu pilih sendiri.”

Aku terdiam. Seumur hidupku, aku hanya SER-7741-09. Tidak ada nama orang tua, tidak ada cerita kelahiran. Hanya nomor.

Malam itu, di kapsul, aku tidak bisa tidur. Skor harian turun 15 poin karena “kurang istirahat optimal”. Aku memandang langit buatan di plafon kapsul—proyeksi bintang palsu yang sama setiap malam.

Keesokan harinya, aku kembali ke pabrik. Pria itu sudah menunggu di sudut yang sama.

“Putuskan sekarang. Besok aku pergi.”

Aku ragu. Skorku sudah 649. Besok promosi. Aku akan dapat makanan alami untuk pertama kalinya. Aku akan pindah ke distrik hijau.

Tapi aku teringat wanita di kereta dengan skor 914 yang tidur nyenyak. Apakah dia bahagia? Atau hanya terlatih untuk tidak bertanya?

Aku mendekat. “Lakukan.”

Prosedurnya cepat. Ia menyuntikkan sesuatu ke leherku. Rasa panas menyebar. Chip mati. Nomor di dahiku meredup. Skor menghilang dari penglihatanku.

Untuk pertama kalinya, aku merasa... kosong. Tapi kosong yang anehnya nyaman.

“Kamu sekarang bebas memilih nama,” katanya.

Aku memandang tanganku yang prostetik. “Aku ingin nama yang berarti ‘bukan nomor’.”

Ia tersenyum. “Bagus. Mulai sekarang, kamu bisa dipanggil Apa Saja.”

Kami keluar dari pabrik lewat terowongan servis. Di luar, untuk pertama kalinya aku melihat langit asli—bukan proyeksi. Abu-abu, berpolusi, tapi asli. Hujan turun, basah di kulitku yang sebagian sintetis.

Kami berjalan ke komunitas bawah tanah. Di sana ada puluhan orang seperti kami: mantan seri yang memilih nol. Mereka punya nama. Mereka tertawa tanpa kamera menghitung poin. Mereka makan makanan dicuri, tidur di tempat sembunyi, tapi mereka punya cerita.

Aku belajar bahwa kebebasan bukan berarti aman. Setiap hari ada razia. Banyak yang tertangkap dan didaur ulang. Tapi untuk pertama kalinya, aku punya pilihan: bertahan atau menyerah.

Suatu malam, aku bertanya pada prototipe, “Apa nama aslimu?”

Ia tersenyum sedih. “Aku lupa. Terlalu lama jadi 0000-01.”

Aku menggenggam tangannya. “Kalau begitu, mulai sekarang panggil saja kamu Adam.”

Ia mengangguk. Air mata jatuh—bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ada yang memanggilnya dengan nama.

Dan aku, yang dulu SER-7741-09, kini hanya “Apa Saja”. Skor: nol. Nilai hidup: tak terhitung.