Hayuning Ratri Hapsari | Gita Fetty Utami
Teman untuk Rea (Nano Banana/Gemini AI)
Gita Fetty Utami

"Main, yuk, main. Main sampai puas. Jangan berhenti di tengah-tengah. Terus main sampai hari berganti," senandung Bintut riang. Ia mengayun-ayun tubuhku, tinggi hingga menyentuh puncak pohon jambu air. 

Aku tertawa-tawa, lepas dan tanpa beban. Angin mengibarkan rambutku yang panjang. Bintut, kakak kesayanganku, ikut terkekeh senang. Kami memang cocok satu sama lain dalam hal mencari kegembiraan, walaupun usia Bintut jauh lebih tua dariku. 

Setelah beberapa saat, tiba-tiba Bintut menghentikan gerakannya. Ia menangkap tubuhku yang melayang jatuh, lalu menarikku duduk di salah satu cabang pohon.

"Kenapa berhenti?" protesku seketika.

"Aku pingin omong penting sama kamu, Rea," jawab Bintut lembut. Ia menyibak anak rambutku yang awut-awutan menutupi mata.

Aku mencebik. Tak suka bila suasana berubah serius. 

"Rea, kesayanganku. Aku sudah mengasuh kamu sejak kamu masih bayi, kan?" Bintut mengabaikan tampang jengkelku. Tak seperti biasanya.

Mau tak mau aku menatap wajahnya. Baru kusadari guratan-guratan kebiruan di kulitnya kini terlihat lebih menonjol. Benarkah ia sudah setua ini? Aku menggaruk-garuk kepala tanpa sadar.

"Ah, kepalamu gatal, ya? Rupanya aku sudah lama tak mencari kutu di situ," sesal Bintut. "Ah, maafkan aku ya, Rea." Ia mengusap sudut matanya yang berair. 

Kini giliranku yang terganggu. "Bintut, sebenarnya ada apa? Kamu mau bilang apa?"

Bintut menarik napas panjang. "Aku ... akan pindah, Rea. Pindah jauh, dan tak bisa mengajakmu serta," jelasnya dengan suara serak.

Apa? Ia mau pergi dari sini? Mataku membelalak.

"Kenapa? Kenapa?!"

Percakapan berikutnya terasa menyakitkan buatku. Bintut berdalih inangnya memutuskan pergi karena mendapat promosi jabatan di lain kota. Sebagai penghuni salah satu lukisan milik si inang, tentu saja Bintut harus ikut pindah.

"Maafkan aku, Rea. Tapi kamu sekarang sudah besar. Kamu sudah bisa melindungi diri sendiri," ucap Bintut sembari memelukku.

Sia-sia saja aku memberinya ide supaya inangnya batal pindah. Misal, membuat lukisan itu menempel kuat di dinding. Atau, merasuki pikiran si inang. Pokoknya, ide agar si inang batal pindah. Kata Bintut, tekad kuat manusia sulit diganggu. Bahkan olehnya yang telah berpengalaman ratusan tahun. 

Di tengah usapan tangan Bintut di punggungku, sebuah pikiran pahit menyeruak. Bahwa sebenarnya memang Bintut sudah lama ingin pergi. Ia hanya belum menemukan alasan yang tepat saja. Ya, pasti itulah sebab utamanya. Dadaku makin sakit.

**

Belasan purnama berlalu. Aku mulai bisa menjalani ritme hidup sepeninggal Bintut. Entah, mungkin sebagai pelipur rindu, aku jadi sering bertandang ke pohon mangga di depan bekas rumah inang Bintut. Tadi sore aku melihat kehidupan baru di rumah itu. Rupanya sebuah keluarga telah resmi membeli hunian bergaya kuno itu. 

Aku penasaran. Dari tempatku bertengger, aku berniat mengamati para penghuni baru. Rupanya keluarga itu terdiri dari pasangan ayah dan ibu, yang masih terlihat muda. Mereka punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Hm, yang perempuan itu kutaksir umurnya delapan atau sembilan tahun. Aih, rambutnya panjang dan hitam legam! Kalau tersenyum, ada lesung pipi samar muncul di kedua pipi yang sedikit montok itu. Menarik sekali.

Sejak itu, aku semakin sering memperhatikan keluarga tersebut. Terutama anak perempuan mereka. Aku sudah tahu, namanya Amelia. Setiap hari ia berangkat sekolah naik sepeda, berdua dengan kakaknya. Ayahnya bekerja entah di mana, yang jelas selalu kulihat berangkat pagi dan pulang menjelang petang. Ibu Amelia kulihat suka berkebun di halaman rumah yang luas itu. 

Amelia senang bersenandung, bermain di halaman rumah menggendong boneka dan alat masak-masakan. Ibunya hanya tersenyum saja melihat Amelia bicara pada boneka. Ah, kasihan sekali ia tak punya teman di rumah. Ke manakah anak-anak tetangga? 

Rambut hitam Amelia sering dikuncir satu, atau dikepang. Aku ingin sekali menyisirinya. Seperti Bintut melakukannya padaku dulu. Seperti apa rasanya membelai rambut anak manusia?

"Hei, kamu siapa? Kenapa duduk di atas pohon mangga?"

Aku terkejut bukan kepalang. Kepala Amelia mendongak, matanya menyorot heran, dan telunjuknya teracung ke arahku. Astaga, anak ini bisa melihatku!

"Hei! Kalau nggak mau jawab kulaporin mama, lho!"

"Eh, tunggu!" Sekelebat ide muncul di benakku. Aku segera melompat turun dengan gerakan anggun. Mulut Amelia sampai ternganga. Kemudian kupasang senyum terbaikku.

"Halo, aku Rea," tanganku mengulur, dan ia tanpa ragu menyambutnya.

"Aku Amelia. Kamu kayaknya udah gede, tapi kenapa main di pohon?" tanyanya polos.

"Emm, karena aku senang main di pohon ini. Dari atas sana, aku bisa melihat burung, gunung, dan bintang," jawabku. Mata Amelia melebar takjub.

"Beneran? Aku mau juga, main di atas pohon!"

Ini dia. "Sungguh? Tapi kalo mamamu nyari, gimana?"

Sejenak Amelia menoleh ke belakang. Mungkin mencari keberadaan ibunya. Kebetulan sekali perempuan itu kulihat tadi sedang masuk ke dalam rumahnya. 

"Nggg, kalo sebentar pasti nggak apa-apa. Aku nggak punya temen, main sendiri sama Bebi rasanya bosan," keluhnya. Hm, Bebi pasti nama bonekanya. 

Kesempatan emas tak datang dua kali. Lalu kuajak Amelia ikut bersamaku. Sebagai langkah awal, ia kukenalkan pada hal-hal menarik di tempatku berada. Hanya sebentar saja. Aku belum ingin menarik perhatian orang tuanya terlalu cepat. Selain itu, aku ingin betul-betul dipercaya oleh Amelia. Itu yang terpenting.

Setelah pertemuan kelima, aku telah siap menampung Amelia, si cantik yang kesepian ini. Dan ia pun telah menaruh kepercayaan penuh kepadaku. Sore inilah waktunya. Aku berdendang, dan mengayun Amelia di antara angin dan kabut. Sayup-sayup kudengar ibu dan ayahnya memanggil-manggil. Namun, kupastikan Amelia tak akan mau menjawab mereka lagi.

Cilacap, 081226