“Lima ratus ribu rupiah?”
“Baik, aku terima.”
Rusdin berlari seperti orang kesetanan dan segera meraih sepeda kumbang. Dia lalu berhenti di sebuah halte tepi jalan raya dan menaiki bus untuk pergi ke rumah sakit di Kota T, tempat di mana putrinya dirawat.
Pada tahun 1989, uang senilai lima ratus ribu rupiah adalah nominal yang sangat besar. Meski seharusnya dia mendapatkan nominal yang lebih tinggi untuk tanah luas yang dia jual barusan. Kebun, sawah, hingga tanah pekarangan di lokasi yang berbeda dia jual cepat demi mengejar perawatan putri kecilnya.
“Keadaannya memburuk,” kata Halimah, istrinya. “Dia kejang lagi.”
Wajah Halimah sembab. Pandangannya terus mengarah pada Syifa yang berusia sembilan tahun.
Tadinya, Syifa adalah bocah yang sehat, bahkan cenderung paling cerdas untuk anak seusianya. Namun, suatu ketika bocah itu mengalami kejang hebat dan terus-menerus kambuh hingga harus dilarikan ke rumah sakit kota.
Setelah beberapa hari perawatan yang menghabiskan biaya tidak sedikit, mereka akhirnya pulang. Apakah Syifa sembuh? Tidak. Dia menjadi aneh. Dia malah menjadi seperti penderita keterbelakangan mental.
“Ini uang hasil mencari pasir di sungai,” kata Rusdin singkat. “Ada info panen tebu hari ini, jadi aku akan ikut. Mungkin pulang agak malam.”
“Iya, hati-hati.”
Tadinya, keluarga Rusdin dipandang sebagai keluarga petani kaya raya di kampung. Tanahnya sangat luas, mulai dari sawah, kebun, hingga tanah pekarangan di lokasi berbeda. Selain itu, hasil panen setiap komoditas nyaris selalu surplus. Ibaratnya, mereka selalu diliputi nasib baik. Meski begitu, rumah tinggal mereka sangat sederhana. Berdinding bambu dan beralas jogan tanah sebagaimana lazimnya rumah desa pada tahun 1989.
Pada suatu hari, Rusdin mencoba merenovasi rumah. Dia ingin memiliki rumah berdinding batako demi kenyamanan keluarganya. Namun, saat fondasi mulai ditancap dan ketika ketinggian tembok batako baru mencapai satu meter, Syifa harus masuk rumah sakit.
“Ini adalah ujian hidup,” bisiknya mencoba menyemangati diri.
Rusdin tidak gengsi ketika harus bekerja lebih keras lagi. Dia adalah seorang suami dan ayah bagi keenam anaknya. Namun, ujian hidup siapa yang tahu. Tahun 1989 mungkin adalah tahun yang mengubah kehidupan Rusdin dan Halimah selamanya.
Di kala proses pembangunan rumah belum selesai, Syifa masuk rumah sakit dan menghabiskan biaya besar. Ditambah lagi hadirnya kabar duka ketika ayah Halimah, Mbah Darmo, meninggal dunia. Mbah Darmo sendiri adalah petani kaya raya yang meninggalkan tiga putri. Sayang sekali, putri sulungnya sedikit licik.
“Yu, jadi kapan warisan Bapak akan dibagi?” tanya Halimah memelas. “Mbak Yu tahu sendiri kondisiku sekarang ini. Jika boleh, aku ingin meminta tanah bagianku.”
Yu Ngariyah tersenyum picik. “Mau berapa kilo tanah yang kamu mau? Akan kubungkus menggunakan kresek.”
Halimah tercekat.
Sejak hari itu, hubungan darah Halimah dan kakak sulungnya seolah lenyap. Tidak pernah ada warisan tanah Mbah Darmo yang didapatkan Halimah. Sebab, melalui surat kuasa dan penyerahan, terdapat cap jempol Mbah Darmo yang menyatakan bahwa tanah diberikan kepada Yu Ngariyah, padahal tanpa perundingan sama sekali. Halimah mengenal sang ayah. Beliau adalah ayah yang selalu adil kepada anak-anaknya.
Semenjak itu, Halimah seperti orang gila. Dia kerap menyendiri, tiba-tiba menangis, dan meracau. Dia selalu histeris jika melihat Yu Ngariyah dan keturunannya. Orang lain bilang Halimah sudah hilang akal. Namun, Rusdin tetap berada di sisi istrinya. Dia tetap bertanggung jawab sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya.
Duka pada tahun 1989 itu kemudian ditutup dengan kematian Syifa satu dekade kemudian, tepatnya pada tahun 2000.
“Jadi, Mbah Uti sebenarnya tidak gila, Yah?” tanya Friska suatu hari.
Bahri menghela napas lelah. “Entahlah. Mungkin Mbah Uti-mu terlalu terpukul. Harta bendanya habis, ayahnya meninggal, dan dikhianati kakaknya sendiri.”
Friska mengangguk. Selama ini, dia selalu merasa aneh dengan karakter nenek dari pihak ayahnya yang sering meracau. Dan topiknya selalu sama: tentang Yu Ngariyah dan segala sesuatu yang terjadi pada tahun 1989.
“Tapi sepertinya Mbah Uti tidak sepenuhnya gila. Buktinya, dia masih sayang dan perhatian pada cucu-cucunya.”
“Memang.” Bahri menyesap kopi hitamnya. “Sebelum punya cucu pun, Mbah Uti-mu itu sudah membesarkan anak-anaknya dengan tulus. Dia sering rela berkorban agar anak-anaknya tetap kenyang dan bisa makan.”
Nyaris semua orang di desa sang nenek tahu soal kisah masa silam tersebut. Namun, di balik itu, mereka juga mengakui kehebatan Kakek Rusdin yang senantiasa setia dan keteguhan Nenek Halimah. Orang-orang juga salut pada keduanya yang tetap berdedikasi bertani dan beternak.
Kakek Rusdin dan Nenek Halimah berhasil bangkit hingga mampu membeli sebidang sawah yang dijadikan sebagai tumpuan hidup, di samping menanam sayur-mayur di pekarangan rumah dan memelihara ayam. Bantuan sosial dari negara pun dibelikan kambing dan dipelihara hingga menjadi belasan ekor.
Namun, Nenek Halimah tetap sama. Kebenciannya pada Yu Ngariyah hingga keturunannya terus berlanjut. Dia memang diam, tetapi semua orang tahu kebenciannya sangatlah dalam. Bahkan sewaktu Yu Ngariyah meninggal pada tahun 2019, Nenek Halimah tidak menampakkan muka. Kebenciannya mungkin masih tersisa sampai sekarang.
“Daripada gila, itu lebih ke depresi, sih,” tutur Friska. “Cobaannya terlalu berat.”
Bahri tersenyum simpul. “Makanya, jangan terlalu bangga dengan apa yang kamu genggam. Jika dikehendaki, semuanya bisa lenyap dalam sekejap mata.”
Sepertinya benar. Di dunia ini tidak ada yang abadi. Bahkan setelah berpuluh-puluh tahun berjalan bersisihan, bersama dalam suka dan duka, Kakek Rusdin meninggal dunia pada tahun 2021. Beberapa menit setelah Nenek Halimah membawa pulang setandan pisang yang baru saja mereka panen dari pekarangan rumah.
Sekali lagi, dunia Nenek Halimah terasa runtuh.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Bye Kusam! 4 Cleanser Glycolic Acid Angkat Sel Kulit Mati untuk Kulit Cerah
-
4 Pelembap Lokal Madecassoside Atasi Redness dan Dehidrasi Kulit Sensitif
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Digelar di Tokyo, Crunchyroll Anime Awards Edisi ke-10 Hadirkan 32 Kategori
-
4 Ide Outfit Rok ala Wonyoung IVE yang Super Aesthetic dan Girly!