Hayuning Ratri Hapsari | Tika Maya Sari
ilustrasi dahan pohon (Unsplash/MAK)
Tika Maya Sari

Dulu, aku pernah memiliki teman dekat semasa SMA yang bernama Adrian. Siswa laki-laki bertubuh tinggi tegap itu, memiliki sorot mata yang kadang tajam, kadang juga redup dan lembut. Look-nya betulan mirip salah satu pasukan batalyon, dan memang memiliki background keluarga militer.

Oke, sebut saja aku fans yang mengaguminya.

Kagum pada karakter yang tenang tapi tajam, cara pandang dan pola pikirnya yang unik, serta sorot matanya yang kadang seperti lemur, atau kadang mirip serigala, atau nggak jarang menyerupai tatapan kalem nan polos ala anjing husky. Pokoknya, bagiku dia itu keren.

Oke, cerita ini mungkin agak sedikit menyinggungnya, meski poin utamanya horor.

“Mau bakso atau mie ayam?” tanya Ibu. Senyumnya penuh teka-teki.

“Bakso saja. Tapi jangan ke kedai Dukuh S. Ini sudah malam. Nanti daripada kita ketemu entah apa,” kataku.

“Wes, santai. Kita ke Desa D.”

Aku langsung setuju.

Kami lalu berangkat dengan menaiki motor bebek. Kukira, ibu bakal berhenti di kedai langganan kami di desa D. Namun, ternyata bablas ke timur, dan berhenti di kedai baru di selatan jalan.

Aku lalu turun dan memesan beberapa porsi, sebelum kembali ngobrol dengan ibu. Membicarakan beragam topik, mulai dari resep masakan, mengomentari jalanan yang ramai sebagai jalan tembusan, pemuda yang ngawur menyetir motor, hingga rencana menu makanan besok hari.

Hingga aku sadar, bahwa ada pelanggan lain yang sedang menikmati seporsi bakso di salah satu meja kedai. Seorang pemuda berjaket hitam, yang balas menatapku lekat-lekat.

Sorot mata yang seperti lemur. Sebelum berubah menjadi tampak sendu, dan setengah nggak percaya. Hingga pesananku selesai dibungkus dan aku naik ke motor, dia terus memandangiku lekat.

Adriankah?

Entahlah.

Aku terhenyak saat ibu membelokkan motor ke arah jalan yang bakal melewati pemakaman desa D, dan bukannya jalan yang kami lewati tadi. Memang jaraknya bakal lebih dekat sampai rumah karena nggak akan memutar, tapi kan seram. Ditambah, pemakaman itu dikelilingi area persawahan yang luas, dan kami harus melewati rumpun bambu sebelumnya.

“Kok lewat sini?” tanyaku.

“Ayok uji nyali!”

Jadilah kami lewat jalan yang sudah sepi itu, dengan aku yang menutup mata dan ibu yang terus bicara. Beliau ini sebelas dua belas dengan bapak kalau soal mengajak uji nyali anaknya yang penakut ini.

“Nanti, baksonya dimakan pakai nasi ya, biar kenyang.”

“Huum.”

“Kamu pasti merem ya? Halah cemen. Orang nggak ada apa-apa.”

“Iya, aku merem.”

“Eh, kamu tahu, nggak? Katanya, Budhe Nem dan Budhe Wini pernah lihat pocong lompat-lompat di pemakaman lho.”

Sakarepe jenengan, Buk. Batinku.

Apa ibu nggak merasakan tengkuknya meremang ya? Atau rasa ngeri karena jalanan sedang sepi meski baru sehabis isya?

Kucoba membuka sebelah mata sebelum buru-buru merem lagi. Di utara jalan, tepatnya pada area persawahan yang ditanami jagung, ada sesosok putih tinggi sekali tanpa menapak tanah. Seingatku, di lokasi tadi nggak ada pohon tinggi, karena rata-rata hanya tanaman perdu dan rumput gajah di tepian jalannya. Tapi itu apa?

“Buk, tadi waktu lewat pemakaman sampai persawahannya, Ibuk lihat apa?” tanyaku begitu sampai rumah.

“Nggak ada apa-apa,” jawab Ibu santai. Beliau lalu cengengesan. “Tapi tadi merinding sih.”

Aku menelan ludah. “Tadi pas aku buka mata sebentar, ada yang berdiri di utara jalan. Kurang lebih 100 meteran dari pemakaman. Tinggi banget, tapi nggak napak tanah.”

Diluar dugaan, ibu malah terkekeh. “Jangan-jangan pocong?”