Bimo Aria Fundrika | Srijudin Srijudin
Ilustrasi Ilustrasi Pria dengan jaket hitam (Gemini AI)
Srijudin Srijudin

Aku baru sadar satu hal setelah bertahun-tahun berlari, manusia tidak lelah karena gagal, tapi karena terus berharap.

Di depan cermin, aku melihat seseorang yang masih berdiri, tapi tidak lagi yakin ke mana harus melangkah. Mimpi itu masih ada. Tidak pudar. Tidak mati. Justru itu masalahnya. Ia terlalu hidup untuk ditinggalkan, tapi terlalu berat untuk terus dibawa.

Sejak awal, dunia sudah jujur padaku.

Katanya, hidup itu soal kemungkinan, bukan keinginan. Soal statistik, bukan keyakinan. Dan aku? Aku memilih percaya pada sesuatu yang tidak bisa diukur.

Mereka bilang mustahil itu cuma nama lain dari kebodohan yang belum sadar diri.

Aku tidak membantah. Aku hanya berjalan.

Aku pernah berpikir mungkin manusia diberi mimpi bukan untuk dicapai, tapi untuk diuji sejauh apa ia mau kehilangan dirinya sendiri demi sesuatu yang bahkan belum tentu menunggunya di ujung.

Malam-malam panjang mengajariku satu hal: kesepian bukan karena tidak ada orang, tapi karena tidak ada yang mengerti kenapa kamu masih bertahan. Aku duduk sendiri, menimbang masa depan seperti menimbang dosa dan pahala. Rasionalitas di satu tangan, harapan di tangan lain. Keduanya sama-sama berat.

Orang-orang sering bilang, “Ikhlas itu menerima.
Tapi tidak ada yang bilang betapa sakitnya belajar menerima bahwa usaha maksimal pun tidak menjamin apa-apa.

Aku mulai bertanya pada diri sendiri
Apakah aku berjuang karena yakin, atau karena takut mengakui bahwa aku sudah terlalu jauh untuk mundur?

Kadang, mimpi berubah jadi penjara. Kamu terus mengejarnya bukan karena ia membebaskanmu, tapi karena kamu tidak tahu siapa dirimu tanpa ia.

Aku melihat teman-temanku memilih jalan yang lebih masuk akal. Hidup mereka terlihat stabil. Tidak terlalu bahagia, tapi tidak hancur. Aku iri, bukan pada hasilnya, tapi pada ketenangan mereka yang tidak harus bernegosiasi dengan mimpi setiap malam.

Aku? Setiap hari berdebat dengan diri sendiri.

Ada hari-hari ketika aku hampir membenci mimpi ini. Karena ia membuatku merasa istimewa sekaligus bodoh dalam waktu yang sama. Memberi makna, lalu merenggut rasa aman.

Sampai akhirnya aku sampai pada kesimpulan yang tidak pernah aku inginkan:
tidak semua perjuangan berakhir pada kemenangan, dan tidak semua yang menyerah adalah pengkhianat.

Ada titik di mana melanjutkan bukan lagi keberanian, tapi keras kepala. Dan berhenti bukan lagi kelemahan, tapi bentuk kejujuran paling pahit.

Keputusan itu datang tanpa tanda besar. Tidak ada momen epik. Hanya satu malam ketika aku bertanya: kalau aku terus lanjut, apa yang tersisa dari diriku?

Jawabannya sunyi.

Aku berhenti.

Bukan karena aku tidak sanggup bermimpi, tapi karena aku ingin tetap hidup sebagai manusia, bukan simbol kegigihan yang kosong. Dunia tidak berubah setelah aku berhenti. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap sibuk dengan hidup mereka.

Dan aku belajar satu kebenaran yang tidak romantis:
hidup tidak selalu memberi makna pada mereka yang paling berusaha.

Hari-hari setelahnya terasa datar. Tapi untuk pertama kalinya, pikiranku tidak lagi berisik. Aku bekerja, aku hidup, aku ada. Mimpi itu sesekali muncul, seperti kenangan yang tidak ingin disalahkan. Aku tidak mengusirnya. Aku hanya tidak lagi mengikutinya.

Sekarang aku paham:
kemenangan bukan selalu tentang mencapai sesuatu, tapi tentang berani mengakui batas diri tanpa membenci diri sendiri.

Aku kalah.
Dan dunia tidak runtuh.

Mungkin, makna perjuangan bukan pada hasilnya, tapi pada fakta bahwa aku pernah melawan kemungkinan. Pernah percaya meski sendirian. Pernah mencoba meski ditertawakan.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu sibuk mengagungkan sukses, keberanian untuk berhenti dengan sadar adalah bentuk kebijaksanaan yang jarang dibicarakan.

Aku tidak jadi apa-apa.
Tapi aku tetap manusia.

Dan untuk saat ini, itu cukup.