Lintang Siltya Utami | Gita Fetty Utami
Nyonya Ngidam (Nano Banana/Gemini AI)
Gita Fetty Utami

Nyonya tak berselera menyapa bunga anggrek hutan kesayangannya. Ia juga mengabaikan kuntum mawar biru yang mulai muncul, dari pokok yang ia tanam tiga purnama lalu.  

"Apa Nyonya tak ingin berjalan-jalan di kebun bunga? Udara sore ini nyaman sekali," ucapku hati-hati. Aku berdiri tak jauh dari Nyonya, yang duduk bersandar pada tiang gazebo.

Kuperhatikan raut wajahnya kosong. Sudah setengah jam ia tetap di posisi seperti itu. Aku sangat khawatir. 

"Miang," lirih ia memanggilku, "suamiku belum pulang?" Nyonya menoleh padaku. Matanya yang hijau tua memandang dengan tatapan menerawang.

"Belum, Nyonya. Sebentar lagi saya rasa."

Usai mendengar jawabanku, perempuan anggun tersebut kembali mengalihkan matanya. Anak rambutnya yang berwarna keperakan melambai seturut angin berhembus. Nyonya memejamkan mata, wajahnya sedikit mendongak. Aku kira, ia tengah menghidu aroma semerbak yang terbawa angin. 

Tak ada percakapan lagi. Aku beranjak meninggalkan Nyonya. Menurut perhitungan kalender kami, malam nanti waktunya purnama sempurna. Aku harus mempersiapkan ritual mandi sinar bulan, demi menjaga kekuatan yang diwariskan pada kami. Selain itu aku ingin mendaras mantra kesembuhan untuk Nyonya.

Tak tahan hatiku melihat keadaannya yang seperti menanggung sakit. Ia junjunganku, kami berasal dari suku yang sama. Aku telah mengikuti dirinya sejak masih gadis kecil, hingga menikah dengan lelaki pilihan Sang Ketua Suku, ayah Nyonya. 

Telingaku menangkap suara kereta terbang berhenti di gerbang depan. Aku tahu itu kendaraan Tuan. Tak berapa lama kereta itu meluncur hingga halaman rumah, setelah penjaga membuka pintu gerbang. Aku beranjak ke teras untuk menyambutnya. Rupanya Tuan membawa seorang tamu. Tamu itu lelaki tua, kurus tinggi, jenggotnya panjang hingga dada. Ia mengenakan jubah kelabu dengan lambang ular hitam tersemat di atas saku depan jubah.  

"Miang, aku bersama Tabib Pong. Di mana istriku?" Suara berat Tuan terdengar mendesak. 

"Sampai beberapa saat lalu Nyonya masih di gazebo kebun bunga, Tuan," jawabku takzim. 

Tanpa bicara lagi Tuan memberi isyarat kepada si tabib untuk mengikutinya. Aku mengekor, bergerak ke halaman samping. Nyonya masih di tempat semula. Namun begitu menyadari kedatangan suaminya, parasnya perlahan hidup kembali. Ia merentangkan tangan, dan Tuan segera menghampiri lalu memeluknya. 

"Sayang, aku membawa tabib. Ayo kita periksa kesehatanmu," bujuk Tuan lembut. Nyonya cuma mengangguk. 

Tak lama, Tuan memondong istrinya ke dalam rumah. Tabib Pong mengikuti mereka berdua. Sementara aku memilih tetap di luar. Rona langit berubah ungu. Tak lama lagi bintang akan bermunculan. Sekaranglah waktunya mengoleskan rajah di tubuh. Aku beranjak ke pondokku sendiri, tepat di belakang rumah induk ini.

Suara burung malam mulai terdengar. Seseorang mengetuk pintu pondokku. "Miang, kau dipanggil oleh Tuan dan Nyonya," panggil seorang perempuan. 

Tanpa menjawab, aku membuka pintu. Perempuan bertubuh kecil di depanku membulatkan bibirnya, setelah melihat penampilanku. 

"Oh, kau baru mengoles rajah rupanya. Aku nyaris lupa malam ini purnama penuh," komentarnya. 

"Tinggal satu rajah lagi, baru aku ke sana, Tumbi. Kau pergilah dulu," balasku. 

"Ya, sudah. Tapi cepat!" 

**

"Jadi, ternyata Nyonya sedang hamil?" 

Aku terperangah mendengar perkataan Tuan. Lelaki itu mengangguk singkat. Tangan kanannya merangkul pundak Nyonya, sesekali meremasnya lembut. Nyonya tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya pada Tuan. 

"Kalau begitu, selamat Nyonya!" Aku sungguh-sungguh bahagia untuk junjunganku ini. Ia akan menjadi seorang ibu, perempuan agung nan sempurna. Ketua dahulu tak salah mengambil keputusan akan jodoh putrinya. Ah, mataku jadi membasah.

"Oh, Miang, penjagaku yang sentimentil ... Kanda lihat, dia menangis terharu untukku," seru Nyonya begitu menyadari parasku. Suaminya turut mengamati wajahku. 

"Tak apa, Miang, tak perlu malu begitu. Aku menghargai perhatianmu," komentar lelaki itu. 

Nyonya melemparkan pandangan penuh sayang kepadaku. Ia menelusuri rajah yang telah kuoles di badanku. "Oh, malam ini purnama," ucapnya tersadar.

"Aah, betul juga," angguk Tuan. Pandangannya berubah serius. "Miang, aku tahu setelah ritual maka kekuatanmu akan kembali penuh. Maka, aku ingin kau melakukan sesuatu untuk istriku."

"Apa itu, Tuan?" 

Nyonya menepuk pelan tangan Tuan. Lalu ia menerangkan kepadaku, saat ini ia tengah dilanda keinginan kuat yang meluap-luap dari dalam dirinya. Keinginan itu berhubungan dengan calon bayi yang bertumbuh di rahimnya. 

"Kata Tabib Pong, ini lazim disebut ngidam, Miang," ucap Nyonya.

"Katakan, apa yang Nyonya inginkan? Aku akan mengusahakan sekuatnya," sergahku.

"Aku tahu kesetiaanmu, Miang. Aku ... ingin punya peliharaan yang berbeda, Miang."

Nyonya kembali menatap suaminya, seolah minta dukungan. Tuan mengangguk singkat. 

"Aku mau memelihara seorang manusia, Miang. Kau bisa mencarikannya, kan?" 

Pertanyaan Nyonya menimbulkan efek tersengat padaku. Nyonya ingin aku menculik seorang manusia? Meskipun makhluk seperti kami bisa melakukannya, aku pribadi belum pernah mencoba. Karena aku enggan menggunakan kekuatanku untuk permainan semacam itu. Namun, siapa nyana kini Nyonya mengidamkannya. 

"Bagaimana, Miang? Aku sebenarnya bisa melakukannya sendiri, tapi istriku bersikeras ingin kau yang turun tangan." Suara Tuan menyulut harga diriku. 

"Bisa, Nyonya. Aku akan mulai berburu selepas ritual tengah malam nanti," tegasku. Nyonya berbinar-binar mendengarnya.

**

Aku bertengger di salah satu cabang pohon tertinggi di lereng bukit. Matahari belum naik terlalu tinggi. Sepengetahuanku, ada saja manusia yang masuk ke hutan ini. Tujuannya macam-macam, mulai dari menebang pohon, mencari madu, mengumpulkan tanaman obat, hingga memuja kaum kami demi ilusi kekayaan. Aku hanya perlu menanti, sabar, terukur, dan cermat. 

Suara ranting kering terinjak diiringi dengus napas muncul dari bawah. Tubuhku bersiaga. Terdengar suara percakapan, menandakan ada lebih dari seorang manusia. Biar kulihat dulu seperti apa rupa mereka.

Dua manusia laki-laki muncul berurutan. Mereka membawa parang, dan karung. Menilik pakaian yang dikenakan, aku yakin mereka penduduk desa di bawah bukit. Keduanya masih muda usia. Namun, aku lebih memilih laki-laki yang berjalan di depan itu. Ia terlihat kuat, dan bernyali besar. 

Aku bergerak mengikuti keduanya. Saatnya menampakkan diri. 

"Jo, ada suara kresek-kresek di sebelah kiri! Jangan-jangan, macan?" seru lelaki, yang berjalan di belakang manusia incaranku. 

"Sstt! Kamu diam dulu, To." Laki-laki yang disapa Jo itu berjalan mendekat. Ia tampak waspada. 

"Waaaa, kidang! To, cantik banget kidangnya, lihat!" Laki-laki itu menunjuk penuh ketakjuban ke arahku, yang menyaru sebagai seekor kijang jantan berbulu cokelat pekat. 

Temannya turut mendekat, ekspresinya sama dengan si Jo. Tetapi hanya sebentar. Karena setelah itu mukanya mengerut takut. 

"Jo, jangan-jangan itu kijang jelmaan penunggu sini. Udah, biarkan. Yuk, kita cepat pindah dari sini," cecarnya panik.

Hm, saatnya beraksi. Aku berbalik, dan melompat. Kemudian sengaja menoleh,  menatap mata Jo. Aku menggoda rasa penasarannya yang amat tinggi. Berhasil! Ia bergerak mengejarku. Aku terus melompat ke dalam barisan pepohonan yang kian rapat.

"Jooo! Jangan dikejaaar!"

Teriakan itu sia-sia. Manusia bernama Jo ini sudah terhipnotis olehku. Aku berhenti di dekat tebing. Ini batas dunia kami dengan dunia manusia. Setelah melewatinya, maka Jo akan hilang dari dunianya. 

"Wah, larimu cepet banget kidang. Eh, mana kidang tadi? Siapa kau! Jangan mendekat!"

Terlambat, manusia. Seharusnya tadi kau mendengarkan temanmu. Dengan satu kali lambaian, manusia ini menggelosor pingsan. Segera kuraih tubuhnya, dan memondongnya di pundakku. Saatnya pulang. 

Nyonya pasti berkenan memelihara manusia seelok ini.

Cilacap, 160126