Di sudut paling gelap Gua Terlarang, di antara akar-akar pohon tua yang membusuk, hidup Aragog—laba-laba raksasa yang tak pernah bicara.
Tubuhnya hitam legam sebesar keranjang anyaman, matanya delapan butir merah menyala seperti bara yang redup. Semua makhluk hutan takut padanya.
Mereka bilang ia pemakan jiwa, penjaga rahasia kematian. Tapi tak ada yang tahu: Aragog tak pernah membunuh untuk makan. Ia hanya menunggu.
Setiap malam, ketika kabut menyelimuti hutan, Aragog merangkak keluar dari gua. Bukan untuk berburu. Ia pergi ke tepi sungai kecil yang hampir kering, duduk diam di batu besar, dan mendengar.
Suara air yang tersisa, desah daun jatuh, napas hewan kecil yang ketakutan. Ia tak bergerak. Hanya mendengar.
Suatu malam, seekor anak kelinci bernama Tiko tersesat. Kakinya terluka oleh duri.
Ia meringkuk di bawah semak, menangis pelan. “Ibu… aku takut… gelap sekali…”
Aragog mendengar tangis itu dari kejauhan. Delapan matanya menyipit. Biasanya ia akan mengabaikan. Tapi malam itu, sesuatu bergetar di perutnya—bukan lapar, melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Ia merangkak mendekat. Tiko melihat bayangan raksasa itu dan langsung gemetar. “Jangan makan aku! Tolong!”
Aragog berhenti. Ia tak bicara. Perlahan ia mengangkat satu kaki depan yang panjang, menunjuk ke arah sungai. Tiko tak mengerti.
Aragog mengulangi gerakan itu, lalu mulai merangkak pergi—perlahan, memberi ruang agar Tiko bisa mengikuti.
Tiko ragu. Tapi dingin malam lebih menakutkan daripada laba-laba pendiam. Ia pincang mengikuti.
Mereka sampai di tepi sungai. Aragog naik ke batu besar favoritnya, duduk diam. Tiko meringkuk di samping batu, masih gemetar. Aragog tak menyentuhnya. Ia hanya menenun benang halus dari perutnya, membuat jaring tipis seperti selimut di atas Tiko. Jaring itu hangat, menahan angin malam.
Tiko terkejut. “Kau… tak mau memakanku?”
Aragog tak menjawab. Hanya menatap ke arah hutan gelap.
Pagi menjelang, Tiko mendengar suara ibunya memanggil. Ia bangun, selimut jaring masih melindunginya. Ia menoleh ke Aragog. “Terima kasih… Aku akan ingat kau.”
Aragog tetap diam. Tiko berlari pulang.
Kabar menyebar cepat: Anak kelinci selamat dari Aragog tanpa luka. Hewan-hewan mulai berbisik. “Mungkin ia tak sejahat itu.”
Malam berikutnya, seekor burung hantu tua datang. Sayapnya robek parah, tak bisa terbang lagi. Ia mendarat di depan Aragog dengan napas tersengal. “Aku tahu kau pendiam. Tapi aku dengar kau tak membunuh. Tolong… aku ingin mati tenang.”
Aragog menatapnya lama. Lalu ia menenun lagi—bukan jaring pembunuh, melainkan hammock halus dari sutra terkuatnya.
Ia mengangkat burung hantu itu dengan hati-hati, meletakkannya di hammock yang tergantung di antara dua akar. Burung hantu itu menutup mata, tersenyum tipis. “Akhirnya… ada yang mengerti diam itu.”
Aragog tak pergi. Ia menjaga sepanjang malam sampai burung hantu itu menutup mata untuk terakhir kali—bukan karena dimakan, tapi karena damai.
Sejak malam itu, Gua Terlarang berubah nama menjadi Gua Pelindung. Makhluk-makhluk yang sekarat, yang tersesat, yang takut mati sendirian, datang ke sana.
Aragog tak pernah menolak. Ia tak bicara, tak menuntut apa pun. Ia hanya menenun: selimut untuk yang kedinginan, hammock untuk yang lelah, jaring pengaman untuk yang jatuh dari pohon.
Suatu musim hujan deras, banjir besar datang. Air naik cepat. Banyak hewan terjebak di pohon-pohon yang hampir roboh. Aragog tak bisa berenang. Tubuhnya terlalu berat. Tapi ia tetap keluar dari gua, merangkak ke pohon tertinggi, dan mulai menenun jaring raksasa—seperti jembatan sutra dari pohon ke pohon.
Hewan-hewan kecil menyeberang satu per satu. Tiko yang dulu datang memimpin. “Ikuti aku! Aragog menyelamatkan kita!”
Saat air hampir menyentuh gua, Aragog masih menenun. Jaringnya hampir putus. Tiko berteriak, “Aragog, kau harus ikut!”
Untuk pertama kalinya, Aragog bergerak ke arah mereka. Ia melompat ke jaring terakhir, tubuh besarnya membuat jaring bergoyang hebat. Tapi jaring itu bertahan—karena ia menenunnya dengan seluruh kekuatannya, dengan seluruh kesunyian yang ia simpan bertahun-tahun.
Mereka selamat. Pagi harinya, hutan basah dan hening. Aragog kembali ke gua, tubuhnya lelah, beberapa kakinya patah. Ia duduk di sudut gelap seperti biasa.
Tiko datang lagi, membawa sehelai daun lebar berisi embun pagi. Ia meletakkannya di depan Aragog. “Kau tak pernah bicara. Tapi kau bicara paling keras lewat apa yang kau lakukan.”
Aragog menatap embun itu lama. Lalu, untuk pertama dan terakhir kalinya, ia menggerakkan rahangnya. Suara kecil, hampir tak terdengar:
“Terima… kasih.”
Satu kata. Itu saja.
Tapi kata itu cukup. Hutan tak lagi memanggilnya monster. Mereka memanggilnya Aragog si Pendengar. Dan setiap malam, ketika kabut turun, makhluk-makhluk kecil datang ke gua—bukan karena takut, tapi karena tahu: di kegelapan paling dalam, ada yang mau mendengar tanpa menghakimi, melindungi tanpa meminta imbalan.
Aragog tetap diam. Tapi diamnya kini bukan kekosongan. Diamnya adalah bahasa terkuat: bahasa kebaikan yang tak perlu kata-kata.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Kilas Balik Pertemuan Indonesia dengan para Rival di FIFA Series, Pernah Punya Kenangan Manis?
-
4 Skin Tint Vegan untuk Tampilan Glass Skin, Solusi Aman Kulit Sensitif
-
Kamera Tajam Tak Harus Mahal, Ini HP Rp 1 Jutaan dengan Kamera Terbaik 2026
-
Bikin Marah Besar, Hyoyeon SNSD Ungkap Konflik Masa Lalu dengan Para Member
-
6 Daftar Mudik Gratis Lebaran 2026 Lengkap dengan Jadwal dan Tanggalnya!