Bimo Aria Fundrika | Rahel Ulina Br Sembiring
Perjamuan Sebelum Perang
Rahel Ulina Br Sembiring

Pada masa ketika berita lebih cepat berlari daripada kebenaran, dua kerajaan besar kembali saling memandang dengan mata yang dipenuhi curiga.

Kadesy, negeri batu dan mata air tua, menyiapkan perisai. Bet-Hadorim, negeri anggur dan tembaga, mengumpulkan tombak. Orang-orang berbisik di pasar dan rumah ibadah: perang akan terjadi, sebab raja-raja telah mengeras.

‎Raja Tirhaka dari Kadesy murka setelah mendengar kabar bahwa Raja Hadad dari Bet-Hadorim menolak adat lama—adat cawan persahabatan yang dahulu menjadi tanda damai di antara dua negeri.

Sebaliknya, Hadad mendengar kabar bahwa Tirhaka menuduhnya mencemari perjanjian leluhur. Keduanya merasa dihina, dan kehormatan lebih nyaring daripada ingatan.

‎Padahal pada masa ayah-ayah mereka, Kadesy dan Bet-Hadorim pernah duduk semeja. Anak-anak mereka pernah minum dari mata air yang sama. Tetapi damai yang tidak dijaga akan berubah menjadi cerita yang samar.

‎Di istana Kadesy, ada seorang juru minuman agung bernama Hananya. Ia tidak bersuara keras, namun ia mendengar dengan teliti.

Ia tahu bahwa kata-kata yang dibisikkan lebih berbahaya daripada pedang yang dihunus. Ia mulai mencium bau kejanggalan: kabar yang sama datang dari banyak arah, namun tak satupun memiliki wajah yang jelas.

‎Pada waktu itu datanglah seorang pemuda ke istana, bernama Sebna, berasal dari Negeri Zif, tanah kecil di antara dua kerajaan, tempat orang-orang hidup dari menimbang kata dan membaca arah angin.

Ayah Sebna mati dalam perang lama antara dua pihak yang bahkan tak lagi diingat alasannya. Sebna mengembara sebagai penulis dan pengamat, dan karena kecakapannya, ia diterima bekerja sementara di istana.

‎Hananya bertemu Sebna di ruang penyimpanan anggur.

Di sana, di antara bejana tua dan kendi berdebu, Sebna berkata, “Aku mendengar kabar perang di setiap sudut, tetapi tidak satu pun tahu siapa yang memulainya.”

‎Hananya mengangguk. “Berarti ada tangan yang tak ingin dikenal.”

‎Mereka mulai menyelidiki. Dari pelayan ke pedagang, dari prajurit ke juru tulis, mereka mendapati satu nama yang sering muncul: seorang utusan bayangan bernama Maresh, yang mengaku berbicara atas nama kedua kerajaan, namun selalu pergi sebelum kebenaran sempat menyusulnya. Dialah yang menabur gosip, mengeraskan hati raja dengan cerita yang dibengkokkan.

‎Hananya dan Sebna tahu, jika Maresh dibongkar secara terang-terangan, perang justru akan meledak lebih cepat. Maka mereka memilih jalan yang lebih sunyi.

‎Atas usul Hananya, diselenggarakan pertemuan terakhir sebelum perang. Satu jamuan. Satu meja. Tanpa senjata. Raja Tirhaka dan Raja Hadad datang dengan wajah tegang, dikelilingi bangsawan yang menahan napas.

‎Hananya menyiapkan minuman itu dengan tangannya sendiri: air dari mata air Kadesy dan anggur dari kebun Bet-Hadorim. Ia menuangkannya ke dalam cawan tua perjanjian, bejana yang pernah menyaksikan damai di masa silam.

‎Saat cawan diletakkan di tengah meja, bisik-bisik mulai terdengar. Kecurigaan menggantung di udara. Pada saat itulah Maresh menyelip di antara para bangsawan dan berbisik, “Jangan minum. Itu racun.”

‎Maka Sebna melangkah maju.

‎“Tuanku,” katanya, suaranya jernih namun tegas, “inilah saatnya kita berhenti mendengar suara yang tak mau bertanggung jawab.” Ia menunjuk Maresh. “Orang inilah yang menabur kabar dari satu negeri ke negeri lain. Ia berbicara atas nama tuanku, tetapi tidak pernah berdiri di hadapan tuanku.”

‎Maresh tersentak, mencoba mundur, namun mata semua orang telah tertuju padanya.

‎Sebna melanjutkan, “Jika perang terjadi hari ini, itu bukan karena perjanjian dilanggar, melainkan karena kita membiarkan dusta duduk di kursi kehormatan.”

‎Sunyi jatuh seperti debu.

‎Raja Tirhaka berdiri. Ia menatap Raja Hadad lama, lalu berkata, “Apakah engkau ingat, saudara, bahwa dahulu ayahku meminum air dari kebunmu?”

‎Hadad menarik napas dan menjawab, “Dan ayahku minum dari mata airmu tanpa rasa takut.”

‎Maka Raja Tirhaka mengangkat cawan dan berkata, “Jika damai ini racun, biarlah aku yang pertama meminumnya.” Ia minum.

‎Raja Hadad mengikutinya, dan berkata, “Lebih baik aku mati bersama kebenaran daripada hidup bersama dusta.”

‎Tidak ada yang mati. Tetapi banyak hati runtuh.

‎Maresh dijebloskan ke penjara, dan gosip kehilangan suaranya. Kedua raja berdiri dan saling mendekat. Di hadapan rakyat dan bangsawan, mereka saling bermaafan, bukan sebagai orang lemah, melainkan sebagai orang yang ingat siapa dirinya dahulu.

‎Pada hari itu, perang dibatalkan. Dan Raja Tirhaka berkata kepada Sebna, “Engkau datang sebagai orang asing, tetapi engkau pergi sebagai penjaga hikmat.” Ia mengangkat Sebna menjadi penasihat istana, bukan karena darah atau silsilah, melainkan karena keberanian berpikir.

‎Sebna menerimanya dengan kepala tertunduk.

‎Dan orang-orang berkata kemudian: bukan pedang yang menyelamatkan Kadesy dan Bet-Hadorim, melainkan kebenaran yang akhirnya berani duduk di meja raja.