Hayuning Ratri Hapsari | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi cerpen Sastra, Mesir, dan Cinta yang Nyata (Gemini AI)
Fathorrozi 🖊️

Angin semilir sepoi. Sang raja siang masih bersinar dengan sengatan panas. Langit cerah membiru sebagai tanda hari itu hari yang ceria.

Seorang laki-laki duduk sendiri dengan raut muka penuh kedukaan. Menunduk menerawang, entah apa yang tengah berkecamuk dalam pikirannya. Lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Saiful Bahri el-Shirazi.

Tanpa disengaja, pemandangan yang ganjal itu tertangkap oleh kornea mata Aisyah. Aisyah adalah sahabat spesial Bahri. Melihat sahabatnya bermuka masam, Aisyah segera menghampirinya.

“Kamu kenapa, Ri, kok muka kamu dilipat sampai kusut tidak karuan kayak gitu?” suara Aisyah memecahkan lamunan Bahri.

“Eh tidak, kok. Tidak apa-apa,” Bahri menjawab dengan suara lesu seperti orang baru mendaki Himalaya.

Aisyah menggelengkan kepala pertanda tak setuju dengan statement yang diajukan oleh Bahri.

“Ri, aku ini teman kamu. Please tell me a bout! May be I can help you.”

Bahri menghela napas penuh haru terhadap kesediaan Aisyah untuk menampung segala keluh-kesah. Dia sempat berpikir, mengapa sosok sahabat sejati yang sebaik Aisyah baru hadir dalam hidupnya? Kenapa tidak mulai sejak dulu?

“Aisy, aku hanya tidak ingin membebani otak cemerlangmu dengan spektrum masalah yang ada dalam pikiranku ini.”

“Mak…. sud kamu?” Aisyah menganga. Bukan minta disuapi makanan, namun untuk menagih jawaban.

Bahri tersenyum hambar.

“Aisy, kamu menjadi motivatorku dalam berkarya itu saja sudah cukup. Aku tak tega jika sampai harus membagikan gunungan deritaku padamu. Sebab aku tak ingin membebanimu dengan duka yang menimpaku. Tapi justru yang aku mau adalah membagi kesenangan dikala kugapai keriangan.”

“Itulah gunanya sahabat, Ri. Sahabat harus selalu ada saat suka maupun duka. Bukanlah sahabat namanya kalau hanya ada pada saat kita dalam keadaan bahagia saja. Tapi, malah penjilat yang maunya cuma ingin memetik manisnya.”

“Aisy, memangnya hari ini kamu tidak ada kuliah?” Bahri mengalihkan pembicaraan guna menghilangkan jejak atas keingintahuan Aisyah terhadap masalah yang dialaminya.

“Ri, kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan,” Aisyah mengawinkan alisnya.

“Tell me frankly ! I will listen your story with a pleasure. My be I can solve your problem,” Aisyah tiada henti menghujani sahabat karibnya dengan serbuan kata-kata peduli. Dia tak sanggup mati penasaran.

Kemudian lanjutnya lagi, “Ri, harus berapa kali kubilang bahwa aku ini adalah sahabatmu, bukan musuhmu yang bisa mengumbar aibmu ke khalayak umum. Jika pun nanti aku punya solving problem masalahmu, maka tak akan aku tunjukkan ke jalan pemecahan yang dapat memperkeruh dan merabe kedukaanmu.”

“Aisy……,” Bahri tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Pasti masalah si Maria lagi, ya?” Aisyah mencoba berspekulasi tentang apa sebab kemurungan sahabat senasib sepenanggungannya itu.

Bahri tersenyum kecut, “You are right, Aisy!”

“Memangnya kenapa? Ada apa lagi dengan dia? Ngambek atau lagi cemburu padaku, ya?”

“Biasalah, Aisy. Pikirannya masih kekanak-kanakan. Dimaklum saja, jikalau dia sering bikin kepalaku munyer-munyer seperti kincir air. Aku makin nggak ngerti, apa sih kemauan tuh gadis? Masak keadaan sudah setenang gini masih tetap saja dia bikin masalah.”

“Be patient please! Kayak apa pun si Maria, tetap aja dia tuh kekasihmu,” Aisyah mencoba menghibur sahabat seiya sekatanya yang sedang dirundung masalah.

“Ri, daripada masalah itu kamu kunyah sendiri, lebih baik bagi-bagi aja ama aku. Entar kalau disimpan sendiri, bisa-bisa kamu cepat tua dan tambah jelek. Nggak cuma itu, entar masalah itu jadi penyakit di batinmu. Makanya, jangan kamu pendam. Utarakan aja sama aku!” Aisyah menawarkan diri untuk melamar jadi pemecah masalah terandal.

“Aisy, kamu emang temanku yang super baik. Bisa buat aku tersenyum dikala mataku mulai penuh dengan air mata kepiluan, meskipun senyumku hanyalah hasil rekayasa dari lelucon yang kamu buat. Tapi, sayang, Aisy. Walau begitu aku tetap tak akan cerita derita yang tengah menimpaku ini.”

“Loh, kenapa, Ri? Lantas apa arti persahabatan jika kamu tidak jujur padaku? I am is the best your friend,” Aisyah membanggakan dirinya.

“Ri, kalau kamu memang mau nganggap aku sahabat yang super baik buat kamu, please banget sekarang ceritain masalah kamu sama aku sahabat setiamu ini!” Aisyah membujuk Bahri dengan segudang jaimnya agar dia mau bercerita.

“Aisy, kamu emang jaim murakab, gombal jama’ kalau ada maunya,” Bahri meledek Aisyah yang mulai mengeluarkan tabiat jaimnya yang sudah dia kenal sejak dulu kala awal persahabatan mereka.

“Iiih…. Bahri, ayo dong jangan mencla-mencle. Nggak usah berbelit-belit biar nggak seperti belut,” Aisyah merengek pada sahabatnya untuk menceritakan masalahnya.

“Harus mulai dari mana ya, Aisy, ceritanya?” Bahri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Dasar Bahri ibnu Khomsu, jahlun murakkab, bodoh kuadrat, double stupied. Yang namanya mulai ya… pasti dari start sampai finish lah.”

“Hup …. close your mouth! Talk active.”

“It’s Ok. I will listen your story.”

“Sebelum aku cerita, aku mau nanya sesuatu dulu sama kamu.”

“Mau nanya apa, Ri?”

“Aisy, emangnya kamu pernah cerita apa saja sama Maria?”

“Maksud kamu?”

“Cerita yang berkenaan dengan keluargaku.”

“Seingat aku, aku nggak pernah cerita apa-apa sama Maria, emangnya kenapa?”

“Tadi pagi si Maria calling aku. Dia bilang kalau dia sudah tidak percaya lagi sama aku. Katanya sih, kamu itu cerita sama dia tentang seluk-beluk keluargaku. Kamu menceritakannya dengan amat detail. Dulu aku kan pernah janji ke dia, kalau aku tidak akan pernah cerita tentang keluargaku pada orang lain selain dia. Tapi cuma sebatas konflik yang membuat hubungan keluargaku menjadi retak.”

Aisyah menggaruk-garuk kepalanya pertanda ketidakpahamannya terhadap cerita Bahri. Melihat respon sahabatnya itu, Bahri menggelengkan kepala sebagai ledekan kepada Aisyah.

“Ah, udahlah, Aisy. Tidak usah dibahas lagi. Aku tidak mau terus-terusan mikirkan masalah itu. Lagian masih ada seribu masalah lain yang menuntutku tuk segera menyelesaikannya.”

“Ta… tapi, Ri,” belum selesai Aisyah mengulas kalimatnya, Bahri sudah melangkahkan kaki meninggalkannya.

“Uuhh, tuh anak udah tinggi, aneh banget, bikin aku penasaran aja. Tapi, ya udahlah kalau dia masih belum mood untuk menceritakannya. So what gitu lho!” gerutu Aisyah sendiri di tempat itu.

***

Mentari pagi tersenyum ramah menyapa seluruh isi bumi Tuhan. Hari itu, Rabu tanggal 26 November 2025, jarum jam menunjukkan pukul 07.30. Terlihat Bahri sedang duduk sendiri di koridor ruang kuliahnya.

“Shabahul khair, yabna Khomsu?” sapa Aisyah kepada sahabatnya.

“Good morning binta Syamsuri”

“Nah… gitu dong! Semangat ’45. Jangan kayak yang kemarin. Ini baru Bahri sahabatku yang super…” belum sampai kalimat Aisyah sempurna, Bahri sudah menjitak kepalanya.

“Super apa?” pelotot Bahri mengiringi kepalan tangannya yang mendarat di kepala Aisyah.

“Nggak jadi deh, diralat aja,” jawab Aisyah mencoba melindungi diri sambil mengelus batok kepalanya yang baru saja disambar kepalan tangan Bahri.

“Ri, gimana, udah agak fresh kan daripada kemarin?”

“Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku masih tetap ganteng, genius dan yang jelas tetap tinggi dong. Nggak kayak kamu yang semampai (semeter tak sampai) itu.”

“Bahri, dasar tiang listrik!” Aisyah membalas ledekan sahabatnya sekaligus mendaratkan satu jurus ‘kamehame’ tepat di punggung Bahri. Lalu, Aisyah meninggalkan Bahri tanpa berkata apa-apa lagi.

“Aisy, tunggu!”

“Masih ada apa lagi Khomsu Miati Ritlin?”

“Marah nih? Entar cepat tua lho. Jadi nenek peyot bermuka codot, rambutnya uban semua. Terus, nggak ada yang mau sama kamu alias nanggeru.”

“Biarin. Kalau nggak ada yang mau, aku mau kawin sama kamu saja.”

”Astaghfirullah. Na’udzubillah. Amit-amit si jabang bayi deh, kalau sampai aku mau kawin sama kamu. Nggak ada wanita lain apa? Tapi kalau misalkan kawin, setelah kurenggut keperawananmu, lalu kucerai kamu dengan talak tiga, maka mau juga aku kawin sama kamu,” gurau Bahri nampak serius.

”Aaghhhh, Fahri,” geram Aisyah.

Mulut keduanya terbungkam seakan ada malaikat lewat yang menyuruh mereka untuk tidak angkat bicara.

”Heh.... Syamcuri cari cara tuk mencurigai pencuri,” Bahri memukadimahi pembicaraan.

”Woi, apalagi Khomsu Miati Ritlin?” Aisyah membalas ledekan Bahri.

”Nggak..... Sekarang aku serius nih.”

”Iya, iya apa? Aku sudah seriburius nih untuk dengerin ceritamu.”

Bahri bin Khomsu tertawa geli mendengar jawaban sahabat senasib, seperjuangan dan sepenanggungannya itu.

“Aisy, aku mau curhat nih sama kamu?” suara Bahri menjadi lirih.

“Tumben kok baru sekarang. Masalah apa sih, Ri? Pasti masih tetap masalah yang kemarin ya?”

Bahri mendorong bibir bawahnya ke depan sampai jadi Bimoli, bibir moncong lima mili.

”Bukan. Bukan masalah yang kemarin. Masalah itu sudah aku buang jauh-jauh ke tong sampah.”

”Lho kok gitu, Ri?” Aisyah mengernyitkan dahinya sebagai tanda heran bin bingung atas pernyataan sahabatnya.

”Because for me, frienship more beautiful than love. So, I don’t care with her.”

“Ri, apa kamu sudah yakin dengan apa yang kamu putuskan? Keputusan yang diambil ketika emosi adalah keputusan setan lho.”

”Aku sudah yakin seyakin-yakinnya. Suer samber geledek. Ainul yakin.”

”Entar kamu nyesel lho? Malem Minggu nggak ada yang mau diapeli.”

”Aisy, aku janji sama kamu. Aku nggak bakalan nyesel! Lagian kan masih ada kamu sebagai pengganti posisi Maria?”

”Heh, enak saja kamu. Emangnya aku barang subtitusi?”

Bahri menarik hidung mancung Aisyah.

“Uhh, sakit tau. Iri yah karena kamu punya hidung pesek? Makanya sebelum kamu dilahirkan, segera usul sama malaikat, bilang saja kalau kamu mau minta hidung mancung seperti yang aku miliki ini,” Aisyah memegang hidungnya yang merah akibat tarikan tangan Bahri.

“Terus kalau bukan masalah kamu dengan Maria, masalah apa lagi?”

”Aisy, aku mohon sama kamu, jangan sebut nama itu lagi. Panggil saja dia dengan nama Kocor atau Lemper!”

“Iya, iya jangan marah dong! Aku takut, soalnya tampang kamu itu kalau lagi marah kayak malaikat Malik, tau? Serem banget.”

“Aisy, kamu tahu kan, kalau aku kuliah di sini itu bukan kemauanku sendiri melainkan kemauan orang tuaku? Aisy, jujur saja sampai detik ini aku masih belum bisa menerima keadaanku sekarang. Aku nggak mau masuk fakultas keguruan, lebih-lebih jurusan ilmu Matematika.”

Aisyah memegang pundak Bahri. ”Ri, kamu harus belajar menerima kenyataan. Orang tua kamu tuh justru sangat sayang sama kamu.”

”Tapi Aisy, aku sudah tidak tahan lagi terus-terusan hidup didikte seperti ini. Bukankah aku punya kebebasan untuk memilih? Aisy, aku ini sudah dewasa, umurku sudah 20 tahun. Sekarang aku punya hak untuk menentukan segala sesuatu. Aku bukan anak ingusan lagi yang selalu dikomando untuk melakukan sesuatu. I am tired with every problem. I want to freedom.”

“Ri….” Aisyah kehabisan kata untuk menasehati dan memberi solusi pada sahabatnya.

”Aisy, kalau memang orang tuaku sayang padaku, kenapa beliau selalu mengusik keinginanku untuk mengembangkan bakatku di dunia sastra? Padahal beliau kan tahu kalau aku sangat mencintai sastra bahasa, baik bahasa Arab maupun bahasa Indonesia.”

Aisyah hanya bisa diam seribu bahasa mendengar pernyataan Bahri. Pikirannya mulai menerawang mencoba merangkai kata untuk memberikan solusi pada sahabat sejatinya.

”Lantas, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ri?”

”Untuk sementara aku ambil langkah dan kupikir itu sudah jalan terbaik tuk kutempuh. Aku akan berhenti kuliah.”

”Apa? Mau berhenti kuliah? Ri, jangan gegabah! Gimana kamu bisa meraih cita-citamu jikalau kamu berhenti kuliah?”

”Justru aku berhenti kuliah untuk menggapai cita-citaku. Aku ingin memperdalam bakatku di dunia sastra.”

“Tapi, Ri?”

“Aisy, kamu tahu MH. Ainun Nadjib, kan? Dia berhenti dari bangku sekolah formal saat baru duduk di kelas II Muallimin Gontor hanya demi mengembangkan bakatnya sebagai penyair. Buktinya dia berhasil kan? Aisy, ada kalanya kita harus berani berontak untuk menggapai semua asa.”

”Kalau itu sudah menjadi ambisi kamu, aku nggak bisa menghalangi kamu. Aku tak bisa berbuat banyak untuk itu selain hanya mendoakanmu, semoga apa yang kamu impikan bisa tercapai. My pray always with you.”

Bahri mengamini doa Aisyah.

”Nah gitu dong. Itu baru sahabat baikku.”

”Uhh... biasa deh kalau ada maunya.”

”Aisy, satu lai yang harus kamu ketahui.”

”Apa lagi Ri?” dalam benak Aisyah timbul tanda tanya besar.

”Dalam waktu dekat ini, aku akan hijrah ke Mesir.”

”Hah... apa? Mesir?” Aisyah menganga seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Bahri.

”Iya, aku akan hijrah ke Mesir untuk memeperdalam ilmu dan jiwa sastraku di sana.”

”Kamu jangan nekat! Di sana tuh negara orang, Ri. Emangnya di sana kamu mau tinggal dengan siapa?” Aisyah masih menunjukkan ekspresi ketidakpercayaannya atas apa yang diputuskan Bahri.

”Siapa bilang Mesir itu negara unta? Ya benar, kalau Mesir itu emang negaranya orang. Dasar Syamcuri cari cara tuk mencurigai pencuri. Kamu tenang saja, aku di sana tinggal sama adik Abahku.”

”Ri, kamu benar mau berhenti kuliah dan setelah itu hijrah ke Mesir?”

”Emangnya kapan aku bohong sama kamu, Aisy?”

”Ri, kalau kamu pergi, lantas siapa yang akan menjadi motivatorku untuk terus berkarya, padahal selama ini kamu yang selalu memotivasiku untuk selalu maju?”                     

”Aisy, kamu sudah gede. Usiamu sudah 18 tahun. Sudah saatnya kamu mandiri dan selalu berupaya untuk mengasah bakatmu tanpa harus bergantung pada orang lain.”

Keduanya menunduk mencoba menyelami makna insiden yang terjadi pada hari itu.

***

Sinar mentari pagi menerobos jendela kamar Bahri. Laki-laki jangkung itu tengah sibuk merapikan pakaiannya, sebab hari ini dia harus segera mengepakkan sayapnya ke Negeri Piramida. Belum kelar dia dengan pekerjaannya, suara Aisyah menghentikan gerak tangan Bahri untuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

”Ri, kamu jadi berangkat hari ini ke Negeri Sphix?”

Bahri mengangguk sebagai isyarat 'iya' atas pertanyaan sahabatnya itu. Keduanya terdiam dan tanpa terasa air mata membasahi pipi mereka.

”Woi, binti Syamsuri, jangan cengeng! Kalau kamu terus-terusan nangis kayak gini bisa-bisa habis air matamu. Terus mau pinjam air mata siapa kalau kamu besok masih mau nangis lagi? Lagi pula, sekarang harga air mata naik 90% lho, Rp 500.000 pergelas,” Bahri mencoba menghibur Aisyah yang air matanya terus mengalir. Bahri pun menghapus pelan air mata yang membasahi pipi Aisyah.

Sambil tersedu, Aisyah coba lagi berbicara kendati terbata-bata, ”Mungkin kamu benar, nggak ada gunanya aku menangis. Bukankah kepergianmu adalah untuk kembali? Kembali dengan menyandang kesuksesan serta demi membebaskan kreatifitasmu yang selama ini terpasung?”

Bahri tertunduk, ”Kamu benar, aku pergi untuk kembali dengan menuai segudang kesuksesan, oleh karena itu, aku mohon doa darimu,” Bahri menepuk pipi Aisyah.

”Ri, aku hanya takut, setelah kepergianmu aku tak dapat berkarya lagi.”

”Lho Aisy, kok pesimis gitu sih? Seharusnya kamu kudu menunjukkan pada semua orang kalau kamu itu bisa sekalipun tanpa aku. Oke?”

Aisyah menghela napas panjang dan dengan matanya yang masih sembab dia menatap sahabatnya.

”Aisy, sekarang sudah saatnya aku berangkat.”

Aisyah menganggukkan kepala pertanda merelakan teman sepenanggungannya untuk segera angkat kaki menuju benua kulit hitam.

”Ri....” Aisyah menyerahkan sepucuk surat pada Bahri.

”Apa ini, Aisy?”

”Bacalah nanti di pesawat atau ketika kamu sudah sampai di Mesir!”

”Ya udah. Aisy, kamu hati-hati yah, karena tidak semua orang yang selalu senyum denganmu berarti senang bergaul bersamamu dan waspadalah terhadap iblis yang berparas malaikat. Jadilah debu yang terbang ke udara untuk mencari tempat terbaik dan jangan pernah turun kecuali hujan dengan segala niat baiknya memaksa kamu untuk turun! Atau jadilah laksana hujan! Ia turun dari tempat yang begitu tinggi bukan karena derajatnya turun dan menjadi rendah, namun karena ia ingin memberi kesegaran hidup bagi bumi. Optimislah laksana asap! Pesimislah laksana bintang kejora!”

Aisyah hanya menunduk diam mendengarkan petuah dari sahabatnya.

***

Pesawat yang ditumpangi Bahri sudah tinggal landas untuk mengantarkannya menuju negari padang sahara, yaitu gurun pasir terluas sedunia. Di tengah perjalanan udaranya, Bahri membuka isi surat dari Aisyah. Di sana tergores tetesan pena agak renggang. Dengan perasaan galau dan hati berdebar kencang, dia pun membacanya bait demi bait.

To : My Friendship

(Saiful Bahri el-Shirazi)

In New Place

Peace be upon to you...

Sahabatku, andai waktu bisa kuhentikan, maka aku akan menghentikannya, karena aku tak ingin kehilangan masa-masa bersamamu, masa-masa menyenangkan, masa-masa menyedihkan. Semuanya tinggalkan 1000 kenangan tak terlupakan. Kepergianmu adalah segenap ketakutanku akan berhentinya poros bumi yang selalu setia menemaniku dalam berkarya dan berkreatifitas.

Sahabat setiku, badanmu boleh tinggalkan aku, namun kuharap jiwa kita tetap menyatu. Jangan jatuhkan air mata, karena bayu masih berhembus dan kreasi terus berkibar.

Sahabat, tersenyumlah meski tanpa aku, karena di sini aku juga mencoba tersenyum walau tanpamu.

Sahabat, memang benar apa kata orang bijak ”Learning is better than house and land (memiliki apapun tanpa mau mempelajrinya adalah sia-sia)”. Begitu juga dengan jiwa sastramu yang sudah mendarah daging. Apalah artinya bakat dan kreatifitas jika terkekang situasi dan kondisi? Kepakkanlah sayapmu! Jelajahilah kota impian! Dan pulanglah dari kota impian dengan membawa sejuta prestasi serta segudang keberhasilan!

Sahabat sejatiku, jalanmu masih sangat panjang tuk dilalui. Hanya sebuah untaian kata yang dapat kuucapkan untukmu, ”Selamat jalan dan semoga kesuksesan selalu mengiringi derap langkahmu."

Akhir kata dariku, my pray always with you and remember me as your friendship, ok? And you must remember that parting not ending for all but parting is start for everything.

Good luck!

Salam hangat

Your friendship,

Aisyah Althafun Nisa

Jember, 19 Desember 2025