Bully atau perundungan ternyata sudah ada sejak dulu. Di sekolah dan di kampus, pelakunya bukan hanya sesama murid atau mahasiswa. Namun guru dan dosen juga.
Beberapa kali saya pernah mendengar curhatan tentang mahasiswa tingkat akhir yang diragukan kemampuannya, direndahkan, dianggap tidak kompeten, dan cibiran verbal lainnya.
Ini tidak hanya menimpa mahasiswa S1 tapi bahkan juga S2. Dulu sekali, di tahun 2000-an atau saat istilah bully belum se-ngetrend sekarang. Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ini termasuk bully di lingkup pendidikan.
Guru dan dosen yang seharusnya membimbing murid dan mahasiswanya justru menjadi luka dan trauma tersendiri bagi anak didiknya. Bukannya merangkul, saat anak tidak bisa justru dianggap bodoh, tidak berbakat, tidak bisa apa-apa, atau berotak kosong.
Awalnya, kalimat ini memang menyakitkan. Namun sebagian orang mungkin berpikir, ini adalah cara guru atau dosen untuk membentuk mental agar anak didiknya kuat menahan cibiran. Namun tanpa kita sadari, ini adalah sesuatu yang salah.
Buruknya, ini terjadi selama bertahun-tahun karena di tahun 2000-an, isu tentang kesehatan mental dan bullying belum semasif sekarang. Sehingga banyak yang tidak paham kalau ini berbahaya bagi sebagian anak didik yang terus direndahkan secara verbal.
Bahkan, ada yang menyimpan trauma itu hingga bertahun-tahun pasca kelulusannya. Namun walau di era digital ini isu ini sudah semakin masif, mengubah kultural pendidikan memang tidak semudah membalik telapak tangan dan bully itu masih ada.
Padahal, seperti yang kita semua tahu, banyak anak yang salah jurusan karena kondisi tertentu. Sehingga wajar bila ia tidak maksimal di sekolah atau di kampusnya. Karena merasa jiwanya tidak hadir saat belajar.
Lalu di saat sedang berjuang untuk tetap mampu melalui hari tidak nyaman dalam belajarnya, ia justru mendapat bully secara verbal. Belum lagi tekanan dari keluarga bila ia tidak mencapai standar tertentu saat pembagian rapor atau mendapat ipk tertentu.
Rasanya semakin nyesek.
Jadi saya rasa, bully ternyata telah menyusup sejak lama di berbagai lapisan masyakat. Bukan hanya antar teman sebaya atau senior dengan junior, tapi bahkan antara guru atau dosen dengan murid-muridnya.
Miris sekali.
Baca Juga
-
Kisah Relawan Kebersihan di Pesisir Pantai Lombok
-
Viral Tumbler KAI: Bahaya Curhat di Medsos Bagi Karier Diri dan Orang Lain
-
Ricuh Suporter Bola hingga War Kpopers, Saat Hobi Tak Lagi Terasa Nyaman
-
Budaya Titip Absen: PR Besar Guru Bagi Pendidikan Bangsa
-
Bukan Cuma Guru Honorer, Freelancer Nyatanya Juga Tak Kalah Ngenes
Artikel Terkait
-
Rentetan Bullying Hingga Kekerasan di Sekolah, Bagaimana Peran Pendidik?
-
Memberdayakan Siswa sebagai Agen Perubahan melalui Mentor Sebaya
-
Akar Masalah Bullying: Sering Diabaikan, Lingkungan, dan Psikologi Keluarga
-
Ada Peran Orang Tua Cegah Potensi Anak Jadi Pelaku Bullying, Ajarkan Empati!
-
Bongkar Luka Bullying: Belajar dari Drama 'The Glory' dan Realitas Saat Ini
Kolom
-
Tambang Ilegal: Ketika Alam Dikeruk dan Hukum Dipinggirkan
-
Mengapa Bank Indonesia Harus Dijaga dari Intervensi Politik?
-
Self-care Bukan Selfish: Belajar Merawat Diri Tanpa Merasa Bersalah
-
Polemik Anies dan Kemenhut: Benarkah Negara Memfasilitasi Perusakan Hutan?
-
Ironi Prioritas: Saat Program MBG Menggeser Martabat Guru dan Nakes
Terkini
-
4 Serum Polyglutamic Acid untuk Hidrasi Intensif dan Perkuat Skin Barrier
-
4 Drama Kolaborasi Artis Korea dan Jepang yang Tayang di Netflix
-
500 Days of Summer: Mengapa Cinta Saja Tidak Pernah Cukup
-
Cha Eun Woo ASTRO Diselidiki Dugaan Penggelapan Pajak, Fantagio Buka Suara
-
5 Body Lotion Susu Kambing, Bikin Kulit Auto Cerah dan Lembap