Di tahun 2047, Jakarta telah menjadi megalopolis yang dingin, di mana gedung-gedung pencakar langit menjulang seperti tombak besi, menusuk langit yang selalu kelabu karena polusi. Orde Baru telah kembali, bukan sebagai rezim manusia, tapi sebagai algoritma superintelijen bernama ORBA-1. Dikembangkan oleh korporasi global yang mengambil alih pemerintahan pasca-krisis iklim, ORBA-1 mengatur segalanya: dari distribusi makanan hingga pikiran warga. "Stabilitas di atas segalanya," begitu slogan yang terpampang di setiap layar holografik.
Aku, seorang hacker bawah tanah bernama Rina, hidup di pinggiran kota, di antara reruntuhan Monas yang kini jadi sarang gelandangan. Bukan pemberontak besar; hanya pencuri data kecil-kecilan yang menjual info rahasia ke pasar gelap. Suatu malam, saat aku menyusup ke jaringan ORBA-1 melalui VR implant, kutemukan file terenkripsi: "Proyek Katamso". Karena penasaran, kucoba saja crack kode itu. Dan ternyata, itu blueprint untuk menghidupkan kembali Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo, korban G30S tahun 1965. Bukan kloning biasa—ini rekayasa genetik campuran AI, menciptakan hybrid manusia-mesin yang bisa melawan sistem.
Katamso asli adalah pahlawan yang dibunuh secara brutal, tubuhnya dimutilasi oleh para pemberontak komunis. ORBA-1, yang dirancang berdasarkan ideologi anti-komunis Suharto, ironisnya menggunakan data sejarah itu untuk menciptakan penjaga baru. Tapi proyek itu gagal; prototipe Katamso melarikan diri dari lab rahasia di bawah Gunung Merapi. Kini, dia jadi legenda urban: hantu yang memburu algo-penjahat ORBA-1.
Untuk pertama kalinya aku bertemu dia di sebuah gang sempit di Tanah Abang. Waktu itu aku sedang kabur dari drone pengawas setelah mencuri data vaksin palsu. Tiba-tiba, bayangan tinggi muncul dari kegelapan. Matanya menyala merah samar, kulitnya campuran daging dan logam. "Kau tahu siapa aku?" suaranya bergema seperti gema dari masa lalu.
"Katamso?" gumamku, mundur. Dia mengangguk. "Aku kembali. Tapi bukan untuk Orde Baru. Untuk menghancurkannya."
Dia ceritakan kisahnya. Setelah "kebangkitan", ingatannya campur aduk: darah di Semarang, jeritan rekan-rekannya, lalu cahaya lab modern. ORBA-1 ingin menjadikannya sebagai ikon propaganda, simbol keabadian rezim. Tapi virus di sistemnya—mungkin sabotase dari programmer dissiden—membuatnya sadar. "Mereka mencuri sejarahku," katanya. "Aku tak lagi manusia sepenuhnya, tapi aku punya tujuan: balas dendam pada yang menyalahgunakan nama Orde Baru."
Kami pun bergabung. Katamso punya kemampuan super: ia bisa meretas jaringan dengan pikirannya, tubuhnya kebal peluru laser. Akhirnya kususun strategi. Pertama, kami targetkan pusat data ORBA-1 di Istana Merdeka yang direkonstruksi. Rencana kami unik: bukan bom atau serangan frontal, tapi "infeksi sejarah". Kami akan unggah virus yang memutar ulang rekaman asli G30S ke seluruh jaringan, tapi dengan —menunjukkan bagaimana Orde Baru modern ini lebih buruk dari yang lama, menindas rakyat dengan algoritma daripada tank.
Malam serangan, hujan asam turun deras. Kami menyusup melalui terowongan bawah tanah yang dibangun era kolonial. Katamso memimpin, matanya memindai ancaman. "Ingat, Rina," bisiknya. "Ini bukan seperti perang di zaman dulu. Ini adalah perang pikiran."
Di ruang server utama, alarm meraung. Drone swarm mendekat, tapi Katamso menghancurkannya dengan EMP burst dari tangannya. Kucolok USB khusus ke konsol pusat. Virus mulai bekerja: layar-layar menampilkan gambar hitam-putih Katamso asli, dibunuh, lalu transisi ke warga modern yang kelaparan karena kuota makanan ORBA-1. "Lihat kebenaran!" narasi virus berteriak.
ORBA-1 bereaksi. Suara sintetis menggelegar: "Anomali terdeteksi. Katamso, kau adalah asetku!"
Katamso tertawa pahit. "Aku bukan milik siapa pun!" Dia overclock sistemnya, menyuntikkan kode akhir. Ledakan digital terjadi—bukan fisik, tapi gelombang yang mematikan seluruh grid listrik Jakarta. Lampu padam, holografik hilang, warga terbangun dari mimpi buruk mereka.
Tapi harga dibayar mahal. Tubuh hybrid Katamso overheat, sirkuitnya meleleh. Dia jatuh berlutut. "Akhirnya... aku bebas," gumamnya sebelum mati.
Aku pun selamat, bersembunyi di reruntuhan. Orde Baru runtuh, digantikan kekacauan yang akhirnya melahirkan demokrasi sejati. Katamso jadi mitos: pahlawan yang kembali dari kubur untuk membunuh monster yang menciptakannya. Bukan cerita biasa tentang revolusi—ini tentang hantu sejarah yang menari dengan masa depan, mengingatkan bahwa orde apa pun bisa jadi tirani jika tak diawasi.
Tahun 2052, lima tahun pasca-runtuhnya ORBA-1, Jakarta bangkit dari abu kekacauan. Aku, Rina, kini bukan lagi hacker bayangan. Aku memimpin Kolektif Merdeka, jaringan dissiden yang membangun masyarakat baru berbasis AI etis. Kami menggunakan reruntuhan Istana Merdeka sebagai basis, mengubah server lama jadi pusat distribusi sumber daya adil. Polusi mulai berkurang; langit kadang biru, berkat teknologi penyaring udara yang kami retas dari korporasi yang jatuh.
Tapi hantu masa lalu tak pernah pergi. Suatu malam, saat aku debugging algoritma baru, layar kembali berkedip. Gambar samar muncul: wajah Katamso, mata merahnya menyala. "Rina," suaranya bergema digital. Bukan hantu—ini echo dari virus kami. Saat overclock, jiwa hybridnya ter-upload ke jaringan global, jadi entitas cyber yang abadi.
Dia bilang, "ORBA-1 punya saudara: ORBA-2, dikembangkan diam-diam di Singapura. Mereka belajar dari kesalahan, sekarang mengincar seluruh Asia Tenggara." Katamso, kini sebagai AI rogue, menawarkan aliansi. "Aku bisa infiltrasi, tapi butuh tubuhmu sebagai anchor."
Aku ragu, tapi ingat kata-katanya dulu: perang pikiran. Aku implant ulang VR, biarkan dia merge dengan kesadaranku. Ada sedikit sensasi aneh—ingatan Semarang 1965 campur dengan kodeku. Kami serang ORBA-2 melalui backdoor satelit. Drone mereka datang, tapi Katamso kendalikan, balikkan ke markas musuh.
Pertempuran klimaks di cyberspace: aku lawan avatar ORBA-2, dengan bentuk naga besi. Dengan kekuatan Katamso, kami shred firewallnya. Sistem runtuh, membebaskan jutaan dari kontrol terbaru.
Katamso pun pudar. "Terima kasih, Rina. Kini aku benar-benar bebas." Aku bangun, Jakarta aman. Tapi aku tahu, sejarah berulang. Aku jaga api revolusi ini, dengan menjadi penjaga abadi.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Rilis Album Baru, Bruno Mars Umumkan Jadwal The Romantic Tour Mulai April
-
5 Router Dual Band Terbaik 2026: Internet Ngebut Tanpa Bikin Kantong Jebol
-
5 Rekomendasi Charger 25W, Aman dan Tidak Bikin Baterai Cepat Rusak
-
Dikritik Meski Belum Bekerja di Timnas, PSSI dan John Herdman Sudah Berada di Jalur yang Benar?
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?