Bimo Aria Fundrika | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar gajah dan semut (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Di savana yang luas, hidup seekor gajah tua bernama Gara. Tubuhnya sebesar bukit kecil, telinganya lebar seperti layar kapal, tapi matanya sering kosong.

Ia berjalan sendirian, menginjak tanah tanpa peduli apa yang ada di bawah kakinya. Hewan-hewan lain menghormatinya dari jauh—takut sekaligus kagum. Tapi tak ada yang berani mendekat.

Di bawah bayang-bayang kaki Gara, hidup koloni semut kecil yang dipimpin oleh seekor semut perempuan bernama Mira.

Tubuhnya sekecil biji wijen, suaranya nyaris tak terdengar. Tapi Mira punya mimpi: membangun sarang baru di bukit kecil yang subur, jauh dari banjir musiman. Satu-satunya masalah, bukit itu tepat di jalur migrasi Gara setiap tahun.

Tahun ini, Gara datang lebih awal. Langkahnya menggetarkan tanah. Koloni Mira panik. “Kita akan hancur!” teriak pemimpin lain. Mira diam saja, lalu memanjat rumput setinggi mungkin. Ia berteriak sekuat tenaga ke arah gajah raksasa itu.

“Berhenti! Tolong dengar!”

Suara Mira hilang ditelan angin. Gara terus melangkah. Satu kaki lagi, dan seluruh koloni akan rata.

Mira tak menyerah. Ia memanjat lebih tinggi, ke daun akasia yang bergoyang. Lalu ia melompat—langsung ke belalai Gara yang sedang menyentuh tanah mencari air.

Gara terkejut. Sesuatu kecil menusuk kulitnya. Ia mengibaskan belalai. Mira terlempar, jatuh ke tanah, hampir remuk.

Tapi sebelum Gara melangkah lagi, Mira bangkit, berlari kembali, dan memanjat kaki depan gajah itu. Kali ini ia menggigit—bukan untuk menyakiti, tapi untuk bertahan.

Gara berhenti. Ia menunduk. Mata besarnya mencari-cari. Akhirnya ia melihat titik kecil bergerak di kakinya. Sebuah semut.

“Apa kau?” gumam Gara, suaranya menggelegar pelan.

Mira berteriak sekuat mungkin. “Aku Mira! Di bawah kakimu ada ribuan nyawa! Tolong mundur tiga langkah saja!”

Gara diam lama. Biasanya ia mengabaikan suara kecil. Tapi kali ini ada sesuatu—getaran di suara Mira yang membuat telinganya bergetar aneh. Ia mundur satu langkah. Tanah bergoyang. Koloni Mira bersorak.

Mira tak berhenti. “Satu lagi!”

Gara mundur lagi. Lalu lagi. Sampai ia berdiri di tempat yang aman.

Malam itu, Gara tak pergi. Ia duduk di dekat koloni semut, membentuk dinding tubuhnya menghalangi angin malam. Mira memanjat ke telinga Gara—tempat paling dekat dengan pendengarannya.

“Kenapa kau dengar aku?” tanya Mira.

Gara menarik napas panjang. “Karena kau tak berhenti berteriak. Dan karena… aku lelah tak mendengar apa pun selain langkahku sendiri.”

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Gara mulai mendengarkan. Ia menundukkan kepala setiap kali lewat koloni kecil. Mira naik ke belalainya, berbisik arah angin, tempat rumput segar, atau genangan air yang tersembunyi. Gara yang dulu menginjak tanpa pandang, kini melangkah hati-hati, mengangkat kaki tinggi agar tak merusak sarang burung atau lubang kelinci.

Hewan-hewan lain terkejut. “Gajah besar mendengarkan semut kecil?” tanya singa. “Mustahil.”

Tapi Mira menjawab, “Bukan mustahil. Hanya perlu seseorang yang berani naik ke telinga yang besar.”

Musim kemarau tiba. Air semakin langka. Savana mulai retak. Gajah-gajah lain mulai gelisah, saling berebut genangan terakhir. Gara hampir ikut bertarung—naluri lama bangkit. Tapi Mira memanjat ke telinganya lagi.

“Dengar suara yang lain,” bisiknya. “Bukan hanya suara hausmu.”

Gara menutup mata. Di antara deru angin, ia mendengar: tangis anak gajah yang tersesat, keluhan kijang yang tak bisa minum, desis ular yang kehilangan tempat teduh. Dan di bawah semua itu, suara kecil Mira:

“Kita bisa berbagi. Kau punya tenaga menggali. Kami punya kesabaran mencari celah.”

Gara mengangguk. Malam itu ia mulai menggali tanah kering dengan belalainya—dalam, dalam sekali. Semut-semut Mira masuk ke lubang, menggali lorong kecil, mencari sisa air tanah. Bersama, mereka menemukan mata air tersembunyi. Air mengalir pelan, tapi cukup untuk semua.

Hewan-hewan berkumpul. Tak ada perkelahian. Hanya antrean diam. Gajah minum dulu, lalu mundur memberi tempat bagi zebra, lalu kijang, lalu burung, lalu semut.

Gara menatap Mira yang berdiri di ujung belalainya. “Kau kecil sekali,” katanya. “Tapi suaramu lebih besar dari tubuhku.”

Mira tersenyum. “Dan kau besar sekali, tapi sekarang kau tahu cara mengecil untuk mendengar.”

Tahun berikutnya, Gara tak lagi berjalan sendirian. Di punggungnya ada sarang kecil yang dibuat semut. Mira dan koloninya tinggal di sana, menjadi telinga kedua Gara. Setiap kali ada bahaya—banjir, api, atau predator—suara kecil itu berbisik, dan Gara mendengar.

Savana berubah. Bukan karena gajah yang kuat, tapi karena gajah yang mau mendengar suara yang kecil.

Dan di ujung hari, ketika matahari tenggelam, Gara berbisik pada angin,

“Terima kasih, Mira. Kau mengajarkanku bahwa kekuatan terbesar bukan di tubuh, melainkan di telinga yang mau terbuka.”

Mira hanya menjawab pelan,

“Dan terima kasih, Gara. Kau mengajarkanku bahwa mimpi kecil pun bisa menggerakkan gunung—kalau gunung itu mau mendengar.”