M. Reza Sulaiman | Hafsah H.
Ilustrasi Mendengarkan Radio (Gemini AI)
Hafsah H.

Di sebuah rumah sederhana, Alif duduk di teras sambil menatap ijazah SMA-nya. Aroma tanah basah setelah hujan sore itu seolah-olah mengejek mimpinya yang pupus. Teman-temannya sibuk mengunggah foto kartu tanda mahasiswa, sementara Alif harus menelan kenyataan pahit: ayahnya baru saja terkena PHK, dan tabungan pendidikan yang selama ini dicicil ibunya ludes untuk biaya pengobatan nenek.

"Kuliah itu bukan satu-satunya jalan untuk sukses, Lif," hibur ibunya malam itu. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Sulastri juga sedih karena anak sulungnya tidak bisa lanjut berkuliah.

Alif hanya diam. Dia merasa terjebak dalam labirin kemiskinan yang seolah-olah tidak memiliki pintu keluar. Namun, beberapa hari setelahnya, segalanya berubah saat dia mendengarkan lagu D'MASIV dari radio tua bapaknya. Sebuah lagu mengalun lembut, dimulai dengan denting gitar yang emosional.

"Tak ada manusia yang terlahir sempurna... jangan kau sesali segala yang telah terjadi..."

Lagu "Jangan Menyerah" dari D’MASIV itu seolah-olah membedah dadanya. Rian, sang vokalis, menyanyikan baris demi baris yang terasa seperti surat pribadi untuk Alif. Sore itu juga, Alif membulatkan tekad. Dia tidak akan membiarkan kemiskinan membuatnya patah semangat. Meski berasal dari desa, Alif juga ingin melihat dunia, dan dia ingin bertemu dengan band kesayangannya itu di Jakarta. Alif mendadak yakin bahwa jalan untuk sukses masih terbuka lebar walau ia tidak sempat mencicipi bangku kuliah.

Dengan tas ransel usang dan uang hasil menjual satu-satunya sepeda miliknya, Alif menginjakkan kaki di Terminal Pulo Gebang. Jakarta menyambutnya dengan hawa panas yang menyesakkan dan debu yang menempel di pori-pori. Namun, bayangan bisa menonton konser D’MASIV atau setidaknya berdiri di depan kantor manajemen mereka membuatnya tetap tegak.

Namun nyatanya, menaklukkan Jakarta tidak semudah lirik lagu. Bulan pertama adalah neraka bagi Alif. Dia sempat tidur di masjid dan hanya mampu membeli nasi bungkus untuk makan. Lalu siangnya, ia menyusuri aspal panas demi membagikan CV yang dicetak dengan sisa uang terakhirnya.

"Kamu punya pengalaman?" tanya seorang pemilik toko kelontong di Tanah Abang.

"Belum, Pak. Tapi saya jujur dan mau belajar," jawab Alif gemetar.

"Jujur tidak kenyang, Dek. Saya butuh yang cepat kerja."

Penolakan demi penolakan menghantamnya. Puncaknya terjadi saat Alif benar-benar kehabisan uang. Namun, wajah sang ibu terbayang dalam benaknya. Alif merasa malu jika dia harus menyerah sekarang. Jika orang lain bisa bertahan hingga akhirnya sukses, maka dengan sisa motivasi dalam dirinya, dia pun yakin bahwa dia juga pasti bisa sukses di ibu kota.

Keberuntungan kecil datang saat sebuah perusahaan distribusi alat tulis kantor menerimanya sebagai Office Boy (OB). Pekerjaannya berat; dari membersihkan toilet yang baunya sangat menyengat, membuatkan minuman untuk orang satu kantor, hingga ke lokasi proyek untuk disuruh ini dan itu. Namun, masalah sebenarnya bukan pada beban kerjanya, melainkan pada haknya. Pak Baskoro, bosnya, adalah tipe pria yang gemar memamerkan kemewahan tetapi selalu "lupa" bahwa karyawannya butuh makan.

"Pak, maaf, gaji saya sudah terlambat dua minggu. Saya mau kirim uang untuk ibu dan adik-adik saya di kampung," ujar Alif suatu sore dengan suara penuh rasa sungkan.

Pak Baskoro bahkan tidak menoleh dari layar ponselnya. "Sabar, Lif. Bisnis lagi seret. Kamu kan masih muda, masa tidak punya simpanan?"

Simpanan apa? Untuk makan di warteg dua kali sehari saja Alif harus menghitung recehan di saku celananya. Di malam-malam penuh lapar itu, Alif hanya bisa menyumbat telinganya dengan earphone murah, mendengarkan lagu "Merindukanmu" atau "Cinta Ini Membunuhku".

Musik D’MASIV masih menjadi satu-satunya pelarian yang gratis bagi pemuda itu. Dia berjanji pada diri sendiri, suatu saat dia tidak hanya akan mendengarkan suara mereka secara langsung, tetapi akan berjabat tangan dengan mereka sebagai pria yang sudah "jadi".

Beruntung, dalam hitungan bulan sejak menginjakkan kaki di Jakarta, Alif sudah bisa bertemu dengan sang idola. Pertemuan demi pertemuan dengan sang idola di berbagai acara musik ini semakin memantik semangat dalam diri Alif meskipun ia kerap berulang kali merasa down.

Tiga tahun Alif bertahan dalam lingkaran setan tersebut. Tiga tahun dia menjadi saksi bagaimana keringatnya sering kali tidak dihargai dengan semestinya. Namun, di tengah kepahitan itu, dia bertemu Sarah. Pelayan di kedai kopi dekat kantor Alif itu berhasil menggetarkan hati sang OB. Dia gadis sederhana yang tidak keberatan diajak kencan hanya dengan duduk di taman kota sambil berbagi satu botol minuman dingin. Sarah adalah alasan Alif tetap waras.

"Kamu pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Lif. Daripada gajiannya suka menunggak terus. Belum lagi kena marah kalau dinilai kerjaan tidak benar. Padahal Pak Joko yang salah kasih instruksi," kata Sarah suatu hari saat Alif bercerita tentang gajinya yang kembali dipotong secara tidak jelas.

"Kamu rajin, kamu tahu jalanan Jakarta di luar kepala karena sering disuruh-suruh bosmu. Kenapa tidak coba jadi kurir?"

Dorongan Sarah menjadi pemantik. Setelah mengalami pergolakan batin, Alif akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri (resign) dari tempat Pak Baskoro tanpa dendam. Beruntung, transferan gaji bulan terakhirnya tidak terlambat.

Setelahnya, dia melamar ke sebuah perusahaan ekspedisi besar yang sedang berkembang pesat. Berbekal kejujuran dan ketangguhannya selama tiga tahun menjadi OB, Alif diterima sebagai kurir motor. Pekerjaan ini tidak mudah. Dia harus bertarung dengan hujan badai, alamat yang tidak ditemukan, hingga pelanggan yang tidak mau membayar COD. Namun, Alif lebih menikmatinya dibandingkan saat dulu menjadi OB.

Mengapa? Karena di sini, setiap tetes keringatnya dihitung secara profesional. Ada bonus setiap kali dia mencapai target pengiriman. Setahun menjadi kurir, Alif sudah bisa menabung—hal yang dulu sulit untuk ia lakukan. Dia tidak lagi makan mi instan di tanggal-tanggal tua. Dia mulai bisa mengirim uang ke desa untuk memperbaiki atap rumah ibunya yang bocor. Dan yang paling penting, dia akhirnya memiliki tabungan untuk segera melamar Sarah.

Malam itu, di bawah lampu panggung yang menyilaukan, Alif berdiri di tengah kerumunan. Saat intro lagu "Jangan Menyerah" berkumandang, air matanya jatuh tanpa permisi. Dia bukan lagi anak SMA yang putus asa di teras rumah desa. Dia adalah Alif, pria yang berhasil menaklukkan kerasnya Jakarta dengan kakinya sendiri.

"Terima kasih, Bang," ucap Alif singkat saat bersalaman dengan Rian di belakang panggung. "Lagu kalian menyelamatkan hidup saya saat saya tidak punya apa-apa."

Rian tersenyum, menepuk bahu Alif dengan ramah. "Terus semangat, Bro. Sukses buat kerjanya."