Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Pocong Merah (IMDb)
Ryan Farizzal

Film horor Indonesia Pocong Merah tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 19 Februari 2026. Disutradarai oleh Hendra Lee, seorang sineas asal Ajibarang, Banyumas, film ini menjadi debut layar lebarnya setelah pengalaman panjang di balik layar.

Dengan durasi 83 menit dan rating dewasa 17+, Pocong Merah mengangkat genre horor supernatural yang berakar pada legenda urban Jawa, khususnya kisah tragis seorang dukun santet bernama Katiyem.

Produksi Checklist Cinema, film ini dibintangi oleh Adinda Halona, Ahmad Pule, Algojo, Ferdian Ariyadi, Billa Aurora, dan Sri Lakhsmi sebagai Katiyem. Lokasi syuting di Curug Cipendok, Banyumas, menambah nuansa autentik pedesaan Jawa.

Sinopsis: Pembunuhan Brutal di Desa Kaliboyong

Salah satu adegan di film Pocong Merah (Instagram/filmpocongmerah)

Ceritanya berpusat pada Katiyem, seorang dukun santet sakti di Desa Kaliboyong, Yogyakarta, yang difitnah oleh Japra atas tuduhan santet palsu. Ia dibunuh secara tragis, dimutilasi, dan dikubur dengan kain kafan berlumur darah, sehingga rohnya bangkit sebagai pocong merah—sosok lebih ganas daripada pocong biasa dalam mitos Indonesia.

Ketika sebuah keluarga baru pindah ke desa, mereka harus menghadapi kutukan lama, ritual kebangkitan mematikan, dan teror balas dendam dari arwah Katiyem. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata di Tanah Jawa, menggabungkan elemen mistis dengan konflik sosial seperti fitnah dan kekerasan desa.

Dari segi plot, Pocong Merah berhasil menyajikan narasi yang lebih dari sekadar jumpscare murahan. Hendra Lee menyisipkan lapisan emosional mendalam, terutama tema hubungan ibu-anak dan konsekuensi dendam tak berkesudahan.

Kisah Katiyem sebagai korban ketidakadilan sosial membuat penonton merenung, bukan hanya takut. Alur cerita dibangun secara gradual: mulai dari pengenalan desa yang tenang, escalasi misteri, hingga klimaks penuh teror. Akan tetapi, beberapa bagian terasa klise, seperti adegan hantu muncul tiba-tiba yang sudah umum di film horor Indonesia.

Meski begitu, integrasi legenda urban dengan pesan moral—seperti pentingnya keberanian dan ikatan keluarga—membuatnya menonjol. Film ini mengingatkan pada karya seperti Pengabdi Setan, tapi dengan sentuhan lokal Jawa yang lebih kuat.

Ulasan Film Pocong Merah

Salah satu adegan di film Pocong Merah (Instagram/filmpocongmerah)

Akting para pemain patut aku acungi jempol. Sri Lakhsmi sebagai Katiyem menyampaikan nuansa tragis dan menyeramkan dengan baik, membuat karakter dukun santet ini relatable sebagai korban, bukan sekadar antagonis.

Adinda Halona dan Ahmad Pule sebagai bagian keluarga baru membawa dinamika emosional yang meyakinkan, terutama dalam adegan konflik batin menghadapi kutukan. Ferdian Ariyadi dan Algojo menambah kedalaman dengan peran pendukung yang solid, meskipun dialog kadang terdengar kaku karena pengaruh bahasa Jawa campur Indonesia.

Secara keseluruhan, chemistry antar pemain membuat cerita lebih hidup, meski beberapa aktor pendatang baru terlihat kurang berpengalaman di momen intens.

Sutradara Hendra Lee menunjukkan keahlian dalam membangun atmosfer. Penggunaan lokasi alam seperti Curug Cipendok memberikan visual gelap dan mistis yang autentik, didukung sinematografi yang memanfaatkan cahaya redup dan suara angin untuk meningkatkan ketegangan.

Efek visual pocong merah cukup menyeramkan, dengan makeup dan CGI yang tidak berlebihan tapi efektif. Sound design menjadi kekuatan utama: suara kain kafan bergesek dan bisikan arwah menciptakan chill yang nyata.

Namun, produksi low-budget terlihat di beberapa scene, seperti editing yang agak kasar dan pencahayaan tidak konsisten. Musik latar berbasis gamelan Jawa menambah nuansa budaya, tapi kadang overpowering.

Kelebihan utama film ini adalah pesan moralnya yang menyentuh. Bukan hanya horor, Pocong Merah mengkritik masyarakat yang mudah memfitnah dan kekerasan berbasis takhayul. Ini membuat penonton pulang dengan renungan, bukan hanya ketakutan sementara.

Antusiasme pra-rilis tinggi, dengan trailer yang viral dan diskusi di media sosial tentang legenda pocong merah. Kekurangan: pacing lambat di awal, dan ending yang predictable bagi penggemar horor. Juga, elemen santet terlalu eksplisit, mungkin kurang inovatif.

Secara keseluruhan, Pocong Merah adalah tambahan segar untuk horor Indonesia di 2026. Rating pribadi dariku7/10. Cocok untuk pencinta horor lokal yang ingin campuran teror, drama, dan budaya. Tayang sejak 19 Februari 2026, film ini layak ditonton di bioskop untuk pengalaman maksimal.