"Kita adalah kisah yang ditakdirkan berpisah sejak mula"
Setiap pertemuan akan membawa ceritanya masing-masing, bahkan jika itu harus berakhir dengan perpisahan. Seperti sepasang tangan yang tak dapat saling menggenggam selamanya, seperti itu pula arah langkah kita yang tak lagi sanggup berdampingan. Percayalah, semua bukan kesalahan kita, bukan pula ketidakberuntungan yang menuntun perkenalan tanpa rencana seperti sore itu.
***
Kamu yang terdiam di bangku usang tanpa tuan saat itu benar-benar sudah mengalihkan perhatianku. Bukan karena parasmu yang sebenarnya memang menawan, tapi kesenduan tatapanmu pada senja telah menusuki hatiku yang lama tersandera hampa.
Berulang kali lidah ini jadi kelu hanya karena ingin menyapamu. Sekadar berucap 'hai' hingga 'boleh berkenalan denganmu?', tak pernah sanggup aku hadiahkan dengan mudah padamu.
Baru selangkah aku mendekat, dua langkah mundur tanpa terasa sudah lebih dulu aku pilih. Satu hal yang pasti, hati dan pikiran ini tak mampu beralih dari mata indahmu.
Saat pikiranku masih bergumul dengan hasrat dan ketakutan, kau justru menyergapku lewat pandanganmu yang tak mampu ku terjemahkan maknanya. Mata indah itu menatapku, sangat tajam. Tapi anehnya, tubuh sialan ini justru membeku seketika.
Aku tak mampu berbalik tinggalkanmu saat tatapan yang kau lempar sudah lumpuhkan hati. Sayangnya, aku juga semakin gentar untuk mendekat padamu, ragukan keberanian yang hanya secuil ini.
Sekelebat, kulihat pandanganmu luruh. Berganti tatapan sepi penuh kekecewaan. 'Apakah itu ulahku?' Sebuah tanya yang belum sanggup ku temukan jawabnya.
***
Senja kian mendekat, tapi binar rindumu seperti meringkuk di balik sendu. Kali ini sorot matamu tak lagi sama. Kau menyuguhkan kecewa dari mata yang sudah tenggelamkanku dalam fana. Kau, lagi-lagi mencuri perhatianku dengan sangat fasih. Hingga tanpa sadar, langkahku sudah habis dan berakhir tepat di hadapanmu.
"Ya?," tanyamu padaku penuh selidik dalam kalimat lirih yang lembut dari bibir ranum itu.
Satu kata saja keluar darimu sudah mampu membuatku gemetar. Terlalu takluk hingga kalimat berikutnya yang keluar dari mulut penakut ini tak lagi meminta persetujuan kepalaku.
"Xabiru. Kamu bisa memanggilku Biru," uluran tanganku memaksa tangan rapuhmu memberi balasan.
Dengan senyuman tipis yang tak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidup, kau menyambut permintaanku.
"Xavia, kamu boleh panggil aku Via," balasmu singkat tanpa pertanyaan lain yang sebenarnya sangat ku nantikan.
Sempat terpikir semesta berada di pihakku dengan membiarkan satu genggaman pertama saling merapat. Tapi aku salah. Kau malah harus memilin langkah lunglaimu menjauhiku, mendekat pasrah dalam genggaman pria yang tak ku kenal.
Dia tak berkata apa-apa padamu, hanya melemparkan tatapan tajam yang penuh arti. Aku tak mengeri apa itu, tapi kau langsung beranjak dari sisiku menuju padanya. Bukan sergaoan bahagia, lebih karena enggan mendebat panggilannya.
Aku pun terpaku melihatmu menjauh. Beribu tanya mulai menyergap pikiranku. Beribu rasa pula semakin berkecamuk dalam dadaku. Entah marah, penasaran, atau malah cemburu. Aku tak tahu.
Yang jelas, senja yang sudah menyatukan dua nama saat itu, sekaligus menjadi latar perpisahan yang pertama bagi kita. Tapi mata indah itu sampaikan isyarat bahwa akan ada pertemuan selanjutnya. Esok, mungkin. Segera, pasti.
Satu hal yang aku tahu, kita belum selesai, Via. Cerita kita baru akan dimulai. Xabiru dan Xavia, dua nama yang masih akan ukirkan cerita panjang, mengiringi perjalanan langkah yang baru akan dirajut. Pikirku kala itu di penghujung senja yang tawarkan semburat romansa singkat
***
Aku tak pernah mengira, pertemuan dan perkenalan singkat kita belum akan usai selepas perpisahan di batas senja itu. Xavia, nama indah yang langsung mengisi hatiku, ku pastikan menetap dan jadi pemilikku selamanya.
Tatapan sendumu saat dipaksa menjauh dariku jadi bukti kita telah terpaut. Mungkin waktunya memang belum tepat. Bisa jadi juga kita yang kurang peka pada tanda semesta untuk berlari saling mendekap.
Tak apa, biar aku yang mencari jawabannya. Duduklah manis di bangku usang itu lagi dan tunggu aku menghampirimu kembali. Bukan dengan langkah ragu apalagi gemetar. Nanti aku akan datang dengan berani untuk menggenggan hatimu. Sebab kisah kita baru akan dimulai.
Xabiru dan Xavia.
Baca Juga
-
Malaysia Open 2026: Revans dari Tan/Thinaah, Ana/Trias ke Perempat Final
-
Gen Z dan Dilema Cari Kerja: Minim Kesempatan atau Terlalu Pilih-Pilih?
-
Rekap Malaysia Open 2026 Day 2: Jojo Menang Straight Game, Alwi Kalah Rubber
-
Malaysia Open 2026: 5 Wakil Indonesia Berjuang untuk Lolos ke Perempat Final
-
Baca Buku Bisa Jadi Cara Ampuh Healing Inner Child, Gen Z Wajib Coba!
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Film Malam 3 Yasinan: Drama Horor Keluarga yang Penuh Ketegangan!
-
3 Masker Gel untuk Kulit Kusam, Bikin Wajah Lebih Segar dan Glowing!
-
Film Uang Passolo: Ketika Pernikahan Jadi Ajang Gengsi
-
Drama China Will Love in Spring: Saling Hormat, Bentuk Cinta Paling Dewasa
-
Jadi Pelatih Termahal di Kawasan ASEAN, Kualitas John Herdman akan Diuji