Meja sekolah itu berdiri paling belakang di ruang kelas, tepat di dekat jendela yang catnya mulai mengelupas. Permukaannya penuh goresan tipis, coretan nama yang setengah terhapus, dan bekas tinta yang meresap terlalu dalam hingga tidak bisa dibersihkan. Dari luar, meja itu tampak seperti meja tua biasa yang sudah terlalu lama dipakai bergantian oleh siswa-siswa yang datang dan pergi. Namun, bagiku, meja itu adalah saksi dari begitu banyak cerita yang tidak pernah diucapkan dengan suara.
Aku pertama kali duduk di meja itu pada awal tahun ajaran baru. Tidak ada yang memilihnya, mungkin karena letaknya yang tersembunyi dan tampilannya yang kusam. Aku tidak keberatan. Justru ada rasa nyaman ketika duduk di sana, seolah-olah meja itu memberiku jarak aman dari keramaian kelas. Dari posisi itu, aku bisa melihat papan tulis, punggung teman-teman sekelas, dan halaman sekolah yang terlihat samar dari balik jendela.
Hari-hari pertama berlalu tanpa hal istimewa. Aku mencatat pelajaran, meletakkan buku, dan sesekali menunduk untuk menyembunyikan wajah saat guru mengajukan pertanyaan. Hingga suatu sore, ketika kelas sudah kosong dan aku lupa membawa pulang buku, aku kembali ke ruangan itu. Cahaya senja masuk melalui jendela, menyinari meja sekolah yang kududuki. Saat itulah, aku melihat coretan kecil di sudut kanan permukaannya.
Coretan itu hampir tidak terbaca. Huruf-hurufnya kecil dan ditulis dengan tekanan ringan. Aku mendekat dan membaca pelan. Isinya sebuah kalimat sederhana tentang mimpi, ditulis oleh seseorang yang berharap bisa pergi jauh dari kota ini. Tidak ada nama, hanya satu tanggal yang sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku terdiam lama menatap tulisan itu, membayangkan siapa yang pernah duduk di tempat yang sama dengan perasaan yang mungkin tidak jauh berbeda dariku.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan meja tersebut dengan cara berbeda. Setiap goresan ternyata menyimpan cerita. Ada nama yang diukir dengan penuh emosi, seolah-olah pemiliknya ingin memastikan bahwa keberadaannya tidak hilang begitu saja. Ada simbol hati yang dicoret kasar, mungkin tanda dari perasaan yang tidak berakhir bahagia. Bahkan, ada rumus matematika yang ditulis berulang kali, seakan-akan meja itu pernah menjadi tempat pelarian dari kebingungan seorang siswa.
Tanpa kusadari, aku mulai berbicara dengan meja itu dalam diam. Aku menuliskan catatan kecil di bagian bawah permukaannya, bukan dengan niat merusak, melainkan seperti meninggalkan jejak. Aku menulis tentang hari yang melelahkan, tentang pelajaran yang sulit kupahami, dan tentang rasa takut menghadapi masa depan. Aku tidak menuliskan namaku. Aku hanya ingin meja itu menyimpan ceritaku, seperti ia menyimpan cerita orang lain.
Waktu berjalan, dan meja itu menjadi tempat paling jujur bagiku. Aku duduk di sana saat merasa sendiri, meski kelas penuh. Aku menyandarkan dahi di permukaannya saat kepalaku terasa berat oleh pikiran. Meja itu tidak pernah menjawab, tetapi selalu ada; diam, kokoh, dan setia.
Suatu hari, seorang siswa pindahan duduk di sebelahku. Ia menatap meja itu dengan alis berkerut, lalu tersenyum kecil. Ia berkata bahwa meja itu terlihat seperti menyimpan banyak rahasia. Aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa meja itu tidak ingin ceritanya diketahui sembarang orang.
Menjelang akhir tahun ajaran, sekolah mengumumkan renovasi besar-besaran. Meja-meja lama akan diganti dengan yang baru. Kabar itu terdengar biasa bagi kebanyakan siswa, tetapi bagiku terasa seperti kehilangan yang tidak siap kuterima. Aku menatap meja itu lebih lama dari biasanya, memperhatikan setiap goresan dan noda seolah-olah menghafalnya.
Pada hari terakhir sebelum liburan, aku datang lebih awal ke kelas. Ruangan masih kosong, udara pagi terasa dingin. Aku duduk di meja itu untuk terakhir kalinya dan menuliskan satu kalimat pendek di sudut yang masih kosong. Isinya bukan tentang mimpi atau keluhan, melainkan ucapan terima kasih. Aku tidak tahu mengapa aku melakukannya, tetapi rasanya perlu.
Beberapa minggu kemudian, saat aku kembali ke sekolah, meja itu sudah tidak ada. Ruang kelas terlihat lebih bersih dan rapi dengan meja-meja baru yang mengilap. Tidak ada goresan, tidak ada cerita. Aku duduk di meja baru dengan perasaan asing. Semuanya terasa terlalu sempurna, terlalu kosong.
Namun, sesuatu berubah dalam diriku. Meski meja lama itu telah pergi, cerita yang kutitipkan padanya tetap tinggal. Aku belajar bahwa tidak semua tempat hanya berfungsi sebagai benda. Beberapa menjadi saksi, tempat kita menitipkan bagian kecil dari diri kita yang tidak sanggup dibawa pulang.
Kini, setiap kali melihat meja sekolah, aku selalu teringat meja tua di dekat jendela itu. Meja yang tidak pernah berbicara, tetapi mendengarkan segalanya. Meja yang mengajarkanku bahwa kenangan tidak selalu disimpan di ingatan, tetapi juga pada benda-benda sederhana yang menemani kita tumbuh, diam-diam, tanpa meminta apa pun sebagai balasan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Lebih Dahsyat dari Haki One Piece, Fakta Covenant Imu Mustahil Dikalahkan!
-
Review Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Saat Komedi Berani Menguliti Niat Penguasa
-
4 Regenerative Cream dengan PDRN & Cica, Rahasia Glass Skin Tanpa Iritasi
-
Hanggini Umumkan Kehamilan Anak Pertama Setelah 2 Tahun Menikah
-
Dibalik Pemblokiran Grok: Mengapa Regulasi AI Sangat Penting bagi Keamanan Digital?